Yakin, TAK yang Kamu Kejar Bermanfaat?

Bukan Jurnal Sejarah, BandungMahasiswa di era kekinian seperti saat ini bukan lagi menjadi kelompok masif yang revolusioner. Meskipun masih ada kelompok mahasiswa yang menyandang predikat aktivis, namun jumlahnya bisa dihitung jari tangan dan jari kaki. Sisanya adalah kelompok mahasiswa yang hidup dengan orientasi untuk pencapaian dirinya sendiri.

Pencapaian ini dapat didefinisikan ke dalam dua hal, yaitu pencapaian akademis dan pencapaian non-akademis. Sementara itu, bukti dari pencapaian ini adalah nilai dalam bentuk angka atau huruf yang tertulis pada selembar kertas. Selembar kertas Transkrip Nilai.

Transkrip nilai sendiri pada beberapa kampus juga mendapat kekhususan. Yaitu Transkrip Aktivitas Kemahasiswaan atau biasa disingkat menjadi TAK. Transkrip yang satu ini adalah akumulasi nilai dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa. Beban nilai transkrip tiap mahasiswa dibuat sama. Rentangnya mulai dari 15 sampai 60 poin.

Sementara itu, untuk mendapatkan TAK ini, seorang mahasiswa harus mengikuti berbagai kegiatan baik di dalam kampus atau di luar kampus. Bahkan yang berskala regional sampai skala internasional. Seperti banyak cara menuju Roma, begitulah untuk mendapatkan TAK; banyak caranya.

Acara seminar, loka karya, dan berkegiatan menjadi panitia pada sebuah acara jadi salah satu cara praktis mendapatkan TAK. Karena acara atau kegiatan tersebut menghasilkan sebuah bukti sertifikat yang nantinya akan dikumpulkan, diunggah dalam sebuah sistem akademik, untuk selanjutnya “ditabung” dan menjadi nilai TAK.

Sedikit kembali kepada beban nilai TAK yang tadi disebutkan, selain kegiatan yang tersebut di atas, masih banyak lagi kegiatan yang dapat menjadi pundi-pundi TAK. Bekerja, berhasil menjadi juara pada sebuah lomba tingkat nasional atau internasional, dan berhasil mengirimkan publikasi ilmiah pada jurnal nasional atau internasional juga menjadi ladang mengeruk poin TAK.

Jika mau menyederhanakan pemikiran, TAK ini bertujuan untuk  memunculkan, mengasah, dan melatih soft skill yang dimiliki oleh setiap mahasiswa pada sebuah perguruan tinggi. Potensi diri seorang mahasiswa harapannya dapat muncul dan menjadi ‘senjata’ ampuh bagi kehidupan di masa depan mahasiswa tersebut. Setidaknya harapan dengan adanya TAK demikian.

Maka dari itu, kampus sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi siap guna bagi bangsa. Tanggung jawab ini ditranslasikan dengan mewajibkan mahasiswa pada tingkat satu sampai tingkat empat untuk mengantongi sejumlah nilai TAK sebagai syarat kelulusan.

Sifat kegiatan wajib inilah yang kemudian menjadi komoditi atau nilai jual sebuah kegiatan untuk menggaet peserta. Hal ini dapat dicontohkan seperti penyelenggaraan acara seminar kepemimpinan pada sebuah mata kuliah di satu program studi. Kegiatan ini pada dasarnya adalah yang sangat bermanfaat. Namun melihat daya tarik mahasiswa untuk mengikutinya, tidak seperti yang dibayangkan. Maka iming-iming TAK adalah jurus jitu untuk memenuhi barisan kursi pada acara kuliah tersebut.

DSCN2650
Setelah lulus, dan berhasil mengumpulkan TAK, sejauh mana TAK yang kamu kumpulkan bermanfaat bagi pengembangan diri kamu? (Bukan Jurnal Sejarah)

Hal lain yang pernah dijumpai adalah perheletan acara musik sore di kantin fakultas. Pengisi acaranya tidak lain adalah grup band mahasiswa yang lolos seleksi atau audisi sebelumnya. Agar lebih meriah, dalam poster publikasi acara itu, penyematan kata-kata “Gratis TAK” menjadi pemandangan yang dijumpai.

Dari sini, mulai terlihat bahwa TAK mengalami pergeseran fungsi. Dari yang semula menjadi acuan pengembangan diri seorang mahasiswa, kini menjadi lahan subur untuk mendulang nilai agar nantinya syarat nilai minimal TAK terpenuhi.

Pergeseran fungsi TAK ini sebenarnya masih prematur untuk menjadi generalisasi pendapat. Namun gambaran yang terpapar sebelumnya adalah pengalaman pribadi yang pernah dialami sebelumnya. Pemaparan sebelumnya itu adalah kekhawatiran bahwa potensi-potensi laten bergesernya fungsi TAK ini mulai terlihat.

Dampaknya adalah, mahasiswa nantinya memiliki mindset atau pola pikir bahwa kuliah selain mendapat IPK (indeks prestasi kumulatif) bagus, juga harus mengumpulkan TAK agar bisa lulus kuliah. Padahal menjadi mahasiswa bukan hanya dua hal itu yang dikejar.

Seyogyanya, menjadi mahasiswa selain dituntut untuk cerdas, juga diminta aktif, serta memiliki kemampuan praktis yang dapat menunjang kegiatannya nanti usai kuliah. Proses untuk menjadi cerdas, aktif dan memiliki kemampuan ini lah yang menjadi hal utama bagi seorang mahasiswa. Tanpa melewati proses tersebut sebenarnya mahasiswa tengah bermetamorfosisi menjadi mahasiswa ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang-kuliah-pulang).

Padahal jika mengambil logika terciptanya perhiasan emas, proses ini bisa menjadi gambaran. Perhiasan emas menjadi indah ketika dipajang di etalase toko emas atau bahkan melekat pada anggota tubuh manusia yang menggunakannya. Kalau saja tahu proses pembuatannya bahwa si emas harus ditambang dari tanah, dipilih yang berkualitas, dipanaskan, ditempa dan akhirnya jadi perhiasan. Inilah esensi dari sebuah proses. Hasil yang baik tidak akan mengkhianati prosesnya.

Maka dari itu, TAK adalah hasil, sementara cara untuk mendapatkannya adalah proses. Sebagai mahasiswa yang mengharapkan cerahnya masa depan, pasti akan berpikir bahwa proses mencapai TAK adalah hal yang harus dikejar. Karena dengan menjalani dan menikmati proses, sebenarnya seseorang sedang belajar.

Jangan sampai bergesernya fungsi TAK ini terjadi. Cara yang paling mudah adalah dengan mengenyampingkan pemikiran bahwa TAK hanya formalitas untuk syarat kelulusan. Bagaimana proses itu memiliki manfaat bagi pengembangan diri seseorang, itulah yang harus diutamakan. (*)

Didokumentasikan di Bukan Jurnal Sejarah oleh Donie Hulalata, S.I.Kom., alumni Ilmu Komunikasi FKB Telkom University dengan IPK 3.47 dan TAK 65 poin.

Advertisements

One thought on “Yakin, TAK yang Kamu Kejar Bermanfaat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s