Di Dalam Halte TransJakarta

Bukan Jurnal Sejarah, Bekasi – Kehadiran moda transportasi TransJakarta seakan menjadi angin segar sebagai solusi kemacetan di Ibu Kota. Transportasi umum dengan armada bus ini hadir di jalan-jalan Ibu Kota dengan segala keistimewaannya. Sebut saja halte yang modern dan kekhususan jalur bus (Busway) TransJakarta tersebut.

Bagi seorang perantauan yang mendulang rupiah di Ibu Kota, rasanya aku menjadi antusias dengan kehadiran TransJakarta tersebut. Beberapa kali aku naiki TransJakarta dari dan menuju rumah tempat aku tinggal, di daerah Jati Asih Kota Bekasi. Seperti ingin merasakan kemajuan peradaban Ibu Kota dari sisi transportasi umumnya. Hitung-hitung juga agar lebih merakyat, supaya memiliki pengalaman langsung tentang transportasi umum di Ibu Kota.

Sejak kadatanganku -dengan tujuan menetap- di Jakarta pada Oktober 2015 lalu, aku mulai menjelajahi ruas-ruas Ibu Kota yang dilalui Busway. Saat itu aku masih menjadi pekerja lepas yang menangani beberapa pekerjaan dan tidak mengharuskan ke kantor. Dampaknya adalah aku tidak merasakan “hectic” -nya suasana Ibu Kota saat jam pergi dan pulang kantor.

Menggunakan TransJakarta saat itu memberiku keyakinan bahwa moda transportasi umum ini adalah solusi tepat bagi kemacetan Ibu Kota. Asumsi-asumsi bahwa fasilitas halte, busway, dan Bus yang semakin ditingkatkan, seolah meyakinkanku bahwa TransJakarta patut diperjuangkan oleh Gubernur Ahok dan siapapun yang nantinya akan menggantikan posisi DKI 1 itu.

Keyakinan tersebut begitu kuat. Sehingga aku beberapa kali mengunggah peristiwa-peristiwa menarik yang aku temukan di lingkungan TransJakarta itu ke dalam media sosial milikku. Ini adalah bentuk kebanggaanku terhadap TransJakarta.

Namun, semua itu berubah ketika aku diberi amanah untuk bekerja di sebuah perusahaan digital di daerah Pancoran. Bekerja di perusahaan yang memiliki jam kerja rutin ini membuatku harus menyesuaikan diri terhadap kedisiplinan waktu. Pagi-pagi usai Solat Shubuh, aku sudah harus mandi dan bersiap menuju kantor.

Untuk sampai ke halte busway terdekat, aku memutuskan untuk menggunakan jasa Ojek Daring (online) yang dapat dipesan melalui ponsel Androidku. Memakan waktu kurang lebih 20 menit, aku sudah sampai ke Halte Pinang Ranti di Jalan Raya Pondok Gede. Halte ini dinamai Koridor 9, melayani rute Pinang Ranti – Pluit / Kota / Bundaran Senayan. Dari halte inilah perjalananku di atas Bus TransJakarta memakan waktu 40-60 menit untuk sampai di daerah Pancoran.

Ketika pagi hari berangkat, penumpang -yang sebagian besar adalah pekerja kantoran- yang menaiki TransJakarta cukup ramai, namun aku masih memiliki ruang untuk sekedar menggantungkan tangan. Karena kebanyakan penumpang tersebut naik dari Halte Busway UKI dan satu persatu turun di sepanjang Halte Busway sampai di daerah Semanggi.

Karena aku turun di halte Pancoran Barat, ketika jam pergi kantor aku masih nyaman menaiki TransJakarta. Berdiri di dekat pintu adalah posisi ternyaman untuk memindahkan bobot 92 Kg ini dari bus ke halte busway. Selain mudah untuk sampai keluar, tentu agar tidak memakan ruang yang seharusnya bisa diisi oleh orang lain di dalam bus tersebut.

Keadaan berubah ketika jam pulan kantor sudah bergulir. Menuju kembali ke halte busway yang jaraknya lebih kurang 300 meter dari kantorku, aku menunggu dengan tenang bus yang satu tahun belakangan ini memiliki model tandem atau dua bus menjadi satu rangkaian.

Dengan menggabungkan dua bus tersebut, logikanya adalah ruang atau kapasitas bus semakin besar dan banyak. Sehingga memungkinkan orang-orang yang tadi naik bus saat berangkat akan terangkur semuanya.

Pernyataan ini tidak salah. Memang terangkut semua ke dalam bus tersebut. Namun, ternyata orang-orang yang bekerja di daerah sepanjang koridor 9 tersebut. Halte Pancoran Barat tempatku menunggu bus TransJakarta posisinya ada di tengah-tengah rute koridro 9. Dampaknya adalah ketika si Bus TransJakarta datang, bus tersebut sudah terisi dengan orang-orang yang pulang kantor juga. Bus tersebut terisi penuh dan sesak.

Kalau sudah begini, biasanya aku merelakan bus tersebut dari ia membuka pintu otomatis sampai dengan menutupnya kembali kemudian pergi dari pandangan mataku. Karena sebenarnya armada bus di ke-13 koridor TransJakarta memiliki jumlah bus yang terus ditambah oleh DKI 1 melalui APBD Jakarta. Jadi meski bus yang datang sudah penuh, masih ada bus lain yang melayani rute sampai ke Pinang Ranti.

Namun, menurut pandanganku banyaknya armada bus ini masih belum cukup melayani penumpang pada jam-jam pulang kantor. Ini karena ketika aku merelakan satu bus yang sudah penuh, aku harus merelakan dua sampai tiga bus yang lagi-lagi penuh.

Ditambah, jalur bus TransJakarta yang dikuatkan oleh peraturan lalu lintas untuk tidak dilalui kendaraan selain Bus TransJakarta, masih saja dimanfaatkan oleh pengemudi kendaraan pribadi mobil dan motor. Bahkan Bus Metro Mini dan Truk Sampah juga sering memanfaatkan Busway tersebut.

Pemanfataan tersebut, berdampak pada padatnya jalur bus TransJakarta. Sehingga bus tersebut juga memakan waktu yang lama untuk menjemput penumpang dari satu halte ke halte yang lainnya.

Mungkin ini sering dialami orang lain selain aku ketika menunggu bus TransJakarta, namun aku pernah menunggu bus TransJakarta untuk pulang ke Pinang Ranti sampai dengan 2 jam!

Meski demikian, bagiku ini adalah pengalaman yang menarik. Menarik karena aku menjadi belajar tentang perjuangan, kesabaran, dan rasa mengalah atau toleransi terhadap orang lain. Dari fenomena tersebut pula aku belajar memahami karakter orang lain. Bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk belajar di setiap kondisi. Alhamdulillah. (DH)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s