Jalan-Jalan Berkualitas ala Donie Hulalata

Bukan Jurnal Sejarah, Cilacap – Jika manusia memiliki baterai seperti gawai (gadget) yang sering kita gunakan, mungkin saat ini indikator yang menandakan lemahnya baterai sudah berkedip-kedip kencang di badanku. Nyatanya, manusia adalah makhluk yang super. Hanya dengan tidur yang cukup minimal 5 jam setiap hari, energi kita sedang diisi ulang. Inilah yang setidaknya aku ketahui dalam sebuah kalam Al Qur’an yang aku baca saat sedang kajian.

Isi ulang tenaga ini kaitannya dengan cerita yang akan aku bukukan dalam Bukan Jurnal Sejarah. Mengapa demikian? Karena setiap minggu di bulan Maret 2016 kemarin, aku sudah melakukan perjalanan Bekasi – Jakarta – Cilacap sebanyak lima kali. Bayangkan, satu bulan saja hanya lima minggu, artinya setiap minggu aku sudah bolak-balik juga sebanyak 5 kali.

Perjalanan Pertama : 5 Maret 2016, Jakarta – Cilacap

Sebelum bulan Maret 2016 itu, aku sedang menjemput rejeki di Ibu Kota. Tinggal di Bekasi, di rumah orang tua yang kini ditempati kakak kandungku, aku belajar menguasai rute-rute TransJakarta, Go-Jek, dan Commuter Line. Semua itu dalam rangka untuk membiasakan diri dengan kerasnya jalanan Ibu Kota.

Namun demikian, di bulan Maret 2016 tersebut, kedua orang tuaku memiliki hajat untuk menunaikan ibadah umroh. Mereka akan pergi ke tanah suci pada tanggal 9 Maret 2016, dan akan berada di sana selama 12 hari lamanya. Melalui lembaga Tour and Travel milik swasta yang cukup dikenal di Cilacap, kedua orang tua bersama rombongan bertolak dari Cilacap menuju Jakarta untuk kemudian terbang ke Jazirah Arab. Sebelum itu, mereka semua harus berkumpul di kantor lembaga tersebut untuk berangkat bersama-sama.

Kondisinya di rumah orang tua di Cilacap ini hanya mereka berdua. Ketika harus berangkat menuju tempat berkumpul secara mandiri, aku tidak tega melihat mereka berusaha sendiri sambil membawa dua koper besar dan beberapa tas ransel. Anak mana yang tega berbuat demikian kepada orang tuanya, padahal kondisinya si anak mampu untuk berbakti kepada mereka berdua?

Setidaknya niat untuk berbakti inilah yang aku coba luruskan dalam hati, ketika di dalam perjalanan pulang naik mobil travel dari Jakarta ke Cilacap. Bagaimana tidak, betapa kebaikan orang tua yang dulu merelakan waktu bekerjanya untuk sekedar membelikan aku mainan kesukaanku agar tidak merengek, ingin kurasakan agar aku dapat memahami bagaimana kondisi mereka saat itu.

Rasa syukur kepada Allah, perjalanan pertama ini selamat sampai tujuan. Pagi hari aku sudah sampai di depan rumah yang juga disambut oleh senyum tegas Papah. Ditambah pelukan hangat Mamah, aku benar-benar berteriak “Aku Pulang!” di dalam hati. Melepas lelah di pagi itu, aku menyicipi kopi susu buatan Mamah. Alhamdulillah…

Perjalanan Kedua : 13 Maret 2016, Cilacap – Bekasi

Satu minggu aku habiskan waktu di Cilacap. Merasakan kembali bagaimana bau khas pantai Teluk Penyu menusuk ke bulu hidung. Mencoba bersosialisasi dengan lingkungan Cilacap dengan bertegur sapa dengan dua orang sahabatku di kedai kopi yang juga milik teman. Bahkan aku sempat membukukannya dalam cerita di Bukan Jurnal Sejarah berikut; “Aku, Kamu, Kita Bertiga, dan Donat di Kedai Kopi”.

Sampai pada akhirnya, kakakku yang di Bekasi tadi menyusul pulang ke Cilacap. Ia merencanakan untuk memakai mobil Papah dalam rangka membawa keluarganya ke Cilacap pada saat Papah dan Mamah pulang dari umroh. Disamping itu pula, karena mobil ini memang tidak ada yang memakai selama Papah dan Mamah pergi.

Maka, bertolaklah kami berdua ke Bekasi. Cukup menyenangkan karena hanya 9 jam perjalanan yang kami tempuh. Lagi-lagi, rasa syukur aku ucapkan, karena kami berdua sampai di Bekasi pukul 3 pagi di tanggal 14 Maret 2016.

Perjalanan kedua kali ini, cukup mengherankan bagiku. Karena aku sempat ragu apakah bisa kembali ke Ibu Kota pada minggu ini. Hal ini karena aku mendapat kesempatan untuk mengikuti psikotes di NET Media. Tadinya aku hanya berpikir, jika bisa datang untuk mengikuti psikotes ya syukur, tidak pun juga tidak apa-apa. Namun, kuasa Allah yang Maha Berkehendak memang luar biasa.

Agenda utama di perjalanan kedua tersebut pun terlaksana, maka satu minggu berikutnya, jadwal Papah dan Mamah pulang dari umroh. Aku sudah memesan tiket untuk pulang ke Cilacap menggunakan Kereta Api.

Perjalanan ketiga: 20 Maret 2016. Jakarta – Cilacap

Sesampainya di rumah (lagi), aku seperti biasa melepas rindu dengan kalajengking peliharaan. Aku tengok kondisinya yang mulai menggemuk. Selain itu aku juga memberi makan ikan-ikan di kolam. Menyapu rumah ala kadarnya, dan kegiatan lain yang bisa aku lakukan di rumah, selain tidur.

Aku pulang di minggu ini, karena 3 hari kemudian, Papah dan Mamah sesuai jadwal akan tiba di Indonesia langsung menuju ke Cilacap. Sejurus dengan yang sebelumnya, kasihan bila mereka harus memesan taksi untuk mengantarnya sampai ke rumah.

Alhamdulillah, Allah kasih jalan lewat seorang sahabat yang ikhlas meminjamkan mobilnya. Aku gunakan untuk menjemput orang tuaku dari kantor biro perjalanan umroh, menuju rumah. Mereka sampai di Cilacap tepat pukul 04.00 WIB pagi hari. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana mereka akan pulang ke rumah di jam tersebut, padahal taksi di Cilacap juga susah untuk didapatkan.

Setibanya di rumah, aku sempat merasakan sisa-sisa keseruan ibadah di tanah haram itu. Papah dan Mamah begitu antusias ketika membicarakan suasa beribadah di sana. Maklum saja, terakhir mereka ke tanah suci Mekah adalah saat ibadah haji, tahun 2007.

Kisah di perjalanan ketiga ini begitu menyenangkan. Karena baru kali ini, kami keluarga besar Papah dan Mamah dapat berkumpul. Kakak pertamaku lengkap dengan istri dan anak berusia 1 tahunnya. Kakak keduakua yang juga bersama suami dan anaknya yang berusia 2 tahun. Kami semua hangat dalam rumah yang letaknya di kawasan kantor Kabupaten Cilacap ini.

Bahkan, yang paling menggembirakan, kami sekeluarga dapat mengabadikan momen ini dalam 1 frame di foto studio. Momen yang jarang, dan sangat berharga. Tiga generasi dalam 1 bingkai, bagiku ini adalah momen yang tidak akan ternilai harganya.

Perjalanan Keempat: 27 Maret 2016, Cilacap – Bekasi

Meski hanya beberapa hari, akhirnya sampai juga pada perjalanan berikutnya. Perjalanan tersebut adalah mengantar kakaku yang pertama beserta keluarganya. Selain itu, Papah juga ingin bersilaturahim dengan keluarga di Ibu Kota. Maka pada hari Minggu di tanggal itu, kami pergi ke Jakarta menggunakan mobil. Rute melewati jalur Pantai Utara (pantura) ini menjadi pilihan, karena kami dapat mampir ke rumah kakakku yang kedua itu.

Sesampainya di Jakarta pada dini hari, aku, Papah, dan kakakku sekeluarga langsung menyerah di pelukan kasur. Perjalanan yang kurang lebih ditempuh selama 11 jam itu cukup menyita energiku yang mengendarinya.

Hari berikutnya, karena merasa sudah mulai fit, Papah mengajakku untuk silaturahim ke adik-adik papah –Tanteku- yang tinggal di Jakarta. Cukup seru dan heboh, karena kunjungan kami ini turut serta mengajak cucu Papah dari kakaku yang pertama bernama Alfath. Jadilah dia menjadi “boneka” oleh Tanteku dan para sepupu.

 Hal yang tidak kalah menarik di minggu ini dari minggu-minggu sebelumnya, adalah aku mendapat kesempatan untuk ikut merasakan tayangan D’Academy 3 Indosiar. Langsung dari Studio 5 Indosiar. Bukan tanpa sebab, selain diajak oleh saudaraku, juga karena peserta acara Kontes Dangdut tersebut adalah saudara jauhku dari garis keturunan Papah di Gorontalo.

Peserta itu adalah Ismail. Laki-laki yang memiliki postur badan kecil ini adalah Oom –ku. Aku juga baru mengetahuinya ketika diceritakan panjang lebar oleh saudaraku.

Pengalaman menonton secara langsung di studio memang hal baru bagiku. Karena biasanya hanya mennyaksikan acara tersebut di layar televisi saja.

Perjalanan di minggu ini sungguh berkesan. Namun pada hari berikutnya, aku dan Papah harus kembali ke Cilacap.

Perjalanan Kelima: 29 Maret 2016, Bekasi – Bandung – Cilacap

Mendekati berkahirnya bulan Maret 2016, aku dan Papah bersiap untuk pulang ke Cilacap. Kali ini rutenya melalui Jalur Selatan, melewati kota Bandung. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menggoyahkan hati kami untuk tidak mampir ke Bandung.

Atas ijin Allah, hari itu aku dan Papah ke Bandung, bertepatan dengan undangan Dosen di kampusku yang memberitahu bahwa sertifikat profesi PR sudah bisa diambil. Sebelumnya, di Bukan Jurnal Sejarah, aku pernah menulis ceritaku mengikuti Sertifiikasi Profesi PR bukan? Cek tulisannya di sini; Tingkatkan Kualifikasi dengan Sertifikasi.

Nah, di Bulan Maret 2016 ini sertifikat kompetensinya sudah terbit. Dosenku itu memberi tahu bahwa sertifikat bisa diambil di meja kerjanya di kampus. Lebih lanjut beliau memberi tahukan jadwalnya bisa dilakukan selama jam kerja.

Maka setelah berunding dengan Papah, pagi hari kita berangkat ke Bandung dari Bekasi. Mampir ke kampus untuk mengurus pengambilan sertifikat PR tersebut.

Setelah itu, perjalanan kami dilanjutkan ke Cilacap. Sepanjang perjalanan menikmati lika-likunya serta macet yang dikarenakan jalan yang terjal di Jalur Selatan. Selalu menyenangkan jika kami melewati Jalur Selatan. Adrenalin dimainkan saat harus bermanuver menaik-turunkan kendaraan melewati jalanan berbukit. Hingga akhirnya kami sampai di Cilacap pada malam hari.

****

Lima minggu dalam satu bulan, aku melakukan perjalanan yang berulang. Entah mengapa, tapi setiap perjalanan selalu ada tujuan. Selalu ada pelajaran dan hikmah yang aku dapat dari setiap petualangan tersebut. Meskipun ada yang menyibir dengan mengatakan “Don, abisnya kamu jalan-jalan terus sih… “ aku tidak mau mempedulikannya.

Lalu, pada saat ini, Bulan Maret 2016 itu ternyata adalah awal mulanya. Karena jika Allah mengijinkan, Bulan April ini, aku akan bertolak lagi, ke Jakarta. Ada keperluan yang harus diurus demi masa depanku. Maka, aku cukupkan menikmati kerinduan di Kota Bercahaya ini. Semoga aku bisa mengikhlaskan segala kenikmatan di sini, demi kesuksesan yang lebih nikmat di masa depan.

Dengan demikian, akan masih banyak lagi petualangan yang nantinya terdokumentasi di Bukan Jurnal Sejarah. Bismillah! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s