Mengetahui Kepekeaan Seseorang dari Tanggal Kelahiran

Bukan Jurnal Sejarah, Jakarta – Yakin kamu orang yang peka? Kalau memang penikmat Bukan Jurnal Sejarah mengaku orang yang peka, aku punya sedikit cerita berdasarkan riset kecil-kecilan yang dilakukan di awal bulan April 2016 ini. Riset ini sebenarnya tidak berdampak terlalu besar sehingga dapat mengubah peradaban orang-orang khususnya di Indonesia. Ini adalah sekedar penarikan kesimpulan yang aku lakukan berdasarkan pengamatan orang-orang sekitarku tentang perhatian terhadap hari ulang tahun.

Berbicara ulang tahun, ucapan selamat dan doa menjadi paket perhatian yang diberikan seeseorang kepada orang yang sedang berulang tahun. Paket perhatian berupa ucapan selamat dan doa. Ini istilah yang aku gunakan untuk menjelaskan tren yang biasa dilakukan orang-orang di Indonesia khususnya. Momen ulang tahun seseorang adalah salah satu momen penting dalam sejarah kehidupan manusia di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan bagi sekelompok orang, momen ulang tahun dirayakan dengan sebuah perayaan yang besar-besaran.

Mulai dari sini, aku perlu sampaikan bahwa aku mulai mengubah kebiasaan untuk tidak merayakan hari ulang tahun. Meski hanya sekedar tiup lilin dan atau mengundang teman-teman untuk ikut perayaan ulang tahun. Konsep ini aku yakini dari agamaku yang menyoal permasalahan ulang tahun. Kemudian membentuk pemahaman pada diriku soal mengucapkan ucapkan selamat ulang tahun. Jika pembaca Bukan Jurnal Sejarah bertanya-tanya soal alasan dan dasarnya, literatur di Internet dan buku-buku populer soal kajian agama islam banyak mengulas soal tersebut.

Namun demikian, aku tidak menutup diri dari doa-doa yang terucap untuk diriku. Meski doa itu diucapkan di hari ulang tahunku, aku tetap mengamini karena sudah menjadi hak kita untuk mendapatkan doa yang baik dari saudara dan kerabat kita sendiri. Maka dari itu, aku tidak menutup diri dari pemberian paket perhatian di hari ulang tahun. Karena isinya terkandung doa, doa yang baik. Selain itu, aku juga berdoa bahwa ketika seseorang memberikan paket perhatian di hari ulang tahun niatnya adalah untuk mendoakan, bukan sekedar memberikan ucapan.

Lalu bagaimana kemudian paket perhatian ini menjadi alat untuk mengukur bentuk kepekaan seseorang kepada kita?

Dari sini, kita bisa mulai dengan memusatkan fokus pada kata kunci paket perhatian. Perhatian merupakan suatu bentuk kepeduliaan yang seseorang berikan terhadap sesuatu di lingkungan sekitarnya.  Bentuk kepedulian terhadap benda yang hidup atau mati, lingkungan hijau, termasuk juga terhadap orang lain. Dalam hal ini salah satunya adalah pada saat hari ulang tahunnya.

Dengan demikian paket perhatian yang diberikan orang lain kepada orang yang sedang berulang tahun merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui kepeduliaan seseorang. Sebagai alat ukur, tentu bisa diukur. Batasan atau sampel dari populasi yang ada juga bisa kita tentukan.

Agar lebih mudah memahaminya, aku akan mengambil contoh kasus yang terjadi dan dialami oleh diriku sendiri. Kejadian ini aku amati kurang lebih sudah tiga tahun yang lalu. Setiap aku berulang tahun, aku mencoba mengetahui siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap hal tersebut, lalu memberikan paket perhatian.

Berdasarkan akta kelahiran, kartu keluarga, dan informasi tanggal lahir yang tercantum di KTP atas nama Rahmaddhony Perwira Fithra Hulalata, aku terlahir di Jakarta pada tanggal 3 April 1992. Pada saat artikel ini ditulis, aku baru saja berusia 24 tahun 1 hari. Teman-teman di akun Facebook milikku kira-kira 2000 orang. Di social media lain seperti Twitter dan instagram masing-masing lebih dari 1000 teman. Belum lagi teman yang terhubung di akun Line Messenger (Line), Whatsapp (WA), dan BlackBerry Messenger (BBM) ada sekitar hampir 2000 teman secara keseluruhan. Memang antara media sosial media dan aplikasi messenger tersebut, teman-temannya saling beririsan. Tapi setidaknya cukup untuk sekedar menjadi pembanding dalam penelitian kecil-kecilanku.

Dari data-data di atas, pada hari aku dilahirkan 24 tahun yang lalu aku masih mendapat paket perhatian yang lebih banyak doanya dari pada ucapannya. Ini yang aku harapkan. Karena bagaimanapun juga, selama 24 tahun dengan hubungan pertemanan yang terjalin, paling tidak ada beberapa orang yang ingat tanggal aku dilahirkan.

Untuk memulai riset ini, aku mengaktifkan fitur “Hidden Birthday” di media sosial Facebook. Tidak memberikan “kode” dengan memasang status ataupun foto profil di Twitter, Instagram, Line, BBM, dan WA. Hal ini menjadi metode untuk membuktikan riset soal kepekaan seseorang dari tanggal kelahiran atau ulang tahun orang lain.

Hasilnya pada tanggal tersebut, 3 April 2016, aku mendapatkan rumusan yang membagi kategori kepekaan seseorang dilihat dari hari ulang tahun. Dari hal ini aku mendapati tiga kelompok atau kategori kepekaan seseorang. Kategori tersebut antara lain; Benar-benar Peka, Ikutan Peka, Tidak Peka.

Pertama, benar-benar peka. Ini adalah kelompok orang-orang yang ingat dengan hari ulang tahun seseorang. Meskipun tidak memberikan hadiah atau kejutan, paket perhatian yang tadi disebutkan diberikan pada hari tersebut, 3 April 2016.

Siapa yang termasuk dalam kelompok benar-benar peka ini? Tentu saja orang-orang terdekat. Mereka adalah orang tua, saudara kandung, saudara sepupu termasuk paman dan bibi. Selain itu, sahabat atau teman-teman terdekat juga bisa menjadi bagian dari kelompok pertama ini.

Kedua, ikutan peka. Kelompok ini merupakan individu yang berada dalam satu lingkungan bersama orang-orang di kelompok pertama tadi. Mereka tidak benar-benar peka karena tidak begitu ingat hari ulang tahun, namun ikut memberikan paket perhatian begitu anggota kelompok pertama memulai untuk menyampaikan paket perhatian tersebut kepada orang yang berulang tahun tadi.

Anggota kelompok kedua ini adalah saudara sepupu juga paman dan bibi yang berada dalam satu grup bersama saudara yang termasuk dalam kelompok pertama tadi. Selain itu juga teman-teman yang lain yang berada dalam satu grup dengan teman yang tadi menjadi anggota kelompok pertama. Keberadaan mereka ini bisa karena satu grup di aplikasi messenger BBM, WA, dan Line. Atau bisa juga karena melihat dari social media ketika anggota kelompok pertama memberikan paket perhatian kepada orang yang sedang berulang tahun tersebut. Bahkan, ada juga situasi karena kelompok kedua ini diberi tahu oleh kelompok pertama bahwa seseorang tengah berulang tahun.

Ketiga, tidak peka. Kelompok ini berisi orang-orang yang benar-benar tidak ingat, benar-benar tidak tahu, bahkan benar-benar tidak peduli. Anggota kelompok ketiga ini adalah mereka yang memiliki sedikit irisan hubungan dengan orang yang berulang tahun. Jadi untuk memberikan paket perhatian di hari ulang tahun pun, rasanya bukan prioritas yang harus dikerjakan.

Berdasarkan pengataman, kelompok ini diisi oleh teman-teman yang hanya sekedar berkenalan di media sosial, teman-teman yang tidak tahu hari ulang tahunku, juga para mantan yang sudah melupakan kenangannya bersamaku.

Kalau mengarah pada jumlah anggota masing-masing kelompok di atas, angkanya sangat kecil. Tidak sampai 1% dari ribuan populasi teman-teman di media sosial tersebut. Hasil ini berdasarkan metode yang aku lakukan sepeti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Pada akhirnya, kesimpulan ini bukan merupakan masalah yang besar. Bagiku pribadi, kesimpulan ini hanya keseruan untuk mengetahui siapa saja dari ribuan teman-teman di media sosial itu yang benar-benar peka. Karena dengan mengetahui siapa saja yang peka terhadap diri kita, paling tidak kita bisa tahu siapa yang nantinya akan bersama kita ketika kondisi kita sedang tidak ‘di atas’.

Jadi, pembaca Bukan Jurnal Sejarah masuk kategori yang mana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s