Analogi Kehamilan: Salah Satu Ramuan Manajemen Hati

Bukan Jurnal Sejarah, Cilacap – Malam itu adalah malam Jumat tepat di hari kedua Lebaran Idul Fitri. Tepatnya tanggal 2 Syawal 1437, atau 7 Juli 2016. Ada perasaan yang mendesak di dalam hatiku, sehingga harus mengiyakan ajakan seorang teman sepermainan di SMA untuk bertemu sapa. Sebut saja namanya Mangga.

Mangga sedang mengalami perasaan yang kalut. Karena kisah cintanya sedang diuji oleh Sang Maha Pemilik Hati. Akibatnya ia butuh seseorang yang bisa dicurahkan isi hatinya. Maka bertemulah aku, Mangga dan seorang sahabatku yang akrab dipanggil Sapi. Kami bertiga bertemu sapa di dalam restoran cepat saji di pusat Kota Cilacap.

Agenda malam ini berjalan sesuai ajakan Mangga, ia curhat seputar kisah cintanya yang selesai begitu saja namun tetap dengan drama kisah cinta anak usia 20-an. Aku dan Sapi menjadi pendengar yang baik. Dan sesekali membesarkan hatinya Mangga agar ia tidak terus jatuh pada nostalgia yag seharusnya tidak pernah terjadi. Ahh, pada bagian ini aku ingin menegaskan bahwa aku dan Sapi mengambil sikap untuk setuju pada pendapat bahwa “Tidak ada yang namanya Pacaran di dalam ajaran Islam”.

Dengan demikian jelas, saat Mangga bercerita soal kisah cintanya yang usai itu, kami berdua mendukung berusaha untuk menguatkan hatinya agar ia tetap istiqomah pada sikapnya tersebut. Putus dari laki-laki yang kini menjadi mantan pacarnya itu.

Meskipun ceritaku kali ini bukan menyoal pada berakhirnya kisah cinta si Mangga, namun aku merasa ada kesamaan benang merah antara cerita si Mangga dengan keadaan yang sedang aku alami saat ini. Bagiku, benang merah yang dapat diurai dari kedua hal tersebut adalah menyoal tentang kejujuran.

Sampai-sampai aku menamai persoalan kejujuran ini dengan ‘Analogi Kehamilan’. Hal ini karena berdasarkan referensi yang kupelajari dari berbagai sumber, kehamilan atau proses hamilnya seorang perempuan -pembuahan karena hasil dari bertemunya sel sperma dan sel telur dalam rahim- ini memiliki sensasi yang luar biasa. Sejauh pemahamanku yang awam, kejujuran dan kehamilan memiliki jalan cerita yang sama. Yaitu “Menyakitkan di awal, namun melegakan pada bagian akhirnya”.

Kejujuran pada kisah cinta si Mangga

Mangga akhirnya harus jujur pada dirinya sendiri bahwa kisah cintanya memang harus disudahi. Namun ketika kejujuran hatinya itu disampaikan pada laki-laki yang kini menjadi mantan pacar si Mangga, reaksinya malah antagonis terhadap ekspektasi si Mangga.

Menurut pengamatanku yang didapat dari cerita si Mangga dan pengecekan ulang terhadap respon yang ia -si laki-laki- bagikan di media sosial, terlihat bahwa kejujuran merupakan hal yang menyakitkan. Si laki-laki membeberkan bahwa perbuatan yang dilakukan Mangga terhadap dirinya adalah hal yang begitu jahat. Di fase putusnya mereka tersebut, si laki-laki seolah merasakan sakit yang mendalam.

Bagiku, ini adalah hal yang wajar dalam sebuah hubungan percintaan yang kandas di tengah jalan. Karena, pacaran pun ujung-ujungnya akan putus juga. Entah itu putus karena memang sudah berakhir atau putus karena lanjut pada pernikahan. Meski demikian, ketika sebuah hubungan memasuki fase putus reaksi yang diperlihatkan masing-masing pihak akan memiliki keragaman.

Keragaman yang dimaksud yaitu reaksi marah, menerima, dan membiarkan.

Kali ini, mantan pacar si Mangga menunjukkan reaksi marah ketika ia diberi rangsangan rasa sakit kejujuran tersebut. Bagiku, ia tidak salah menunjukkan ekspresi marah tersebut. Hal yang wajar dan sangat manusiawi.

Untuk kasus ini aku tidak ingin dan tidak berhak berkomentar panjang lebar. Aku hanya mengambil bagian yang sama yaitu respon terhadap rasa sakit dari kejujuran.

Namun kaitannya dengan analogi kehamilan tadi, aku masih berharap agar si laki-laki dapat memahami analogi tersebut. Sehingga apa yang ia alami saat ini hanya akan berlangsung sementara. Benar, sakit hati itu hanya sementara.

Kejujuran pada harapan seseorang

Nah, bagian ini adalah cerita mengenai situasi dan kondisi yang sedang aku alami. Tidak jauh-jauh dari perasaan, namun yang ini perasaan yang masih tumbuh pada tahapan berharap. Aku sedang memupuk harapan pada seorang perempuan berkerudung yang pipinya kemerah-merahan. Mari kita sebut ia sebagai si Merah.

Ia adalah perempuan yang namanya akhir-akhir ini aku sebut dalam rapalan doaku pada Sang Maha Pemilik Hati. Baru sebatas itu keberanianku untuk mendekati si perempuan berkerudung yang pipinya kemerah-merahan tersebut. Hal ini karena aku juga memahami kondisiku yang masih belum menjadi apa-apa, serta kondisi dirinya yang hatinya juga sedang bingung akan dijatuhkan kepada siapa.

Sebagai informasi agar ceritaku ini bersambung, si Merah bekerja di sebuah perusahaan swasta di Cilacap. Dalam lingkungan pekerjaannya tentu saja ia memiliki teman kerja yang beragam, laki-laki dan perempuan. Dari cerita yang aku tahu, ia sedang disukai oleh laki-laki yang tidak lain teman kerjanya sendiri. Aku akan menyebutnya si Mas.

Karena si Mas adalah teman kerjanya sendiri, ia dapat lebih sering bertegur sapa dengan si Merah. Si Mas memiliki peluang lebih untuk mendapatkan si Merah. Apa lagi, aku tahu kalau si Mas memang sudah memasuki usia yang matang untuk menikah.

Namun di sisi lain, si Merah juga tengah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang saat ini masih melanjutkan studinya di kota yang tidak jauh dari Cilacap. Laki-laki ini atau aku menyebutnya si Bang, adalah pacar si Merah sejak beberapa tahun terakhir. Hingga pada saat ini, si Merah ingin menyudahi hubungan mereka itu, namun si Bang masih ingin mempertahankannya.

Terlepas dari kehidupan pribadi si Merah dengan si Bang atau dengan si Mas tersebut, aku sebenarnya tidak memiliki ‘inner circle’ yang kuat agar bisa mengakuisisi perasaan si Merah untukku. Sedikit mengambil istilah pemasaran, ‘bargaining power’ yang aku miliki pun masih kalah mumpuni dibanding si Bang atau si Mas tersebut. Inilah mengapa aku masih memupuk pada harapan pada si Merah.

Namun ternyata, Sapi, sahabatku yang begitu baik padaku, meruntuhkan harapanku pada si Merah. Hal ini karena si Merah adalah teman dekat Sapi, namun Sapi juga sahabatku. Sapi tahu situasi dan kondisi yang sedang terjadi pada si Merah. Ia pun juga tidak ingin sahabatnya -yaitu aku- kecewa dengan harapannya sendiri yang nantinya akan pupus kalau terus dibiarkan tumbuh.

Betul saja, malam ini Sapi ‘menamparku’ dengan fakta yang menyakitkan. Ia mengatakan bahwa si Merah tidak pernah ada perasaan apapun kepadaku. Sementara di sisi lain, aku masih memupuk harapan untuk kubagikan dengan si Merah tersebut.

“Kamu harus tahu ya Don, dia (baca: si Merah) itu ga pernah ada perasaan sama sekali ke kamu,” kurang lebih itu kata-kata yang kuingat keluar dari mulut Sapi.

Mendengar untaian kalimat-kalimat menohok dari Sapi, membuatku sempat diam ditempat. Seperti Raja dalam permainan catur, aku merasa sedang ter-“Check Mate” oleh lawan. Hal ini membuatku kelu dan kikuk di atas meja makan merah di sana.

Bagaimana tidak, karena aku begitu yakin dan percaya diri bahwa stimulus yang aku berikan kepada si Merah adalah upaya terbaikku untuk mengakuisisi perasaan dan hatinya. Namun kenyataan tidak sejalan dengan ekspektasiku. Menurut Sapi, si Merah sedang kebingungan dengan posisinya saat ini yang terjebak hubungan dengan si Bang, dan mendapat perlakuan baik dari si Mas tersebut.

Awalnya aku ingin bereaksi marah dan kecewa. Namun aku memilih untuk menerima. Karena aku juga memahami situasi dan kondisi serta ‘bargaining power’ yang aku miliki saat ini. Sapi pun juga mengingatkan untuk tidak begitu berharap pada si Merah. Dengan alasan yang sama dengan pemikiranku. Sapi malam ini mengingatkan dengan caranya sendiri.

Jika mengambil logika dari sepeda yang dikayuh di jalan yang menurun, aku sedang melaju dengan kencang, namun Sapi adalah rem yang menghambat lajuku itu. Karena Sapi tahu kalau aku terus melaju dengan kencang kea arah harapan tersebut, aku bisa saja jatuh ke dalam lubang yang malah membuatku lebih sakit dari sekedar mengetahui bahwa si Merah tidak memiliki perasaan kepadaku.

Pada bagian akhir cerita di malam ini, aku bisa saja mendalami peran sebagai seseorang yang patah hati. Namun hal tersebut rupanya teralihkan dengan mimpi yang harus aku wujudkan dalam waktu satu sampai dua tahun ke depan. Mimpi ini menyangkut masa depan dan rencana-rencana indah yang sudah aku tulis dalam daftar mimpiku.

Lagi-lagi aku harus bersyukur kepada Sang Maha Pemilik Hati. Ia menyediakan kehidupan seperti sepeda dengan remnya. Ketika sepeda dikayuh di jalanan menurun, ada rem yang selalu menghambat laju sepeda demi keselamatan pengendaranya. Karena ketika jatuh dan terperosok di dalam lubang kekecewaan, rasanya akan lebih sakit dari pada pupusnya harapan kepada seseorang.

Namun, malam ini aku belajar tentang sebuah analogi kehamilan. Hari ini aku boleh sakit karena mengetahui hal yang jujur. Namun aku yakin Sang Maha Pemilik Hati di Arsy sana akan memberikan kebahagiaan ketika skenarionya berkata “inilah waktunya kamu bahagia”. Dan yang pasti semoga analogi kehamilan itu bisa dijadikan sebagai pelengkap dalam ramuan Manajemen Hati untuk orang-orang yang mengalami keadaan sepertiku ini.

Terakhir, jika kamu, si Merah, sedang membaca tulisan ini. Maafkan jika aku membicarakanmu di catatan Bukan Jurnal Sejarah. Terlebih lagi, aku sudah keterlaluan untuk berharap dapat mengakuisisi perasaan dan hatimu untuk menjadi milikku. Jika Sang Maha Pemilik Hati mengabulkan doa-doaku, kita bisa bertemu di pelaminan yang aku impikan. Namun jika pun tidak, kita masih bisa bertemu dalam satu pelaminan meski kamu sebagai mempelai pengantin, dan aku menjadi tamu yang menyalamimu beserta laki-laki yang berani memintamu dari ayahmu.

Salam hangat, Donie Hulalata.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s