Aku, Kamu, Kita Bertiga dan Donat di Kedai Kopi

Cilacap, DH – Siapa yang bilang berteman itu harus pilih-pilih? Aku setuju dengan konsep pertanyaan ini. Maksudnya adalah hidup itu pilihan, maka berteman juga adalah pilihan. Berteman dengan siapa saja juga pilihan. Namun berteman dengan orang-orang yang berkualitas adalah pilihan yang tepat.

Analoginya seperti tisu  yang direndam di dalam gelas berisi cairan. Maka ia akan menyerap cairan yang ada di dalam gelas tersebut. Entah itu cairannya adalah air, bensin, atau minyak tanah, tisu akan menyerapnya. Ini yang dimaksud gejala kapileritas.

Maka dari itu, aku memutuskan untuk memilih teman-teman yang berkualitas agar aku dapat menyerap ilmu dan manfaat dari mereka. Tujuannya tentu aku dapat belajar proses kehidupan yang mereka jalani. Terlebih lagi aku bisa memahami hikmah dan pelajaran yang didapat dari apa yang mereka kerjakan. Merefleksikan dengan apa yang aku jalani di kehidupanku, untuk kemudian aku bukukan dalam catatan refleksi kehidupan bagi diriku sendiri. Namun jauh dari pada itu, aku dapat menyambung silaturahim dengan teman-teman yang baik ini.

Berdasarkan konsep pemikiran inilah, aku menyiapkan waktu untuk bertemu dengan dua teman perempuan di sebuah kedai kopi. Meskipun namanya kedai kopi, aku memesan cokelat panas karena aku merindukan kehangatan pada sore hari itu cuaca di Cilacap sedang dingin.

Mereka, dua temanku ini, namanya Siti Purwatiningsih dengan panggilan akrab “Kanet”, dan Syafiqah Nurul Atiyah yang akrab dipanggil “Sapi”. Keduanya kini sudah bekerja di perusahaan swasta di Kota Cilacap. Kanet bekerja di industri pangan, sementara Sapi sedang merintis karir di perusahaan kontraktor.

img-20160310-wa0012.jpg
(kiri ke kanan) Sapi, Kanet, dan Donie Hulalata di Kedai Kopi Grek! pada hari Kamis (10/03). (Sumber: Swafoto/ Dok. Pribadi)

Obrolan kami bertiga di kedai kopi itu tidak jauh-jauh seputar pekerjaan. Karena sebelum berada di posisi ini, Kanet sudah bekerja kurang lebih satu tahun, sementara aku dan Sapi adalah dua orang fresh graduate yang merasakan kerasnya perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan di era pemerintahan saat ini.

Sambil menyicipi dua buah donat yang enak buatan Kanet, Sapi bercerita tentang kisahnya yang berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan tersebut. Ia mengaku sempat sedih karena merasa ilmunya sebagai seorang Sarjana Teknik Industri malah tidak mengantarkan dirinya untuk mendapatkan pekerjaan.

Sapi dekat dengan kedua orang tua. Ia bercerita bahwa orang tuanya mendukung dirinya untuk bekerja, namun berharap agar pekerjaannya nanti di Cilacap saja. Hal ini mengingat kondisi kesehatan sang ibu yang tidak sesehat dulu. Maka sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya, Sapi mengaku juga ingin dekat dengan orang tuanya itu saat ia bekerja.

Terlebih lagi, ia adalah seorang perempuan. Anak yang disayang oleh orang tuanya sendiri. Pintu masuk surga bagi ayahnya sebelum tanggung jawab sang ayah lepas ketika Sapi nantinya dilamar oleh “Pangeran Bersorban Putih”. Dengan kondisi ini, tentu orang tua Sapi berharap yang terbaik untuk mereka berdua.

Maka dari itu, usaha Sapi untuk bekerja namun tetap dekat dengan orang tuanya ini berbuah hasil ketika bercampur dengan doa serta ridho Allah melalui orang tuanya. Pada awal bulan lalu ia mendapat panggilan kerja yang kantornya tidak jauh dari rumahnya. Ia puna berhasil mendapatkan pekerjaan itu.

Sapi bercerita dengan penuh semangat sambil menggigit bagian terakhir donat itu. Ia menyampaikan bahwa semua hal yang terjadi pada kita selalu ada hikmahnya. Dengan catatan kita sabar dalam menjalani setiap skenario Sang Maha Pencipta ini.

Sebelum ini, ibunya Sapi sempat mengalami operasi usus besar. Pasca operasi, Sapi harus merawat dan menjaga ibunya. Padahal ia masih aktif untuk mengirim lamaran kerja serta aktivitas lainnya yang ia senangi. Namun ia memutuskan untuk memilih jalan fokus menemani sang ibu di rumah. Mengantarkannya ke Yogyakarta untuk jadwal kontrol dokter, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kesehatan sang ibu.

Pada satu titik, ia ikhlas akan apa yang ia lakukan. Ia mengaku sudah rela waktunya untuk dirinya sendiri sebagai seorang perempuan harus diganti dengan urusan rumah tangga di keluarganya. Seperti memasak, menyuci, dan membersihkan rumah. Kegiatan-kegiatan rumah tangga yang biasanya di lakukan oleh ibunya. Namun semua itu ia lakukan demi berbakti kepada orang tuanya.

Inilah hikmah yang dimaksud Sapi. Ketika semua hal yang dilakukan dengan ikhlas dan sabar, hasilnya akan baik. Tidak terduga dan begitu mengejutkan. Kira-kira begitulah cerita yang aku simpulkan dari percakapan di kedai kopi. Dan ini akan menjadi tambahan referensi bagiku yang sedang menuliskan kesuksesan bagi diriku sendiri.(*)

Advertisements

One thought on “Aku, Kamu, Kita Bertiga dan Donat di Kedai Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s