Simulasi Mimpi Dari Sebuah Hotwheels

Bukan Jurnal Sejarah, Bekasi – Siapakah yang pernah bermimpi memiliki mobil mewah seharga Rp 1 Milyar atau bahkan Rp 7 Milyar? Jika kamu pernah demikian, berarti tidak jauh berbeda denganku yang punya mimpi seperti itu. Meski demikian, di usia kepala dua seperti saat ini memiliki mobil sehara Rp 100 juta-an saja butuh usaha yang tidak mudah.

Kali ini, Bukan Jurnal Sejarah menjadi tempat mencurahkan ide tentang sebuah konsep simulasi mimpi. Mimpi untuk memiliki mobil mewah yang harganya selangit itu bisa disimulasikan. Menyimulasikan mimpi berarti melakukan tindakan percobaan untuk membuktikan atau menjalankan sesuatu.

Konsep simulasi mimpi yang aku lakukan untuk memiliki mobil mewah seharga Rp 1 Milyar itu adalah dengan memiliki mainan die-cast. Nama die-cast diambil berdasarkan  proses pembuatannya yang dilakukan dengan cara melelehkan logam campuran zinc dan alumunium. Campuran logam ini kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk model kendaraan bermotor (mobil, motor, dan truk). Proses inilah yang disebut die-casting.

Selain merek yang terkenal seperti Hotwheels, khususnya di Indonesia ada lebih dari lima merek mainan die-cast yang dipasarkan. Diantaranya Matchbox, Tomica / Takara Tomy, Maisto, RMZ, Kinsmart, dan lain-lain. Masing-masing merek tersebut bermain di skala yang beragam mulai dari 1:64 hingga 1:12. Dengan merek yang berbeda dan skala yang ditawarkan juga berbeda, harganya pun juga berbeda.

Aku menjadi penggemar Hotwheels sudah sejak usia sekolah dasar. Namun pada saat itu, karena masih anak-anak, koleksi mobil-mobil Hotwheels pun aku tidak pedulikan. Ketika sudah dewasa baru sadar aku memiliki koleksi Hotwheels dari bangkai-bangkainya yang aku temukan di kotak mainanku di rumah. Barulah sejak 2011, saat aku kuliah, aku mulai menyukai dan mengoleksi kembali miniatur mobil-mobil yang boleh dimainkan anak usia 3 tahun ke atas ini.

Menggemari mainan Hotwheels ini ternyata menumbuhkan sensasi yang berbeda. Karena bagiku yang saat ini berusia kepala dua, bermain Hotwheels adalah sebuah tindakan yang kurang tepat. Maka dari itu, aku menggunakan Hotwheels untuk kebutuhan yang sesuai dengan usiaku saat ini. Yaitu sebagai koleksi, sebagai objek fotografi, dan sebagai sarana menyimulasikan mimpi.

Bukan Jurnal Sejarah - Pickup Ford F 150 Raptor.jpg
Ford F-150 Raptor, Hotwheels yang berjenis pick up truck ini menjadi salah satu mobil impian. (Bukan Jurnal Sejarah)

Sebagai seorang laki-laki berbadan besar, aku termasuk orang yang menyukai mobil-mobil besar seperti jenis Sport Utility Vehicle (SUV) dan juga jenis truk atau Pick Up Truck.  Bagiku, dua model itu cukup merepresentasikan diriku ini. Selain itu, mobil jenis ini dapat berguna dan lebih bermanfaat ketika digunakan dengan tepat. Mobil SUV bisa menampung orang dan barang lebih banyak dari pada mobil jenis city car. Bahkan, kalau aku sedang dalam misi kemanusiaan, aku membayangkan ketika nanti memiliki mobil pick up, barang-barang logistik yang akan disalurkan dapat diangkut di mobilku itu. Prinsip yang sederhana bagiku.

Sementara itu, di sisi lain, jika kamu pernah mengikuti atau minimal membaca tentang kekuatan mimpi pasti tahu cara-cara mewujudkan mimpi. Tentu selain ditulis, kita berusaha untuk mewujudkannya. Usaha ini lah yang nantinya akan terpola di pikiran kita untuk mencapai tujuan kita mewujudkan mimpi tersebut.

Maka dari itu, dalam hal mewujudkan mimpi aku melakukan simulasi untuk memiliki mobil SUV atau Pick Up dengan mulai mengoleksi die-cast Hotwheels ini. Melalui simulasi ini, aku minimal bisa membayangkan model, detil, fitur, dan bentuk dari mobilku kelak. Supaya juga tidak terlalu kagok ketika nanti sudah memiliki mobil yang sebenarnya sehingga berlagak seperti OKB alias Orang Kaya Baru.

Pada akhirnya, ketika kita sudah berani bermimpi akan sesuatu, jangan ragu untuk menuliskannya. Kemudian caraku untuk berusaha mewujudkannya adalah dengan melakukan simulasi mimpi. Sampai nanti terpola di pikiranku, bahwa usahaku akan lebih maksimal ketika harus mewujudkan mimpi yang sebenarnya kelak.

Semoga, dengan menuliskannya di Bukan Jurnal Sejarah ini, aku sudah mendokumentasikan tentang caraku mewujudkan mimpi. Namun yang lebih diharapkan lagi adalah kebermanfaatan tulisan ini bagi pembaca yang rela meluangkan waktunya membaca. Sampai bertemu lagi di tulisan selanjutnya! (DH)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s