Sepatu Boots Saksi Asmara di Lorong Kampus

Bandung, DH – “Dukk.. Dukk.. Dukk..” suara langkah sepatu boots yang aku pakai saat itu mengisi perjalanan sore hari menuju rumah kos temanku. Untuk sampai ke sana akses yang paling mudah yaitu melalui lorong kampus. Ada jarak kurang lebih 50 meter yang harus dilalui melewati lorong itu sebelum nantinya akan bertemu lapangan tenis dan pintu keluar yang kecil. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan sejauh 50 meter berikutnya untuk sampai di rumah kos temanku ini.

Semuanya berjalan biasa saja, sampai ketika langkah sepatu boots-ku ini bertemu dengan dua pasang sepatu kets di lorong kampus tersebut. Rupanya dua pasang sepatu kets tadi adalah milik dua orang remaja muda-mudi. Mereka terlihat mengenakan pakaian seragam putih dan biru dongker, ciri khas dari seragam mahasiswa di kampus yang aku lewati itu.

Perjalananku menuju rumah kos temanku memaksa diriku harus mendekat kepada sepasang remaja tadi yang juga berjalan ke arahku. Mereka berdua seperti telah menyudahi kegiatan perkuliahan di hari itu. Entah mereka hendak menuju ke suatu tempat, atau akan pulang menuju tempatnya masing-masing. Tapi pada saat itu, sepatu boots ini bersamaku melihat mereka selalu berdua, berpegangan tangan erat seperti anak kecil yang memegang balon kesayangannya yang tinggal empat buah.

Sejurus kemudian aku hanya menyimpulkan senyum di ujung bibir. Melihat mereka saling bercanda tawa sambil tangannya tetap dieratkan. Dua pasang sepatu kets yang mereka pakai juga kompak berjalan bersama, tanda mereka saling berirama bahkan dalam berjalan.

Aku mencoba menahan perasaan. Karena rasanya seperti berjalan di suatu tempat yang aku tidak kenal berantahnya. Betapa tidak, karena sepanjang lorong tadi aku hanya mendengar irama indah dari sepasang sepatu boots yang aku pakai ini. Kini setelah melihat mereka, aku dan sepatu boots ini menjadi saksi asmara di lorong kampus.

Hal ini menjadi sebuah hiburan di sore hari. Karena aku seperti masuk ke dalam skenario pepatah lama yang populer mengenai percintaan anak remaja. Pepatah yang menceritakan bahwa “Kalau dua insan sedang dimabuk asmara, dunia serasa milik berdua. Orang lain hanya tinggal sementara”.

Namun kemudian, ternyata tujuan kami tidak sama. Pada akhirnya kami dan mereka berpisah di sebuah persimpangan, masih di lorong kampus itu. Karena tujuanku adalah ke rumah kos teman yang masih berada sekitar 70 meter lagi di depan. Sementara mereka akan pergi menuju ke tempat yang aku bahkan tidak ingin mengetahuinya.

Bagaimanapun, aku tetap yakin melangkah pasti. Meski sore itu tetap saja aku berjalan masih ditemani dengan sepasang sepatu boots. Karena dengan demikian aku bisa lebih menikmati dunia bersama seisinya yang lebih indah dari pada harus berdua saja dengan pasangan (yang belum halal). Maka dari itu, rasa syukur selalu terucap bahwa aku masih bisa berjalan dengan santai. Hingga kemudian aku sampai di rumah kos temanku ini. (*)

Advertisements

One thought on “Sepatu Boots Saksi Asmara di Lorong Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s