Skenario Tuhan di Kebon Sirih

Bukan Jurnal Sejarah, Bekasi – Apakah pembaca BJS (Bukan Jurnal Sejarah) pernah merasa doanya terkabul pada saat harapan telah berlalu? Sepertinya aku pernah dan baru saja mengalaminya. Hal yang terjadi kepadaku ini benar-benar di luar ekspektasi. Bahkan aku tidak berani membayangkan seperti apa awalnya.

Cerita ini dimulai ketika kurang lebih 12 bulan setelah kelulusanku, aku memutuskan untuk mengikuti arus menjadi pelamar kerja. Aku bahkan lupa sudah berapa perusahaan yang aku kirimkan lamaran agar mereka mau menerima lulusan dengan kualifikasi yang aku miliki. Sampai-sampai aku lupa berapa biaya yang sudah kukeluarkan untuk membayar travel dan tranportasi lainnya dalam rangka memenuhi undangan wawancara kerja di Jakarta, Bandung, dan Jogja.

Meski demikian, saat ini aku menyadari bahwa yang demikian itu adalah takdir Tuhan, Allah Subhanahu Wata’ala.

Berbicara takdir, aku tertarik untuk mengasosiasikan takdir sebagai sebuah skenario yang memang sudah Allah -Sang Sutradara Maha Keren- tuliskan dalam ‘log book’ berjudul Lauh Al Mahfuz. Karena skenario Allah SWT tersebut memang penuh dengan misteri. Bagi orang awam sepertiku ini mustahil untuk mengetahui apa yang tertulis di buku skenario tadi. Namun demikian, karena Allah Sang Sutradara Maha Keren memang begitu hebat membuat cerita, kadang-kadang kita sebagai manusia susah menebak jalan ceritaNya.

Pada saat skenario Allah berjalan tidak sesuai dengan harapan kita, namun Allah malah membuat cerita yang lebih indah dari harapan kita tersebut. Dalam sebuah firman Allah, Dia memang berkata “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu”.

Kemudian inilah yang aku alami. Sejak keputusanku menjalani peran sebagai pelamar kerja itu, aku selalu mengincar pekerjaan yang nyaman untuk kapasitasku. Harapannya agar aku enjoy menjalani pekerjaan yang nanti diberikan kepadaku. Awalnya aku berpikir, bekerja sesuai harapan adalah hal mudah yang bisa kita wujudkan.

Namun ternyata pada praktiknya tidak demikian. Buktinya adalah puluhan lamaran kerja tersebut yang belum juga membuahkan hasil. Di awal-awal melamar pekerjaan, aku serahkan berkas lamaranku sambil merapal doa-doa yang diajarkan guru ngajiku. Terus begitu sampai-sampai aku mulai menyerah dan mulai tergoda untuk “su’udzon” bahwa doa-doa tersebut tidak memiliki dampak yang baik.

Pada saat inilah Allah malah membalikkan rasa curigaku terhadap doa-doa tersebut. Ketika aku mulai menyerah atas segala usaha melamar pekerjaan, aku mendapat personal chat dari seorang teman kuliah yang sudah bekerja di sebuah perusahan digital di Jakarta. Ia mengatakan bahwa atasannya sedang mencari orang untuk bergabung dengannya di tim yang ia pimpin.

Mencoba untuk mengumpulkan semangat kembali, aku kemudian memenuhi ajakan teman tersebut untuk melamar pekerjaan di tim atasannya tersebut. Seminggu kemudian aku dipanggil oleh seorang laki-laki usia 50 tahunan yang ternyata adalah manajer temanku tadi. Sebut saja Bapak HN.

Panggilan Bapak HN ini agendanya adalah wawancara kerja. Ia kemudian memberikan detil waktu dan tempat wawancara yang harus kupenuhi. Maka tersebutlah di gedung Menara Multimedia, kantor perusahaan ‘Plat Merah” yang menjadi raksasa telekomunikasi di Indonesia. Lokasi tepatnya di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Di Kebon Sirih inilah kami berdua bertemu dengan pertemuan yang hangat dan santai. Wawancara kerja yang dilakukan tidak seperti yang aku bayangkan dari referensi wawancara kerja yang banyak beredar di Internet. Bahkan lebih kepada berbagi cerita antara seorang teman.

Memang memakan waktu cukup lama karena obrolan kami ternyata benar-benar mencari kesamaan antara yang Bapak HN butuhkan untuk tim dengan kualifikasi yang aku miliki. Kurang lebih 60 menit kami saling bertanya dan menjawab. Bagiku, berbagi cerita apa yang aku punya dan mendengar apa yang Bapak HN butuhkan adalah sebuah momen seru yang Allah tuliskan dalam skenario-Nya.

Setelah 60 menit wawancara itu selesai. Secara formal aku tanyakan tahapan selanjutnya terkait proses lamaran kerja ini. Standar operasi untuk pelamar kerja yang menunjukkan ketertarikan terhadap pekerjaannya itu, pikirku begitu. Dan memang Bapak HN memberikan jawaban yang rata-rata pewawancara kerja katakan, “nanti dihubungi sama HRD (human resources department, red) ya…”. Mendengar itu, aku tidak heran. Tidak menaruh harapan bahkan tidak kecewa. Karena memang begitulah skenarionya.

Sejauh pengalamanku, proses rekrutasi macam ini memakan waktu paling cepat 1 minggu dan paling lama 1 bulan. Maksudnya, jika memang pelamar kerja memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan, dalam waktu 1 minggu sampai dengan 1 bulan si pelamar kerja tersebut akan mendapat kabar baik dari surat elektronik ataupun SMS. Namun jika tidak memenuhi persyaratan, HRD lebih suka untuk tidak mengabarinya dalam interval waktu tersebut.

Dalam kasusku saat itu, sudah lewat 1 bulan aku tidak mendapat kabar dari pertemuan di Kebon Sirih tersebut. Aku menenangkan diri dalam hati. Aku sudah menyiapkan momen ini jika benar terjadi. Karena aku merasa ‘nothing to loose’ ketika melakukan wawancara dengan Bapak HN sebelumnya.

Selesai itu aku masih melanglang buana mengirim lamaran kerja. Sambil mengerjakan usaha sampingan sebagai makelar konveksi. Saat itu aku menerima orderan jaket untuk keperluan study tour anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tidak lain adalah murid Ibuku sendiri. Aku mendapat 3 kelompok orderan dengan nilai transaksi (omzet) seharga motor Vixion bekas. Cukup menyenangkan ketika berhasil mendulang rupiah dari jerih payah sendiri ini.

Hari itu tepat dua bulan sejak Bapak HN mewawancaraiku di Kebon Sirih. Hingga pada suatu siang, aku menerima telepon dari perusahaan yang mengaku sebagai HRD dari MD Media. Sejenak aku mengingat-mengingat nama perusahaan itu. Dengan respon yang cepat aku menjawab saja “iya” ketika seorang di ujung telpon sana mempertanyakan kesediaanku untuk melakukan tes psikologi atau psikotes.

Rupanya perlu waktu beberapa jam untuk menyadari bahwa aku menyanggupi undangan psikotes sebagai lanjutan dari wawancara yang aku lakukan dengan Bapak HN dua bulan yang lalu di Kebon Sirih. Setelah berdiskusi dengan orang tua, aku memutuskan untuk melanjutkan proses rekrutasi tersebut. Maka berangkatlah aku ke Ibu Kota karena pada saat itu aku sedang di Cilacap, kota yang begitu nyaman untuk ditinggali.

Demi kehidupan yang lebih baik pikirku, aku meninggalkan kenyamanan di kota Cilacap untuk menuntaskan rasa penasaranku mengenai keberlanjutan proses rekrutmen di kantor tempat Bapak HN bekerja itu.

Pada hari berikutnya aku telah menyelesaikan psikotes. Berselang satu hari kemudian aku mendapatkan telpon untuk mengikuti tahapan selanjutnya yaitu nego gaji. Sampai kepada tanda tangan kontrak kerja, ku ikuti dengan rapalan doa dan rasa bersyukur yang tidak pernah berhenti.

Hingga pada akhirnya di ujung bulan Mei 2016 aku sudah memiliki rutinitas baru yaitu bekerja di kantor. Role play yang diberikan kepadaku -selanjutnya aku anggap sebagai amanah- adalah sebagai Project Management Officer. Mengawal proyek yang ‘deal’ dengan kantorku, mulai dari tahap persiapan, pengorganisasian, hingga tahap penyampaian kepada klien adalah amanah yang harus aku tuntaskan.

Cukup menarik. Terlebih karena lumayan berbeda dengan pengalamanku sebagai PR Officer saat aku bekerja di kampus dahulu. Namun dari pekerjaan ini aku harus merasa banyak bersyukur.

Pekerjaanku ini memang bukan yang istimewa. Namun demikian, hikmah dan pelajaran dari proses yang aku jalani untuk sampai di posisi ini yang memaksaku berpikir bahwa setiap usaha tidak ada yang sia-sia. Apalagi kalau usaha itu dilandasi niat beribadah karena Allah.

Lebih dari itu ketika aku sadar bahwa berprasangka baik terhadap segala sesuatu harus tetap dijadikan pedoman yang utama. Hal ini kaitannya ketika menjalani skenario dari Sang Sutrada Maha Keren, Allah SWT. Sampai-sampai aku kembali pada firmanNya yang begitu aku suka, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak”, (QS Al Baqarah : 216).

Alhamdulillahirrabbil’alamiin. Segala puji bagi Allah yang Maha Menguasai Alam Semesta. Saat ini aku tengah belajar ditempat kerjaku yang baru. Belajar menyesuaikan diri terhadap hal-hal baru. Dan belajar menerima bahwa takdir Allah itu begitu indah. Meski takdir itu suka ‘nyeleneh’ dari yang kita sebagai manusia bayangkan. Bismillah!

(*)

Advertisements

2 thoughts on “Skenario Tuhan di Kebon Sirih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s