Menuju 365 Hari Berkarir

Semangat Pagi! Aku masih ingat baunya asap kendaraan di Ibu Kota Jakarta pada hari pertama bekerja di kota ini. Bahkan, suara raungan mesin diesel Bus TransJakarta Koridor 9 yang aku naiki untuk menuju kantor di Pancoran itu masih bernyanyi di pikiranku. Lantunan klakson yang memantul di antara dinding kolong jembatan tol di sekitar Patung Pancoran, saat aku turun di Halte Busway itu pun masih aku ingat di hari pertama aku berstatus sebagai karyawan MD Media (PT Metra Digital Media, Group of Telkom).

Hal yang menarik adalah gambaran peristiwa di atas ternyata masih dan mungkin akan terus aku ingat. Karena sampai saat ini perisitiwa serupa itu pun masih tetap terjadi. Momen-momen tersebut bisa ditemui setiap saat terutama pada pagi hari saat hiruk pikuk menjelang jam bekerja dimulai. Sampai dengan sore hari ketika kaum-kaum buruh intelektual ini pulang menuju rumah singgasananya masing-masing.

Persepsi bahwa macet adalah momok yang menakutkan ketika berada di lalu lintas Ibu Kota, kini malah menjadi bagian tidak terpisahkan dari cerita hidup para pelaku urban. Melihat kendaraan yang saling membuntut dan tersendat-sendat di persimpangan lampu pengatur lalu lintas itu adalah pemandangan yang indah dan menjadi bingkai dalam ingatan di kepala. Terutama bagiku.

Tidak jarang pula melihat orang-orang yang saling beradu urat akibat spion kendaraan mereka yang saling bersinggungan. Padahal tidak sampai merugikan materi yang begitu besar. Atau penyeberang jalan yang harus berbagi zebra cross dengan motor-motor yang entah mengapa saling berebut posisi terdepan di persimpangan jalan tersebut.

Ahh! Sejenak mengenang semua yang tersimpan dalam ingatan ini begitu indah. Aku mengambil sikap untuk menerima karena memang inilah hidup yang sedang aku jalani. Bahwa secuil kisah di jalan raya itu adalah coretan cerita yang mewarnai hari-hariku bekerja menuju 365 hari ini.

Dinamika yang aku alami selama hampir 1 tahun di sini cukup menarik. Dalam kurun waktu tersebut aku sudah 2 kali mengalami pergantian posisi. Ini karena tuntutan manajemen yang sedang mengubah struktur perusahaannya. Sehingga penyesuaian menyeluruh dari level atas sampai level ‘kroco’ sepertiku perlu dilakukan. Aku menjalaninya dengan riang.

Saat cerita ini dituliskan, aku menempati posisi sebagai Staf dengan nama jabatan Quality Service Officer dan berstatus karyawan Out Sourcing. Aku berada di bawah komando Manager Big Data Operation dan bertugas untuk melakukan operasional proyek yang melibatkan divisi Big Data. Selain itu juga mengurusi dokumentasi proyek. Sebagai sedikit pengantar, Divisi Big Data di MD Media ini memiliki 3 departemen. Mereka adalah Departemen Big Data Analytic, Departemen Big Data Production, dan Departemen Big Data Operation.

Betul sekali, Big Data menjadi ‘lahan bermain’ -ku yang menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi. Berpengalaman kerja sebagai Public Relations dan pernah menjadi Social Media Admin. Pada saat kuliah lebih banyak berorganisasi dan memiliki kerja sampingan mengelola Sanggar Tari Adat Gorontalo.

Semuanya biasa saja sampai beberapa orang teman bertanya: “Apa Korelasi Latar Belakang Ilmu Komunikasi Dengan Bidang Kerja Yang Dijalani Saat Ini?”. Bahkan ada yang menyinyir, “Jauh sekali ya memutar haluannya”.

Aku berusaha tidak menggubris nyinyiran tersebut. Karena pada kenyataannya aku bahagia dan merasa memiliki tantangan dalam melakukan pekerjaan yang diberikan padaku. Namun ketika sepi menghampiri, entah mengapa aku ingin sekali menjawab pertanyaan tersebut.

Beberapa lama aku merenung, memang tidak ditemukan bagaimana cara menjawabnya. Sampai suatu ketika, pada sesi ‘Leaders Talk’ yang dilakukan secara internal Divisi Big Data, aku mendapatkan jawabannya. GM Divisi Big Data saat itu mengatakan bahwa seorang ilmuwan Big Data pada era sekarang perlu memiliki 3 kemampuan. Yaitu kemampuan statistik/analisa, kemampuan teknikal, dan kemampuan berbisnis.

Pada penjabarannya, atasanku itu menjelaskan bahwa yang dimaksud kemampuan dalam bidang bisnis adalah bagaimana cara berkomunikasi kepada audien calon customer yang potensial. Tetiba saat itu aku merasa bergairah untuk mendengarkan lebih lanjut. Dan benar saja materi yang disampaikan sangat tepat untuk menjawab kegelisahanku akan pertanyaan tadi.

Aku simak betul-betul inti dari kemampuan berbisnis seorang Big Data Scientist yang dimaksud. Dan dengan membandingkan dengan apa yang aku miliki, aku merasa masih dalam jalan yang benar. Maksudnya tidak seperti apa yang disampaikan beberapa teman dengan nyinyirannya bahwa bidang kerjaku terlalu jauh dari disiplin ilmu yang aku miliki. Hal ini aku praktikan pada setiap kegiatanku dalam bekerja sebagai staf operation.

Contohnya pada saat berhubungan dengan klien, diperlukan komunikasi yang cakap agar tercipta iklim proses after sales service yang memuaskan. Tujuannya bukan lain adalah kepuasan. Ini yang dikejar oleh perusahaan sambil terus meningkatkan performa delivery layanan sebagai KPI (Key Performance Index).

Bahkan kemampuan menulis juga diperlukan pada bidang pekerjaan ini. Laporan pekerjaan yang jatuh pada periode waktu tertentu ternyata cukup menguras pikiran. Karena kita dihadapkan pada 2 bahasa yang cukup berbeda jauh. Kita harus mengolaborasikan bahasa teknis pada pekerjaan, dengan bahasa laporan yang mudah dimengerti dan dipahami oleh orang awam. Kemampuan menulis di sini jelas dituntut untuk dimiliki.

Aku tidak menyebutkan diriku adalah seorang Big Data Scientist yang ahli, tapi aku hanya menilai kemampuan diriku sendiri. Layakkah aku di bidang ini, atau apakah aku bisa memberi manfaat bagi lingkunganku. Karena ini semua berhubungan dengan nilai fundamental di dalam diriku saat memutuskan bekerja, yaitu niat.

Aku masih ingat ketika atasanku saat ini bertanya pada waktu interview dahulu tentang hasrat ku dalam berkarir. Bagaimanakah diriku dalam memandang karir dalam pekerjaan. Jawaban yang begitu saja keluar dari mulutku adalah bahwa aku bekerja untuk tujuan ibadah.

(Baca juga: Skenario Tuhan di Kebon Sirih)

Dalam praktiknya, ibadah dalam bekerja memiki banyak definisi. Belajar hal baru dalam pekerjaan bisa disebut ibadah. Mengamalkan ilmu tersebut juga ibadah. Bahkan mengajarkan atau membagikan ilmu yang didapat itu juga salah satu bentuk ibadah dalam bekerja. Seperti itulah yang aku coba pahami dan mengamalkannya dalam hidup.

Pada akhirnya, satu hal yang pasti dapat aku refleksikan hari ini, adalah jangan terlalu fokus mengejar idealisme dalam hidup. Karena idealisme itu kebanyakan berhubungan dengan hal-hal dunia. Lebih baik introspeksi pada niat kita dalam memutuskan untuk menjalani hidup.

Karena hari-hari ini terus menghitung maju dan tidak mungkin pernah kembali. Ketika nanti akan lewat 365 hari, 700 hari, atau ribuan hari kemudian, aku ingin tetap menciptakan manfaat. Minimal bagi diriku, bahkan juga bagi orang lain di sekitarku. Selamat memasuki usia 1 tahun kerja, Donie Hulalata. (*)

Advertisements

2 thoughts on “Menuju 365 Hari Berkarir

  1. Dulu aku liat di timeline Bang Don ada foto seminar/workshop tentang big data, waktu itu aku ngerasa kerjaan bang don keren banget.

    Apalagi di era modern gini, bisnis big data itu lagi bagus2nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s