Kirana Wulandari (Bagian 2)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu,

Apa kabar kamu di sana, wahai calon ibu dari anak-anak soleh/solehahku?

Aku berharap pada Allah semoga senantiasa dirimu baik-baik saja, tidak kurang satu apapun. Aamiin.

Bolehkah malam ini aku menceritakan kerinduanku padamu? Meski aku tahu adalah hal yang mustahil menuliskan kerinduan pada orang yang bahkan menatap wajahnya saja belum pernah. Tapi kamu harus tahu, perasaan ini mirip sekali dengan perasaan rindu pada orang yang lama tidak bertemu.

Surat terbuka ini adalah yang kedua kalinya aku sebarkan pada semesta maya. Berharap satu dari jutaan kemungkinan di Indonesia, adalah dirimu. Diri yang nantinya akan bersanding denganku di pelaminan. Diri yang nantinya setiap hari akan mendengar curhatan konyolku ini.

(Baca juga: Kirana Wulandari)

Aku rindu, menemukan ‘kamu’ dalam setiap perkenalan yang aku lakukan dengan wanita-wanita di sini. Berharap kamu itu adalah satu dari mereka yang aku ceritakan siapa diriku padanya. Bahkan aku pernah sampai merasa yakin terhadap satu wanita yang aku temui dalam sebuah pertemuan tidak sengaja. Awalnya aku kira dia itu adalah kamu.

Wahai calon bidadariku, wanita ini begitu sederhana. Pekerja keras dan siap menikah. Agamanya bagus dan aku yakin padanya. Aku ajak dia menikah karena ‘tantangannya’ yang menenakankan untuk tidak mau berhubungan jika hanya sebatas teman. Maka aku terima tantangannya tersebut. 5 bulan pertama kami pendekatan, aku persilakan dia mengenal diriku dan keluarga besarku. Begitu pun sebaliknya aku meminta ijin untuk mengenal dirinya dan keluarga besarnya.

Masih dalam rangka aku berharap dia itu adalah kamu, aku makin yakin padanya. Ku susun rencana begitu matang untuk pernikahanku kelak dengannya. Kamu tahu? Aku orangnya begitu detil untuk berbagai keperluan. Apa lagi ini adalah pernikahan yang dengan ijin Allah, hanya akan terjadi satu kali dalam seumur hidupku. Maka aku harus mempersiapkannya masak-masak.

Kusebut namanya dalam doa, sujud, dan setiap tarikan nafas mengucap asma-Nya. Hampir seluruh amalan yang diajarkan ustadz aku praktikan. Sampai-sampai aku datang ke orang tuaku untuk meminta restu mereka. Aku tetap yakin, dia itu adalah kamu.

Duhai calon teman hidupku, kamu tahu apa yang kemudian terjadi saat rencanaku selanjutnya adalah menemui walinya?

Keyakinanku mendadak runtuh. Hancur berkeping seperti cermin yang pecah terbanting. Kala dia menyatakan mundur dari rencana pernikahan yang kita bangun bersama. Tidak ada alasan logis yang diberikan sampai-sampai jin dan setan itu menggodaku untuk berprasangka buruk. Astaghfirullahaladziim.

Tapi kasih sayang Allah SWT begitu luas. 1 bulan aku mencari jawabannya tetap saja tidak ketemu. Sampai aku mendapatkan berita ia akan melangsungkan pertunangan dengan laki-laki yang adalah temannya sendiri dalam sebuah komunitasnya. Aku terkejut saat itu. Berpikir bahwa godaan jin dan setan tempo hari bisa saja benar. Namun aku menolaknya untuk mempercayai godaan tersebut.

Wahai wanita yang akan menjadi istriku kelak, ternyata perempuan itu bukan kamu yang aku cari. Ternyata harapanku salah karena meletakannya pada selain Allah Sang Pemilik Hati. Ternyata perempuan itu adalah jodoh orang lain. Subhanallah!

Malam ini aku menulis kerinduanku tepat di masa-masa bulan bersinar indah menjadi Kirana Wulandari. Saat yang hampir sama pada waktu aku menulis kerinduanku padamu dahulu, setahun yang lalu. Namun malam ini hujan turun menemani tulisanku padamu.

Aku ingin bertanya, jika diberi kesempatan oleh-Nya untuk berbicara padamu. Di manakah dirimu saat ini, wahai perempuan berkerudung yang pipinya kemerah-merahan?

Sampai nanti aku benar-benar menemukanmu dalam istikharah, dan setiap doa yang ku lafalkan, tolonglah untuk tetap menjaga hati dan dirimu. Seperti aku yang menjaganya untukmu. Aku tahu ini begitu berat, tapi tetaplah istiqomah.

Supaya frekuensi kita tetap sama. Supaya kita bertemu lagi kedua kalinya dalam istikharah. Sampai kita bertemu ketiga kalinya dalam perkenalan. Kemudian keempat kalinya dalam khitbah. Dan kelima kalinya dalam akad nikahku pada walimu. Hingga kita selamanya bertemu. Insya Allah.

 

Ditulis di Bekasi, 7 Maret 2017.

Advertisements

One thought on “Kirana Wulandari (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s