Jika Mitos Itu Benar

Bukan Jurnal Sejarah, Bekasi – Hari Minggu di awal Bulan September yang indah ini, Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk berkebun. Rumah di kawasan Jati Asih yang aku dan kakakku beserta keluarganya tinggali ini tumbuh pohon mangga yang mulai menjulang tinggi. Sudah hampir 3 meter tingginya dan membuat terlalu rindang halaman di bawahnya.

Sebelumnya, tepat 3 minggu yang lalu, ketika itu mamah datang dari Cilacap ke Bekasi untuk sebuah acara keluarga. Pagi-pagi di teras rumah kala itu, mamah berpesan untuk memangkas si Pohon Mangga tersebut. Kata mamah karena itu sudah terlalu tinggi dan bentuknya kurang bagus jika dipandang dari kejauhan.

Selain itu mamah juga memintaku merapikan pohon melati yang melingkari pagar rumah. Karena tumbuhnya sudah mulai tidak beraturan. Sekali lagi mamah meminta untuk dipangkas batang-batang pohon yang tumbuhnya tidak rapi.

Dasar anak yang masih terlalu bersemangat bekerja saat weekday, baru di waktu akhir pekan kali ini aku baru bisa mengerjakan pesan mamah tersebut. Maka terjadilah aku di awal Bulan September ini berkebun mengerjakan pesan mamah. Beruntung di rumah ini sudah dibekali gergaji, tangga, dan peralatan tukang dan berkebun lainnya oleh papah.

Kegiatan berkebun pun aku mulai seperti biasa. Diawali dari yang mudah yaitu memangkas dan merapikan pohon melati di pagar rumah. Ditemani lagu-lagu yang ada di smartphone-ku, Minggu pagi ini terasa bahagia. Bahkan, obrolan ringan dengan di si Behel melalui aplikasi Whatsapp sukses melengkapi kebahagiaan berkebunku di hari Minggu pagi ini.

Aktivitasku berkebun kali ini diwarnai sedikit drama yang terjadi. Ini dimulai ketika aku menebang pohon mangga yang terlalu tinggi itu. Serbuk kayu dari batang pohon mangga yang tertinggal di gerjaji mendadak jatuh ke dalam mataku. Padahal saat itu kakiku hanya bertumpu pada tangga yang ujungnya menjadi harapan hidupku pagi ini.

Rasanya kelilipan debu mungkin terasa perih. Namun jika kelilipan debu, kita cuci dengan air saja cukup untuk menghilangkan debu tersebut. Tapi yang terjadi padaku ini adalah serbuk kayu yang terpisah-pisah. Perihnya bukan main, dan tidak bisa sekedar dicuci oleh air. Mataku mulai merah karena reaksi alami mata ketika ada benda asing masuk ke dalam kelopak mata itu.

Sampai pada akhirnya, drama ini berakhir dengan cara aku beranikan diri menahan perih ketika pelan-pelan aku usapkan tisu mengambil serbuk kayu tersebut. Memang benar, perihnya masih bisa aku rasakan bahkan saat menulis tulisan ini. Ketika drama ini berakhir, aku melanjutkan kegiatan berkebunku. Menebang kembali batang pohon terakhir yang masih menjulang.

Sampai di sini, kegiatan berkebun ternyata belum selesai. Batang pohon dan daun-daun yang berserakan harus dibuang. Tujuannya agar pekarangan rumah terlihat lebih bersih. Tentu saja untuk merapikan sisa-sisa tebangan pohon mangga aku harus mengangkut itu semua ke tempat sampah. Lalu daun-daunnya disapu supaya pekarangan kembali bersih.

Saat sedang menyapu daun-daun tersebut, gerakan tanganku yang memegang sapu lidi itu berirama. Iramanya terdengar sampai ke dalam otak. Dan membuatnya berfilosofi seperti seorang filsuf yang menemukan filosofi kehidupan dari hal-hal yang mereka lakukan setiap hari.

Mulai dari sini ceritaku sampai pada intinya. Bahwa dari kegiatan menyapu daun-daun tersebut, aku melihat kenyataan yaitu butuh lebih dari 3 kali sapuan supaya daun-daun dapat berkumpul menuju satu titik. Sebelum akhirnya mereka akan diangkut menggunakan cikrak (atau orang Betawi biasa menyebut dengan nama “pengki”) utnuk dibuang ke tempat sampah.

Dalam prosesnya menggunakan sapu lidi dan cikrak itulah, serangkaian pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan sapu menyapu bergemuruh. Mereka melihat pada fenomena sapu lidi yang menyapu dedaunan itu. Sampai aku teringat pernah menulis tentang sapu lidi dan kekuatannya yang berbeda satu sama lain ketika digunakan secara lembut dan keras. (Baca: Kepemimpinan: Belajar dari Sapu Lidi).

Selain itu, pikiranku terus menyangkutpautkan apapun yang berhubungan dengan sapu-menyapu. Yang menarik adalah ketika memikirkan tentang mitos orang Jawa yang mengatakan:

“Kalau menyapunya tidak bersih, nanti dapat suami yang brewokan”.

Kurang lebih demikian kalimat mitos yang aku ingat. Namun jika mitos itu benar, mungkin objek yang tepat akan ditujukan bagi perempuan. Karena jika yang menyapu adalah laki-laki, apakah mitos tersebut akan menyesuaikan menjadi “Kalau menyapunya tidak bersih, nanti dapat istri yang brewokan”?

Sangat tidak masuk akal, meskipun mitos itu sendiri aku yakini juga bukan sesuatu yang masuk akal.

Meski demikian, sesuai judul tulisanku ini, Jika Mitos Itu Benar.

Maksudnya jika mitos bahwa ketika perempuan menyapu dan tidak bersih, maka akan mendapat suami yang brewokan, ini benar. Maka aku adalah salah satu pria yang akan tersinggung. Karena aku adalah laki-laki dengan rambut yang tumbuh di sekitar pipi dan dagu. Aku adalah laki-laki dengan brewok yang cukup lebat.

Maka sekali lagi, jika mitos itu benar, aku adalah laki-laki yang akan menjadi suami dari seorang istri yang menyapunya tidak bersih. Memikirkan hal ini membuatku tertawa dalam hati dan hanya menyimpulkan senyum di bibirku. Tentu saja pikiran ini yang menganalogikan mitos tersebut aku lakukan sambil terus menyapu dedaunan tadi.

Membayangkan aku adalah calon suami dari seorang istri yang tidak bersih saat menyapu merupakan hal yang lucu. Jika memang terjadi hal yang demikian, mungkin aku akan menganggap ini adalah ujian dari yang Maha Berilmu. Ketika ini adalah ujian, maka aku dan istriku nanti itu harus pandai bersikap.

Ujian tersebut akan disikapi oleh kami berdua dengan sikap menerima. Aku menerima keadaan bahwa si istri mungkin saja bukan ahli di bidang sapu-menyapu. Bisa jadi ia pandai dalam hal lain seperti masak-memasak. Atau bahkan ahli dalam hal madrasah ilmu bagi anak-anakku kelak.

Di sisi lain, aku tetap harus belajar. Salah satunya belajar bagaimana menggunakan sapu untuk menyapu hingga bersih. Hal ini semata-semata bukan untuk berjaga-jaga dari mitos tersebut, namun lebih kepada tanggung jawab menjaga kebersihan supaya terlihat indah dan sedap dipandang mata. Bukankah Islam itu indah, dan Allah menyukai keindahan?

Jadi, jika mitos itu benar, aku tidak akan mudah percaya begitu saja. Malah ketika mitos itu benar, aku harus bersyukur mendapatkan istri yang kurang bersih ketika menyapu. Dengan demikian, kita bisa saling belajar bagaimana teknik menyapu yang benar supaya hasilnya menjadi bersih dan sedap dipandang mata. Benar kan? (DH)

Advertisements

3 thoughts on “Jika Mitos Itu Benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s