Kirana Wulandari

Bukan Jurnal Sejarah, Jakarta – Kirana Wulandari masih menerangiku, ketika gelisah hati tercurahkan dan menjadi uraian kerinduan dalam barisan kalimat-kalimat. Mungkinkah, perempuan di Lauh Al Mahfuz itu, seindah Kirana Wulandari malam ini? Sesungguhnya hanya Yang Maha Membolak-balikkan Hati HambanNya yang mengetahui. Namun demikian, inilah barisan kalimat-kalimat yang kutuliskan menjadi sebuah surat terbuka untuk perempuan berkerudung panjang dengan pipi kemerah-merahan itu:

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatu. Dengan mengucap nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku menuliskan kerinduanku padamu. Rindu yang sudah sejak lama aku pendam. Entah berapa lama.

Kamu harus tahu, aku selalu berusaha menjadi imam yang baik. Tidak pernah berhenti belajar untuk memahami tuntunan yang sesuai dengan syariat dari Yang Maha Kuasa. Aku sudah mulai meninggalkan sisi kelamku yang dulu. Aku sudah memiliki gambaran masa depan yang aku tuangkan dalam daftar mimpi yang harus terwujud. Kini aku hanya perlu mewujudkannya.

Mewujudkan mereka tentu perlu niat yang ikhlas dan tulus karena Allah. Tidak ada motivasi duniawi  lain yang aku kejar dalam rangka mewujudkan mimpi-mimpi itu. Karena aku sudah memantapkan hati, bahwa surga adalah mimpi terbesarku.

Tapi, apakah kamu tahu kalau surga tidak bisa kudapatkan seorang diri? Aku butuh dirimu, hai perempuan berkerudung panjang yang pipinya kemerah-merahan. Kita bisa menjadi sepasang kekasih yang dirindukan surga. Yang ketika kita bercumbu, seisi langit akan cemburu. Meskipun aku tahu, kalau kita jauh dari sempurna seperti beliau Muhammad SAW dan Khadijah. Walapun nantinya hubungan kita kalah romantis dari Ali dan Fatimah, namun aku tetap membutuhkanmu.

Kita hanya perlu bertemu dalam pertemuan yang halal. Yang dengan pertemuan itu, malaikat membawa keridhoan Allah untuk kita mengikat dalam ikatan pernikahan. Bahkan ketika aku memintamu dari ayahmu, aku sudah siap dengan segala tanggungjawab yang akan aku bawa sebagai konsekuensi dari rasa sayangku karena Allah.

Mengertikah dirimu, kalau kita nantinya bisa mendulang pahala dari setiap kegiatan yang kita lakukan bersama? Sekalipun nanti kamu hanya bisa memasak air, kita bisa menjadikan air itu menjadi langkah pertama membuat kuah bakso kesukaanku. Walaupun ketika menyuci baju kamu terlihat lelah, aku bisa menggantikan tugasmu menyikat kotoran di baju. Bahkan, ketika kamu mulai letih karena seharian membereskan rumah, pijatanku sudah teruji ampuh menghilangkan rasa lelah.

Hai perempuan berkerudung panjang dengan pipi kemerah-merahan, tidakkah kamu mengira bahwa  kita perlu bersatu? Karena nanti aku akan menitipkan anak-anakku padamu. Anak-anak kita, yang nantinya kamu besarkan dalam madrasah kasih sayang dalam disiplinnya kamu. Yang dengannya, kita akan memiliki salah satu bekal ke akhirat kelak; doa anak-anak kita yang soleh.

Maka dari itu, mari kita bungkus mimpi-mimpi itu dalam doa yang tulus dan ikhlas karena Allah. Aku harap kamu sabar, begitupun aku sabar dalam menunggu waktu yang tepat. Menunggu skenario Allah dalam menjalankan peran kita di dalam Lauh Al Mahfuz tersebut. Jangan pernah bosan untuk terus meminta kepada Allah. Begitupun aku tidak pernah bosan untuk melatih diri menahan godaan setan.

Mengakhiri rasa rindu ini, biarlah sinar bulan yang indah di langit sana yang menjadi saksi kalau aku pernah merindukanmu, hai perempuan berkerudung panjang dengan pipi kemerah-merahan.

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatu.”

Ditulis di Jakarta, 23 April 2016.

Advertisements

4 thoughts on “Kirana Wulandari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s