Di Pojok Cililitan  

Bukan Jurnal Sejarah, DH – Akhir pekan ini apa yang sahabat BJS lakukan? Semoga yang dilakukan adalah kegiatan yang bermanfaat tentunya. Membagi sedikit ceritaku di akhir pekan pada minggu kedua bulan April ini tepatnya hari Sabtu, dimulai saat aku, tanteku dan dua orang sepupu menaiki angkutan kota 04 jurusan Cililitan dari Rawasari.

Cukup lama kira-kira satu setengah jam untuk sampai di Cililitan dengan kondisi jalanan Ibu Kota yang penuh dengan kendaraan di akhir pekan itu. Namun demikian, sepanjang perjalanan paling tidak aku jadi mengetahui bagian jalan mana saja yang aku belum pernah lewati. Agar nanti saat berpetualang seorang diri aku tidak salah jalan.

Berbicara jalan-jalan, kami menumpangi angkutan kota itu dalam rangka menuju ke Cimanggis, Depok untuk takziah atau melayat keluarga Gorontalo yang meninggal dunia. Setelah mendapatkan alamat dari keluarga almarhum, rute termudah untuk sampai ke sana adalah dengan menumpangi angkutan kota 04 tersebut. Meskipun hanya sampai di Cililitan, perjalanan selanjutnya kami tempuh dengan menggunakan jasa Grab agar sampai di rumah duka.

Nah, di pojok Cililitan inilah pemberhentian akhir angkutan kota 04 itu. Lebih tepatnya di pusat perbelanjaan Pusat Grosir Cililitan (PGC). Karena tadi kami berangkat sekitar pukul 11.00 WIB, maka sampailah di PGC pukul 12.30 WIB. Melepas lelah duduk di dalam angkutan kota, kami mampir ke kawasan Food court di PGC itu.

Langkah kaki kami berhenti pada sebuah kios makanan khas Sulawesi. Daftar menu yang ditawarkan penjual kami lihat dengan seksama. Hingga pilihanku langsung jatuh pada segelas es kacang merah khas bugis ini.

Es kacang merah khas Bugis ini berbeda dari es kacang merah yang aku pernah tahu. Tetap menggunakan kacang merah yang sudah di rebus sampai matang, namun berbeda di air yang digunakan. Biasanya di rumah makan di Jawa es kacang merah menggunakan air  susu cokelat, namun khas Bugis ini menggunakan gula merah yang dicairkan dan ditambah air lagi. Rasanya semakin gurih dan nikmat tentunya.

Selain itu, es campur Bugis, es pisang ijo dan es palubutung tidak luput dari pesanan kami. Semua ini segar dan cocok disantap saat cuaca di Cililitan itu sangat panas. Bersyukur tentunya kami kepada Yang Maha Memberikan Rejeki.

Ada hal yang menarik saat kami bersantap ria di kios makan tersebut. Ini karena kami satu meja dengan seorang perempuan usia 30-an tahun. Ia sedang menyantap sup ikan khas Bugis, Ilahe, sambil tanteku membuka percakapan basa-basi.

Tanteku memang orang yang supel dan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Dari percakapan tante dengan si perempuan itu, kami mengetahui bahwa ia adalah seorang pengusaha yang memiliki kios dan menjual obat kecantikan di salah satu pasar dekat PGC. Ia mengaku bahwa senang dengan masakan khas Sulawesi ini.

Kemudian tante yang juga pandai memasak masakan khas Sulawesi macam Ilahe tersebut, sekedar membagi resep kepada perempuan yang belakangan aku tahu namanya Yeni tersebut. Maka bersambutlah cerita mereka berdua. Aku dan sepupuku tetap asyik menyantap es kacang merah dan es palubutung yang kami pesan.

Saat menyuap sendok demi sendok kacang merah, aku cukup kaget. Perempuan tadi, Tante Yeni, adalah seorang Mamah Muda yang sudah dua kali menikah. Ia menceritakan dengan gamblang kehidupannya pada pernikahan yang pertama sampai pernikahan yang kedua ini kepada tanteku. Dinamika rumah tangga yang ia jalani dengan suami yang sekarang, sampai kepada hal-hal yang pribadi yang –biasanya- hanya diceritakan orang kepada sahabatnya.

Namun demikian, Tante Yeni tetap bercerita dengan penuh ‘greget’ kepada tanteku. Pada kondisi ini, tanteku memberikan nasihat dan pandangannya. Maklum, tante ini sudah kepala 5, paling tidak ia mengetahui bagaimana dinamika rumah tangga yang dijalani setiap pasangan menikah. Keseruan dua orang perempuan ini bercerita, tidak terasa es kacang merahku habis.

Maka dari itu, setelah aku sempat bertukar nomer telepon dengan Tante Yeni, kami berpamitan. Karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Cimanggis. Sementara Tante Yeni masih ingin berbincang dengan pemilik kios tersebut. Karena mereka sepertinya sudah menjadi sahabat yang akrab.

Setelah menunaikan kewajiban seorang muslim, berlalulah kami menuntaskan niat untuk takziah ke Cimanggis. Pergi ke sana menggunakan jasa Grab. Cukup lama di perjalanan karena memang daerah Cililitan ke Cimanggis adalah kawasan yang padat. Namun akhirnya sampai di rumah duka.

Di sana bertemu dengan saudara-saudara Gorontalo, dan berbincang sedikit soal almarhum dan kehidupannya. Tante yang memimpin pembicaraan tersebut. Aku dan sepupu hanya berjamaah di belakangnya. Sampai akhirnya kami pulang kembali melalui rute yang sama tadi.

Menutup malam minggu kemarin, kami membawa oleh-oleh roti sobek yang enak. Menyantapnya sambil berselancar di dunia maya. Sembari merenungkan hikmah momen-momen di pojok Cililitan siang itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s