Agen-Agen Tuhan di Jakarta

Bukan Jurnal Sejarah – Hari itu, kurang dari 48 jam sejak aku memulai rutinitas sebagai Project Management Officer (PMO) di kantor baru ini, aku sudah diajak “berlari” oleh Bapak HN. Selama waktu itu pula aku harus mengenal lingkungan sekitarku bekerja. Mengenal lingkungan sekitar sama dengan mengenal tim kerja ku di satu departemen Big Data Analytics (BDA).

Proses pengenalan ini aku mulai dari tahap mengenal lingkungan internal BDA. Sehingga aku mengetahui susunan tim BDA terdiri dari -selain Bapak HN tentunya- Bapak FZ, Mas FB, Mas AD, Mas ADK, TRY, LV, YUS dan AUL. Sengaja aku menggunakan inisial agar ceritaku ini lebih berkarakter.

Dari pengenalan internal BDA tersebut, aku tahu komposisi tim BDA adalah komposisi yang baru. Karena mengalami transformasi, tim BDA yang sebelumnya hanya 4 orang yaitu Bapak HN, Bapak FZ, Mas FB dan AUL, kini menjadi 10 orang termasuk aku. Lagi-lagi aku bilang ini cukup menarik. Menarik karena dapat teman baru di lingkungan yang baru dan pelajaran yang baru. Semuanya serba baru.

Sampai-sampai aku harus mengenal istilah baru dari perkenalanku dengan lingkungan eksternal BDA.

Dalam menjalani proyek yang berjalan, departemen BDA biasa mengajak perusahaan lain untuk menjadi partner kerja dalam sebuah proyek. Yang kali ini aku ceritakan adalah partner dari sebuah perusahaan yang memiliki jasa analisis media sosial asal Bandung. BDA dan partner itu sedang menjalani proyek di salah satu Kementerian Republik Indonesia untuk bidang pariwisata.

Ketika melakukan pertemuan dengan klien kali itu, perusahaan partner ikut diundang dalam rangka membahasa hal-hal penting terkait proyek. Di sela-sela waktu menunggu waktu pertemuan itulah aku berkesempatan untuk mengenal orang-orang dari perusahaan partner tersebut. Hitung-hitung sebagai upaya untuk mencairkan suasana agar tidak sepi seperti Jalan Kalimalang di saat malam hari.

Dari obrolan santai itu, aku berhasil berkenalan dengan Mas Robert. Salah satu praktisi di dunia Social Media Analytics dan seorang dosen di salah satu private university di Jakarta. Usianya tidak muda namun belum terlalu tua. Setidaknya candaan mahasiswa semester 1-8 masih ia kuasai. Artinya, sebagai individu, Mas Robert adalah sosok yang menarik.

Saking menariknya Mas Robert ini, aku sampai mengenal istilah baru dari dirinya. Ia menyampaikan konsep “Agen Tuhan” saat mengisi obrolan santai seputar lalu lintas di Jakarta. Menurut dirinya, berkendara di Ibu Kota merupakan lahan untuk membentuk diri menjadi pribadi yang sabar dan mengalah.

Ia mengatakan karena di setiap ruas jalan Ibu Kota, terutama saat jam pulang kantor, Tuhan (Allah SWT) mengirimkan agen-agenNya di jalanan. Agen Tuhan ini, menurut Mas Robert, berwujud pengendara yang ugal-ugalan di jalan, memotong jalan tanpa melihat situasi, dan pengendara lain yang suka menerobos lampu lalu lintas. Ada lagi Agen Tuhan yang suka menyelip sampai menyerempet pengendara lain ketika kondisi jalan sedang macet. Belum lagi Agen Tuhan yang suka merasa paling benar ketika melawan arah.

Mulanya aku ragu untuk mengakui bahwa konsep Agen Tuhan versi Mas Robert ini begitu tabu untuk dibicarakan. Namun ini terlalu benar untuk ditolak ketika aku menyadari bahwa apa yang Mas Robert ceritakan, adalah peristiwa yang sedang aku alami sendiri.

Memang benar, untuk orang yang belum familiar dengan situasi lalu lintas Ibu Kota seperti aku, mengendarai kendaraan di sini cukup berbeda. Selain karena volume kendaraan yang banyak, tentu karena karakter pengendara yang sangat bervariasi. Hal ini kemudian berdampak pada perilaku berkendara yang kadang-kadang tidak sesuai aturan.

Aku pernah merasa jengkel yang teramat sangat ketika berhadapan dengan Agen Tuhan tersebut. Pernah sampai berujung ribut yang cukup sengit. Karena hal yang cukup sepele bahwa si Agen Tuhan mengambil jalanku ketika kami berlawanan arah. Tentu ini hal yang sepele namun aku menanggapinya dengan serius.

Meski demikian, pelan-pelan aku mulai membiasakan diri untuk berhubungan baik dengan si Agen Tuhan tersebut. Karena ketika kembali kepada pernyataan Mas Robert bahwa jalanan Ibu Kota merupakan lahan untuk membentuk diri menjadi pribadi yang sabar dan mengalah, aku mulai menyadarkan diriku sendiri. Allah SWT sedang memberikan ujian kesabaran, keikhlasan, dan mau mengalah yang diwujudkan dalam bentuk pengendara yang disebutkan sebelumnya di atas.

Bukankah ketika kita mengaku beriman, Allah akan menguji keimanan kita tersebut? Maka dari itu, jika pembaca BJS belum sadar akan ujian ini, mungkin harus lebih peka terhadap kehadiran para Agen Tuhan tersebut.

(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s