Selepas Shofa Mengejar Marwah

Semangat Pagi! Pembaca BJS, pasti sudah sering mendengar istilah Bukit Shofa dan Bukit Marwah di Mekkah, bukan? Dua buah bukit yang menjadi rukun bagi umat Islam ketika melakukan ibadah Haji/umrah yang bernama Sa’i. Jamaah haji/umrah harus berlari-lari kecil dari bukit Shofa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali bolak-balik. Sementara dua bukit ini berjarak kurang lebih 450 meter.

Ahh! Aku mendambakan bisa melakukan rukun haji / umroh tersebut langsung di tanah Mekkah itu. Meskipun ceritaku kali ini bukan membahas soal rukun islam kelima ini, namun ketika mendengar satu nama dari seorang teman perempuanku ini aku begitu saja mengingat akan dua bukit yang memiliki kedekatan dengan umat Islam tersebut.

Tulisanku kali ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Athifah Nurshafa’. Memiliki nama panggilan Sofa. Yang mungkin kalau ditulis bisa jadi Shofa. Semacam itu lah yang akan aku gunakan dalam menggambarkan dirinya pada tulisanku ini.

Shofa, perempuan belia berusia 22 tahun. Baru saja lulus Sarjana pada rumpun ilmu Manajemen di Universitas Telkom Bandung. Ia adalah adik tingkatku (yang begitu jauh) pada almamater Universitas Telkom. Seorang perempuan tangguh yang semasa kuliahnya pernah menjabat Wakil Ketua BEM di tingkat Universitas. Memiliki wawasan yang luas dan aktif dalam kegiatan sosial lainnya.

Sejak 4 bulan terakhir ini, Shofa bergabung di Tim Big Data, PT Metra Digital Media. Tempatku dan teman-teman lainnya bekerja. Perempuan berukuran baju “M” ini menjadi The Apprentice untuk departemen Big Data Analytic.

Hingga pada tanggal 31 Mei 2017 menjadi hari terakhir masa kerjanya di kantor ini. Dan ia pun memutuskan untuk melanjutkan misinya mencari pengalaman di ‘kolam’ yang lebih besar lainnya. Shofa menghabisi masa kontraknya dengan gembira.

Tapi tidak seperti ini ceritanya. Bagian tersebut di atas hanya menggambarkan profil seorang Shofa. Dan bagaimana ia hadir di lingkungan kerjaku sampai kemudian muncul dalam ceritaku kali ini. Di mana penggambarannya dalam barisan kalimat ini sebenarnya tidak cukup mampu menceritakan apa yang aku bisa pelajari dari dirinya meski pertemuannya sesingkat perjalanan ulat menjadi kupu-kupu.

Aku mungkin masih ingat bagaimana hari pertamanya di kantor dan aku merasa ada sesosok perempuan memerhatikanku dari kejauhan ketika kita berjalan menuju berpapasan. Aku menyengaja tidak menoleh karena memang di hari itu tidak ingin berusaha tertarik dengan seklilingku. Meskipun ada perasaan yang kuat bahwa ada yang sedang memerhatikanku.

Sampai akhirnya perempuan yang aku lihat memakai jaket corak kecokelatan itu duduk di sebelah Aulia (teman kantorku yang paling berjasa), aku begitu saja ingat bahwa inilah yang memerhatikanku saat di kejauhan tadi. Inilah perempuan yang rupanya ingin aku menolehnya namun aku tidak ingin memerhatikan sekelilingku. Inilah Shofa, yang kemudian menjadi rekan satu Tim di Divisi Big Data.

(Baca Juga: Skenario Tuhan di Kebon Sirih)

4 bulan berkomunikasi dengan Shofa, cukup banyak hal menarik yang aku dapatkan. Sosoknya yang terbuka dan ceria mudah bagi orang untuk mengenalnya dan memulai cerita bahkan ketika percakapan verbal belum dimulai. Seorang teman yang pandai diajak berdiskusi dan menghargai perbedaan pendapat meskipun ia yang benar.

Terutama ketika mengetahui ia memiliki ketertarikan untuk bertemu dengan banyak orang dan membagikan sebuah pengalaman atau pelajaran. Di mana hal ini begitu sama dengan yang diriku. Jika dalam bidang komunikasi, dengan adanya persamaan referensi dan pengalaman seperti ini, komunikasi yang terjalin akan menghasilkan efektivitas yang besar. Dengan komunikasi yang efektif tersebut, segala pembicaraan akan dapat mengalir seperti aliran sungai ciliwung.

Dalam bergaul di lingkungan kerja, bisa dikatakan umurnya adalah termuda di antara kami. Bayangkan saja di dalam satu divisi rentang usia kami berkisar 20-an tahun. Di mana Shofa dan beberapa orang teman menempati usia paling muda yaitu 22 tahun. Terpaut 3 tahun lebih muda dari diriku. Namun dalam pembawaannya, ia bisa berbaur dan mudah untuk mendapatkan teman.

Ia juga memulai wirausaha dengan membuka toko daring. Meski terhitung baru, namun aku melihat semangatnya yang menyala. Bahkan sampai aku menyimpulkan bahwa Shofa sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi “The Maker” pada pencapaiannya di masa yang akan datang.

Beberapa memori tersebut tentang Shofa sepertinya masih kurang untuk diceritakan. Karena memang untuk mendapatkan cerita utuh dari sebuah kehidupan, paling tidak kita harus bersamanya selama 1 tahun.

Namun kini Shofa memilih untuk melanjutkan hidupnya. Ia akan kembali ke Bandung dan menjadi Digital Marketer di sana. Tentunya aku berharap yang ia pilih adalah titian yang benar. Di mana dirinya benar-benar bisa berkembang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dirinya.

Selamat datang di dunia sesungguhnya, Shofa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s