Mari Berteman

Bukan Jurnal Sejarah, Bekasi – Coba tebak apa yang akan dilakukan seorang laki-laki ketika bertukar nomor telepon dengan seorang perempuan? Jawaban pembaca Bukan Jurnal Sejarah pasti beragam. Mulai dari saling ber-sms-an, menelepon satu sama lain, dan bercakap-cakap melalui media pesan instan lainnya. Intinya satu, mereka berkomunikasi.

Lebih hebat dari itu, ketika bertukar nomor telepon seperti yang tersebut di atas, sebenarnya seseorang sedang mencari frekuensi yang sama. Melihat apakah ada dirinya pada diri orang lain itu. Bahkan ia sedang melakukan proses belajar untuk memahami karakter orang lain tersebut.

Bagiku, karakter seseorang bisa dilihat dari makanan kesukaannya. Minimal, keduanya memiliki kesukaan terhadap satu jenis makanan. Dari situ bisa berlanjut untuk melakukan komunikasi yang efektif.

Menjalin komunikasi yang efektif, adalah kegiatan seperti yang para ahli kimia lakukan ketika mencampur bahan-bahan kimia menjadi sebuah ramuan yang bermanfaaat. Maksudnya, berkomunikasi secara efektif adalah salah satu cara untuk meracik chemistry. Begitulah kira-kira aku menggunakan istilah untuk berkenalan dengan perempuan yang aku angkat dalam cerita kali ini.

Oh iya, aku akan menyebut dia sebagai Si Behel. Karena selain pipinya yang agak kemerahan, tahi lalat di pipinya itu bergerak naik ketika dia tersenyum dan memamerkan behel yang ada di giginya. Si behel aku kenal dari seorang teman di Cilacap. Namun kita bertemu untuk ketiga kalinya di Jakarta, kota yang kami berdua tinggal untuk bekerja.

Si Behel bekerja di sebuah Bank pemerintah di daerah Ragunan. Ia sudah memulai petualangannya di Ibu kota lebih dulu dariku. Tidak berbeda jauh, tapi tetap dia yang pertama. Terlebih lagi, dia anak pertama dari dua bersaudara.

Meskipun demikian, aku bisa melakukan profiling bahwa Si Behel adalah perempuan bertipe pekerja keras. Aku tahu dari ceritanya yang sudah mulai bekerja sejak tahun ketiga kuliahnya. Ketika itu, ia melanglang buana berganti pekerjaan satu ke yang lainnya. Bekerja di Jakarta dan di Cilacap sampai akhirnya ia kembali bekerja di Jakarta.

Pekerjaan menjadi pelayan restoran, pegawai koperasi, hingga sekarang menjadi tim teknis pada Bank tersebut ia lakukan dengan baik. Aku mendengarkan dengan khusyuk ceritanya tentang bagaimana ia mendapatkan pekerjaannya. Dari situ aku tahu bahwa ia adalah anak yang solehah yang mengikuti dan taat terhadap orang tuanya.

Orang tua Si Behel lebih suka ia bekerja di Jakarta. Menurutnya, Sang Ibu yang asli Betawi itu ingin sekali ada buah hatinya yang tinggal di Jakarta. Mungkin untuk meneruskan trah keluarga Betawi, atau pun untuk menjaga silaturahim dengan keluarga Sang Ibu Si Behel.

Selain itu, Si Behel adalah perempuan yang mandiri. Di Jakarta, ia memiliki saudara. Namun ia memilih untuk tinggal dalam sebuah kamar kos berukuran 3×3 meter. Bagiku, ini adalah cerminan yang mandiri dan menunjukkan keberanian dari seorang perempuan.

Si Behel lebih suka menghabiskan waktunya sendirian, dari pada harus ‘kongkow’ di mal dan membeli ‘Iced-blended coffee’ seperti para wanita kekinian di Ibu Kota. Ia mengaku tidak sering berpergian di akhir pekan. Alasannya karena memang tidak ada yang mengajak dan ia malas untuk keluar kosannya.

Menarik. Lalu, mengapa aku berkenalan dengan Si Behel?

Ini dia bagian yang keren dari skenario Sang Maha Pencipta. Dialah Allah, Yang Maha Membolak-balikkan Hati Hamba-Nya. Dengan izin-Nya, aku diberi kesempatan untuk berkenalan dengannya sampai tiga kali kesempatan.

Yang pertama, saat aku bertemu dengan Si Behel di sebuah masjid di salah satu gang di Kota Cilacap. Aku dan teman-teman di Komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, mengadakan sebuah acara “Safari Ramadhan CM”. Di salah satu agenda di hari Jumat pada bulan puasa tahun 2015 lalu, ia datang bersama teman-temannya.

Aku masih ingat berkenalan dengannya, meski aku lupa pembicaraan apa yang aku lakukan dengannya pada saat itu. Sehingga, pertemuan pertama itu berlalu begitu saja. Seperti angin yang meniup kapas di padang ilalang. Meskipun demikian, setidaknya dokumentasi foto kami bertemu bersama teman-teman yang lain sudah tersimpan baik di akun Instagram miliknya.

Pertemuan kedua dengan si Behel, ternyata bertepatan dengan momen puasa di tahun ini. Tepat 1 tahun, aku bertemu lagi dengannya. Saat itu, kami bertemu di rumah seorang teman yang menjadi ‘hub’ atau jembatan pertemenan antara aku dan Si Behel itu. Namun masih saja, aku tidak ingat siapa dia dan bagaimana aku bertemu dengannya.

Sampai suatu hari di sebuah aplikasi Instagram, aku mendapatkan pesan di kotak masuk dari akun Instagram Si Behel itu. Ia bertanya apakah aku juga bekerja di Jakarta. Di situlah aku baru mengetahui bahwa Si Behel inilah yang sudah dua kali aku bertemu dengannya. Bahkan aku juga baru tahu bahwa ia pun bekerja di Jakarta.

Berlanjutnya cerita, aku meminta nomer telepon Si Behel. Dan kisah selanjutnya sudah sesuai dengan pengantar ceritaku yang kusampaikan di atas sebelumnya.

Mencari frekuensi demi terciptanya chemistry agar komunikasi kami efektif, aku mengajaknya bertemu di sebuah rumah makan di pusat perbelanjaan di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Aku memilih bertemu dengannya di Hari Jumat. Hari di mana Nabi Adam dan Siti Hawa diciptakan Allah Sang Maha Pencipta.

Selain itu, karena Hari Jumat adalah hari terakhir bekerja. Menurutku, pikiran kita akan sedikit longgar karena esoknya libur dan tidak terbebani pekerjaan kantor. Ia setuju, dan kami pun bertemu.

Tidak ada yang spesial di pertemuanku dengan Si Behel saat itu. Karena aku memang tidak berekspektasi apa pun pada pertemuan kami ini. Namun demikian, meski tidak spesial namun tetap ada hal menarik yang aku dapatkan dari dirinya.

Menarik ketika getar-getar frekuensi kami pelan-pelan bertemu. Seperti misalnya ketika berbicara jenis makanan kesukaan. Si Behel suka dengan makanan pedas. Di mana aku pun akan begitu bersemangat ketika memakan makanan yang pedas.

Apa lagi ketika kami bertukar pengalaman seputar makanan dari Gorontalo, dimana makanan pedas mudah ditemui di setiap menu masakan khasnya. Ia aku ceritakan bagaimana menariknya rasa Dabu-Dabu Iris. Pedasnya cabai dan asamnya tomat kami bayangkan segar di dalam mulut.

Sejurus topik dengan makanan, aku coba kulik soal kemampuannya memasak. Ia mengaku bisa memasak hal-hal yang dasar. Seperti masak air, masak nasi, masak sayur tumisan. Karena aku tidak berekspektasi apa pun, mendengar pengakuannya aku perlu mengapresiasinya. Setidaknya kita sepakat bahwa memiliki kemampuan dasar memasak tidak hanya diwajibkan pada seorang istri saja. Suami pun juga sebaiknya bisa memasak. Agar dapat berkegiatan bersama di dapur.

Topik lain yang kami diskusikan lainnya tidak jauh-jauh dari keluarga, pekerjaan, dan pernikahan. Sampai aku tahu bahwa Si Behel ini masih “tergantung” dalam hubungan pacaran dengan laki-laki lain. Meski ia mengaku sudah tidak berkomunikasi dengan pria itu, tapi yang aku dengar dari ceritanya, bahwa si laki-laki itu pun belum memutuskan hubungan mereka berdua.

Namun aku merasa tidak berhak untuk tahu lebih dalam siapa dan bagaimana hubungan mereka berjalan. Yang aku tahu, bahwa Si Behel ini adalah orang yang menarik untuk dijadikan teman. Teman dalam arti sesungguhnya, atau pun teman yang memiliki pasangan kata lain. Wallahua’alam.

Baiklah, mengakhiri cerita ini aku menutupnya dengan penuh rasa syukur. Bersyukur karena masih diberi kesempatan sampai tiga kali untuk bertemu dengan Si Behel. Entah akan ada pertemuan lain dengan Si Behel, aku hanya bisa menjalani peran yang Sang Maha Pencipta buatkan untukku dan dirinya.

Dan ini yang paling terakhir. Aku tahu bahwa Si Behel kurang suka membaca, maka peluang bahwa tulisan ini terbaca olehnya aku rasa akan kecil. Namun jika suatu hari ia membacanya,  aku hanya ingin menyampaikan bawha aku merasa bahagia bisa berkenalan dengan dirinya. Maka dari itu, Mari Berteman! 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Mari Berteman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s