Mengurai Kerinduan di Tanah Pasundan

Bukan Jurnal Sejarah, Bandung – “Maa sya Allah!”. Ekspresi ini yang rasanya tepat aku ucapkan dengan lantang. Selantangnya kakiku menginjak peron di Stasiun Kota Bandung.

Betul sekali, pagi ini hari Sabtu 9 Juli 2016, aku ada di kota Bandung. Dalam rangka menjadi perantauan yang ikut arus balik mudik lebaran di tahun 2016 ini. Karena pengalaman yang berjam-jam jika menggunakan moda transportasi mobil atau bus, aku memutuskan berburu tiket kereta. Dan Allah Sang Sutradara Maha Keren itu mengabulkan usaha dan doaku berburu tiket kereta.

Dengan menggunakan kereta ini, aku seperti dipilihkan jalan agar dapat mengurai kemacetan arus balik mudik lebaran. Mengurai kemacetan, di Bandung, seperti mengurai rinduku akan kota ini. Meskipun ada drama yang aku jalani untuk sampai ke kota yang indah ini.

Dini hari tadi, aku berangkat dari Stasiun Kroya, 1 jam perjalanan dari rumah orang tuaku di Kota Cilacap. Di tiket kereta yang kini menggunakan sistem Check-in dengan Boarding Pass ini, kereta Turangga dengan jurusan stasiun akhir di Stasiun Bandung, tertulis jam keberangkatan pada pukul 00.02 WIB.

Sebelumnya, tiket kereta Turangga itu aku sudah pesan secara daring bersamaan dengan tiket Kereta Argo Parahyangan. Dua kereta ini sesuai rencanaku akan mengantarkan aku dari Cilacap dengan tujuan akhir di Bekasi. Maka, terpilihlah dua kereta tersebut dengan skema Kroya (Cilacap) – Bandung oleh Kereta Turangga, dan Bandung – Bekasi oleh Kereta Argo Parahyangan.

Skema rute perjalanan ke Bekasi dengan dua kereta tersebut awalnya cukup tersistem. Kereta Turangga dijadwalkan berangkat pada pukul 00.02 WIB dan sampai di Bandung pukul 05.21 WIB. Setelah itu Kereta Argo Parahyangan dijadealkan berangkat dari Bandung pukul 06.30 WIB dan sampai di Bekasi pukul 09.30 WIB.

Rencana keberangkatanku tersebut aku sudah yakinkan dalam hati. Sampai pada saat rencana itu diwarnai dengan drama-drama yang membuat malam dini hariku tadi cukup berkesan. Mulai dari sistem Check-in tiket kereta dengan sistem Boarding Pass, sampai dengan keterlambatan Kereta Turangga hingga 2 jam lamanya.

Desas-desus sistem baru yang diterapkan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) soal tiket kereta dengan sistem Check-in ini memang samar-samar terdengar olehku. Hingga hal ini aku alami di tengah-tengah momen lebaran tahun 2016 ini. Pasalnya dengan sistem yang baru ini, sedikit banyak mengubah perilaku -khususnya aku sendiri- dalam hal menyetak tiket kereta.

Sebelum beralih ke sistem baru ini, aku sebagai calon penumpang yang sudah memesan dan membayar tiket kereta secara daring, dapat menyetak tiket kereta jauh-jauh hari sebelum waktu keberangkatan. Selain itu tiket juga dapat dicetak di stasiun mana saja untuk kereta dengan tujuan ke mana saja.

Maksudnya, jika aku memesan tiket untuk keberangkatan di awal bulan Agustus dari Stasiun Gambir ke Cilacap, aku bisa menyetak tiket tersebut meski hari ini aku berada di Stasiun Bandung. Hal itu yang hampir dua tahun ini aku lakukan dalam hal melakukan perjalanan dengan kereta api.

Namun dengan sistem baru ini, -dengan contoh kasus tersebut di atas- aku hanya dapat menyetak tiket di hari keberangkatanku di awal Agustus. Hal ini juga berdampak pada kemyataan bahwa aku hanya dapat menyetak tiket tersebut di Stasiun Gambir. Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, khususnya bagiku sistem baru ini cukup mengubah kebiasaanku dalam hal memesan tiket kereta api.

Meskipun begitu, jika memang sistem ini lebih banyak manfaat dan kebaikannya aku akan sangat mendukung terutama dalam hal peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas kereta api. Karena jika kebermanfaatan ini terhalang hanya karena kebiasaanku itu, sungguh tidak relevan. Lagi pula, aku hanya perlu menyesuaikan kondisi tersebut.

Drama lain yang terjadi berikutnya adalah keterlambatan Kereta Turangga berangakat dari Stasiun Kroya.

Kereta Turangga ini seharusnya dijadwalkan berangkat pada pukul 00.02 WIB. Namun kereta tersebut baru tiba dan berangkat 2 jam mundur dari jadwal semula. Berdasarkan informasi yang diberitahukan petugas Stasiun Kroya, tidak begitu jelas apa alasan keterlambatan kereta tersebut.

Sebenarnya aku masih sabar dan memaklumi soal keterlambatan ini. Hanya saja jika aku tidak memiliki rencana untuk menyambung kereta dari Bandung ke Bekasi. Karena kereta Argo Parahyangan berangkat lebih kurang 1 jam sejak kereta Turangga tiba di stasiun Bandung.

Tentu saja keterlambatan Kereta Turangga ini berdampak pada rencanaku untuk menyambung Kereta Argo Parahyangan. Mengetahui keterlambatan ini, Allah masih menuntunku untuk berpikir cepat dan taktis. Akibat keterlambatan ini, aku langsung mengurus pembatalan tiket Kereta Argo Parahyangan. Dengan nilai kompesansi yang tidak seberapa, minimal aku tidak mengalami kerugian 100 persen.

Mengurus pembatalan tiket cukup mudah. Dengan petugas loket yang juga ramah -meski melayaninya di tengah malam-, aku merasa dimudahkan dalam proses pembatalan tiket tersebut.

Dengan membatalkan tiket tersebut, sebenarnya aku kehilangan kans untuk menyambung kereta dari Bandung ke Bekasi. Sekilas aku berpikir untuk menggunakan travel dari Badung ke Bekasi, seperti yang biasanya aku lakukan saat masih kuliah dahulu. Tapi lagi-lagi Allah menuliskan skenario yang sangat indah.

Pandanganku digerakkan-Nya untuk melihat ke arah mesin pemesanan tiket. Jari-jariku juga seperti digerakkan untuk mencari tiket kereta pengganti yang tadi aku batalkan. “Maa sya Allah!”, lagi-lagi aku mengatakan hal tersebut. Aku mendapat satu buah tiket Kereta Argo Parahyangan kelas Eksekutif, untuk keberangkatan di hari yang sama namun pada jam 11 siang.

Dengan demikian, soal terlambatnya Kereta Turangga ini, ternyata masih ada solusinya. Aku berangkat dari Bandung masih agak siang. Sehingga rencana menyambung kereta masih tetap berjalan.

Kebaikan-kebaikan Allah ini menemani diriku yang kedinginan karen pada malam itu, Kroya sedang dingin dan di sekitarnya turun hujan yang lebat. Di saat proses pemesanan tiket tersebut, lagi-lagi karena aku baru pertama kali mencobanya, tentu aku mengalami kebingungan. Namun, petugas pengecekan tiket di sana membantuku dengan ramah.

Alhamdulillah, tidak ada kata yang tepat selain ucapan syukur tersebut.

Banyak hikmah dari kedatanganku ke Bandung kali ini. Seperti menikmati mie kocok, merasakan dinginnya air, dan menghirup sejuknya angin kota Bandung yang seakan memutar kenangan selama 4 tahun di sini, 6 tahun yang lalu.

Uraian rinduku ini cukup sederhana. Aku dapat melihat lagi ikon Bandung di sekitar Stasiun Bandung. Aku mendengar lagi logat Sunda yang khas yang terlontar dari mulut para petugas pengangkat barang, serta teteh penjual kebab. Ahh, rindu ini terurai, namun terlalu panjang untuk dinikmati.

Terima kasih ya Allah, Sang Sutradara Maha Keren. Tiga jam di sini cukup untukku mengurai kerinduan. Semoga Kau ridho untuk mengijinkanku kembali ke kota ini. Aamiin.

Advertisements

One thought on “Mengurai Kerinduan di Tanah Pasundan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s