Manusia Setengah Amoeba: Menguak Cerita “Si Mimin”

Menyudahi kehidupan di Bandung selama empat tahun, rasanya aku gagal move on. Sampai sekarang kenangan di Bandung masih tumbuh subur bagai brewok yang tumbuh di daguku. Termasuk kenangan menjadi si Mimin. Hal ini membuatku berpikir bahwa nama tengahku sudah bertambah menjadi “media sosial”.

Cilacap, DH – Mendengar nama Amuba (amoeba), kita seperti diingatkan pada pelajaran biologi saat masih sekolah. Secara harfiah, Amuba (amoeba) adalah organisme uniseluler atau hanya terdiri dari hanya satu sel. Amuba termasuk genus Protozoa.

Menjadi organisme uniseluler, amuba memiliki karakteristik dan siklus hidup yang sangat berbeda dibandingkan makhluk hidup lainnya. Amuba bereproduksi secara aseksual. Proses ini sangat mirip dengan pembelahan sel yang terjadi di dalam tubuh organisme bersel banyak seperti mamalia. (Sumber: Perkembangbiakan Amuba: Ketahui Siklus Hidup Amuba).

Jika ada manusia yang bisa membelah diri, mungkin sebutan “Manusia Setengah Amoeba)” bisa jadi sesuai dengan manusia tersebut. Namun jika dipikir dengan akal sehat memang tidak mungkin manusia bisa membelah diri. Mengingat struktur tubuh manusia yang begitu kompleks dan sempurna.

Maka dari itu, cermati sebutan tadi dengan akal sehat yang imajinatif. Karena yang membelah diri bukan fisiknya, tapi jiwa, dan pikirannya. Membelah diri seperti ini ternyata bisa dilakukan oleh setiap orang.

Ada dua tipe orang yang bisa membelah jiwa dan pikirannya di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang berkepribadian ganda dan orang-orang yang menjadi admin media sosial.

Ketika memutuskan untuk menjadi admin media sosial, seseorang ternyata dituntut untuk menyerupai atau bahkan memiliki kemampuan seperti amuba. Yaitu membelah diri. Namun jelas tujuannya bukan untuk berkembang biak melainkan untuk berinteraksi dengan pengikut atau followers di media sosial.

Sementara itu, media sosial yang terkenal pada rentang tahun 2010 sampai sekarang memang berupa-rupa. Diantaranya Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain. Media sosial tersebut menyediakan ruang bagi pengguna atau user untuk membagikan konten informasi baik berupa tulisan, gambar, suara, video, hingga gabungan dari semua itu.

Selain itu, produk hasil inovasi perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi ini juga memungkinkan user tadi untuk memiliki sebuah akun. Akun media sosial inilah yang kemudian berhubungan dengan akun yang dimiliki user lain di seluruh dunia. Mereka saling berjejaring hingga membentuk sebuah komunitas digital yang begitu luasnya.

Namun pada perkembangannya, user yang memiliki akun media sosial itu tidak hanya manusia secara individu. Tapi juga sebuah organisasi atau lembaga yang dimiliki perseorangan ataupun perseroan. Bahkan ada pula organisasi pemerintah hingga swasta. Mereka yang berorientasi bisnis sampai yang hanya sekedar bersifat sosial. Semua itu memiliki akun di media sosial.

Sampai-sampai, lembaga pendidikan saja juga memiliki akun media sosial. Entah itu dikelola oleh pihak kampus atau dikelola oleh mahasiswa. Akun media sosial yang bermain dilingkungan perguruan tinggi ini kalau ditelusuri lebih dalam memiliki karakter yang jelas saat menyampaikan kontennya. Mereka sebenarnya menjadi “jembatan” yang menghantarkan informasi dari kampus kepada mahasiswa, dari mahasiswa ke mahasiswa, organisasi kemahasiswaan ke mahasiswa, bahkan kombinasi dari ketiganya.

Atas gambaran itulah, ceritaku dimulai saat ini.

****

Aku adalah laki-laki yang menyebut diri sendiri sebagai “Internet-Addict User“. Saking kecanduannya, semasa kuliah hampir 15 jam setiap hari aku menjelajah dunia maya. Bahkan bila hari libur tiba, sahabat setiaku adalah Internet.

Perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memang dahsyat sejak 2005. Saat itu aku memulai berkenalan dengan Internet melalui situs pertemenan Friendster. Sampai pada tahun 2007 aku memiliki akun Facebook. Dan pada tahun 2009 aku dikenalkan dengan Twitter.

Semua berlanjut sampai sekarang aku akrab dengan Instagram. Sepanjang kurun waktu tersebut, 2007 sampai sekarang, semua fitur Internet ini memiliki istilahnya sendiri. Salah satunya adalah media sosial -cerita ini tidak terlalu menyoroti definisi dan sejarah dari media sosial-.

Bahkan pada masa kuliah di tahun 2010 sampai 2014, aku menyebut itu adalah masa keemasanku bercumbu dengan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Path. Aku mulai mengenal pengaruh media sosial pada peradaban manusia di masa yang akan datang. Aku belajar melihat celah atau peluang dari media sosial tersebut.

Banyak peluang yang aku tahu dari media sosial. Peluang usaha, peluang belajar, bahkan peluang menemukan jodoh. Kisahku selanjutnya yang akan ditulis, mungkin akan menjadi ‘artefak digital’ jika dibaca dalam waktu 10-15 tahun ke depan. Namun setidaknya aku pernah ikut merasakan dan terjun ke dalam perkembangan dunia TIK, melalui media sosial.

****

(2010) @InfoIMTelkom : Awal Mula “Membelah Diri”

Bulan Agustus tahun 2010 aku masih menjadi diriku yang sebenarnya. Ini berlangsung sampai dengan empat bulan menjalani kehidupan dengan status mahasiswa. Karena setelah itu aku bertemu dengan seorang lelaki berbadan besar yang pipi dan dagunya ditumbuhi rambut atau istilahnya jenggot.

Laki-laki itu namanya Gabriel Sas Hernando Nurhadi. Namun saat itu ia memperkenalkan diri dengan nama Nando Nurhadi. Rupanya ia adalah senior di kampusku, Institut Manajemen Telkom (yang pada tahun 2013 berubah nama menjadi Telkom University). Karena tahu ia adalah senior, jelas saja aku memanggilnya Mas Nando.

Mas Nando dan aku dipertemukan dalam satu dibanding ribuan peluang kemungkinan bertemunya senior dan junior pada media sosial. Aku mengatakan seperti ini karena pada saat kuliah di semester awal aku bukanlah mahasiswa menonjol yang berambisi menjadi seorang ketua BEM. Lalu bagaimana mungkin aku bisa dikenal satu dari ribuan mahasiswa IM Telkom saat itu? Inilah yang mendasarkan rasa pesimisku bertemu dengan mas Nando.

Namun ternyata, tentunya juga karena kehendak Allah SWT, Mas Nando yang menemuiku melalui media sosial Twitter. Menurut mas Nando, aku mudah ditemukan karena akun Twitterku rajin membagikan informasi seputar kampus. Ia juga menambahkan kalau setiap pos di Twitter, aku selalu mencatutkan akun @InfoIMTelkom.

Setelah mendapat penjelasan itu aku baru mengetahui bahwa Mas Nando adalah admin dari akun @InfoIMTelkom. Akun ini belum lama dibuat. Menurut penuturan Mas Nando, @InfoIMTelkom dibuat sebagai media sosial yang bersifat meneruskan pertanyaan dari mahasiswa IM Telkom. Kondisinya saat itu, kanal informasi di kampus masih tergolong konvesional, yaitu hanya melalui pengumuman di kertas yang dipasang di papan pengumuman.

Saat itu, @InfoIMTelkom menggunakan aplikasi “Group Tweet”. Ini memungkinkan akun tersebut memperbarui status tanpa perlu diunggah secara manual oleh seorang pengguna. Metode tersebut dapat dilakukan dengan cara akun @infoIMTelkom menerima “Direct Message” (DM) dari siapapun yang mengirimkannya. Setelah itu, beberapa menit kemudian dengan otomatis akun @InfoIMTelkom akan mengunggah status yang sebelumnya ada di DM.

Mas Nando bercerita, tiga sampai lima bulan berjalan dengan metode ini, @InfoIMTelkom mendapat perhatian dari mahasiswa IM Telkom. Saat itu mulai banyak yang mengirimkan pertanyaan melalui DM. Harapannya agar pertanyaan mereka sampai kepada pihak-pihak yang berwenang untuk menjawab.

Di masa-masa tersebut, harapan mahasiswa untuk mendapatkan jawaban selain dari pihak kampus, juga dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sebagai lembaga kemahasiswaan, BEM menyediakan fasilitas menampung aspirasi dan pertanyaan dari mahasiswa. Selanjutnya akan dilakukan audiensi dengan kampus untuk mendapatkan klarifikasi, konfirmasi, atau pun solusi.

Maka ekosistem informasi digital yang tercipta di awal tahun 2010 itu, bermula dari media sosial. Konten yang tersaji bersifat pertanyaan. Dan pelakunya adalah mahasiswa sebagai individu, mahasiswa sebagai lembaga eksekutif, serta mahasiswa sebagai @InfoIMTelkom.

Namun menginjak bulan ke-6 berjalan, situasinya mulai tidak kondusif. Mas Nando mengisahkan bahwa pesan yang masuk melalui DM -yang kemudian akan diunggah secara otomatis- mulai bernada negatif. Ada yang bersifat menjatuhkan, ada yang mengandung unsur Suku, Ras, Agama (SARA), dan hal negatif lainnya. Melihat hal ini, ia menghentikan metode tersebut dengan cara menghapus aplikasi “Group Tweet”.

Mas Nando mengakui kelemahan metode seperti itu adalah konten yang bebas yang tidak dapat disaring. Sehingga apapun yang masuk melalui DM akan diunggah sama persis. Ia juga mengisahkan solusi dari itu semua adalah harus ada pengguna atau pengelola akun @InfoIMTelkom. Pengelola akun inilah yang sampai sekarang dikenal dengan istilah ‘admin’, atau biasa disapa “Mimin”.

Menurut Mas Nando, Mimin berfungsi sebagai pengelola konten, pengiring isu, dan penerus informasi yang disampaikan pengikut akun @InfoIMTelkom. Mimin haruslah manusia, bukan robot apa lagi makhluk halus.

Maka dari itu, sejak pertemuan dengan Mas Nando di ujung tahun 2010, ia mengajakku untuk ikut mengelola @InfoIMTelkom.

Menjadi si Mimin saat itu adalah hal yang baru bagiku. Membalas mention dari followers, menyapa mereka, dan menyampaikan informasi penting seputar kampus adalah hal-hal yang aku lakukan hampir setiap hari.

Suka dan duka menjadi si Mimin aku alami sejak hari itu. Suka karena dapat melihat karakter orang banyak melalui gaya bahasa mereka dalam Twitter, merasa dekat dengan followers karena mereka tidak mengetahui siapa si Mimin sebenarnya, hingga mengasah kepekaan terhadap informasi yang penting dan harus segera dibagikan kepada orang lain.

Namun ternyata menjadi si Mimin juga mengalami hal-hal yang menyedihkan. Seperti kala dikritik dengan bahasa yang negatif, juga pernah dianggap menyebarkan berita bohong, hingga diduga sebagai “antek-antek” kampus.

Memang akun @InfoIMTelkom identik dengan nama kampusku. Tapi akun itu secara legalitas tidak terikat oleh kampus. Sifatnya hanya mitra dalam hal penyebaran informasi. Namun keadaan di tahun 2010 itu masih belum terbiasa dengan kehadiran akun-akun seperti ini.

Selama 2010 sampai 2011, perjalanan menjadi si Mimin @InfoIMTelkom mendekatkan diri dengan para “Pejabat” kampus dari kalangan mahasiswa: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sejak Mas Nando ingin mengubah arah pengelolaan @InfoIMTelkom menjadi media engagement yang informatif, aku harus bersinergi dengan para pemilik informasi.

Di kampus saat itu, pemilik informasi selain kampus sendiri, juga dimiliki oleh media kampus dan BEM. Maka jadilah hubungan segiempat yang aku jalin antara @InfoIMTelkom – Kampus – BEM – Media Kampus mulai diterapkan.

Kampus menyebarkan informasi seperti jadwal kuliah, waktu pembayaran kuliah, sampai lowongan pekerjaan saat itu masih menggunakan media konvensional yaitu majalah dinding (mading) kampus. Maka tugas si Mimin adalah memotret informasi di mading untuk kemudian disebarkan melalui Twitter @InfoIMTelkom.

Media kampus saat itu yang aktif terbagi antara media cetak seperti Magazinc (majalah) dan Jurnalistik Embun (mading), media elektronik seperti IM Radio (radio kampus), dan media daring (online) seperti Students IM Telkom News Portal (kini bernama Students Tel-U News). Karena masing-masing media saat itu memiliki akun Twitter, jadilah @InfoIMTelkom membantu mengulang pos (retweet) yang mereka lakukan.

Sementara itu, BEM menyebarkan informasi yang bersifat keorganisasian melalui Twitter @BEMKMIMT. Akun BEM ini lebih berfungsi seperti Public Relations BEM. Karena konten yang disampaikan berisi informasi kegiatan BEM sebagai lembaga eksekutif mahasiswa.

****

(2012-2013) @BEMKMIMT : Membelah Diri Sebagai “Pejabat” dan “Rakyat”

Satu tahun di @InfoIMTelkom dengan menjalin hubungan segi-empat tersebut ternyata membuka jalur yang lebih dari sekedar mitra. Di tahun 2012 aku mendapat kesempatan bergabung menjadi anggota BEM Keluarga Mahasiswa IM Telkom. Aku menduduki jabatan Direktur Jenderal Media Komunikasi dan Informasi. Jabatan ini salah satu deskripsi pekerjaannya adalah mengelola akun sosial media resmi milik BEM, yaitu @BEMKMIMT.

Karena hubungan segi-empat yang tadi aku sebutkan itulah, aku memahami pola informasi yang dimiliki BEM. Tentu berbeda dengan @InfoIMTelkom. Karena @BEMKMIMT, si Mimin harus memiliki karakter yang sedikit formal. Sementara si Mimin @InfoIMTelkom berkarakter santai bahkan lebih akrab dalam menyapa followers.

Namun selama dua tahun mendapat kepercayaan sebagai Dirjen Media Komunikasi dan Informasi, Alhamdulillah Allah memberi kemampuan kepadaku untuk “membelah diri” menjadi dua karakter si Mimin, @BEMKMIMT dan @InfoIMTelkom.

Mengelola akun “pejabat kampus” dari golongan mahasiswa kali ini dirasa tidak ada kesulitan yang berarti. Hanya tantangannya lebih seru. Kredibilitas akun @BEMKMIMT bergantung pada validasi informasi yang diunggah, gaya bahasa yang digunakan, hingga orientasi edukatif yang ada di setiap unggahan statusnya.

Apa lagi menjabat dua tahun di posisi yang sama, dengan gaya kepemimpinan yang berbeda, tantangannya memang seru. Tapi motivasi menjadi si Mimin @BEMKMIMT murni bukan karena jabatan -toh jadi anggota BEM tidak mendapat gaji . Selama masih bisa berbagi informasi yang baik, aku merasa senang dan bahagia. Membantu orang lain yang tidak tahu menjadi tahu, bagiku nilai amalnya sama; sama-sama menolong orang lain yang dalam kesusahan.

Aku mengutip kata mutiara mas Nando:

Perbedaan orang yang beruntung dan tidak beruntung, adalah ia tahu informasi atau tidak tau informasi.

****

(2014) @TelUniversity : Pembelahan Diri Menjadi yang Resmi

Memasuki tahun 2014, aku mendapat kesempatan menjadi mahasiswa magang di Kampus. Empat bulan pertama aku magang di Sekretariat Dekanat Fakultas Ekonomi Bisnis Telkom University. Setelah itu karena masih mengalami proses transformasi, aku berhenti atau mengundurkan diri dikarenakan posisi staf di unit itu masih belum tersusun rapi. Porsi anak magang untuk deskripsi pekerjaan dan pay roll -nya juga belum diatur.

Namun, pertemuan dengan seorang Dosen IKOM FKB -yang juga Dosenku di mata kuliah Media Cetak-, menjadikan kesempatanku untuk kembali magang di kampus. Kali ini di unit Public Relations Telkom University. Unit yang langsung dibawahi oleh Rektor melalui Sekretariat Rektorat Telkom University.

Deskripsi pekerjaan sebagai PR aku jalani dengan membuka selebar-lebarnya diri untuk belajar hal baru. Menjalin komunikasi baru dengan orang-orang internal kampus sampai kepada orang-orang eksternal kampus.

Namun salah satu deskripsi pekerjaan yang lain, aku diberi akses untuk mengelola akun media sosial Telkom University di Youtube dan Twitter @TelUniversity.

Karakter si Mimin @TelUniversity ternyata tidak jauh berbeda dengan @BEMKMIMT. Seperti arahan dari Manajer PR, akun twitter @TelUniversity diarahkan lebih santai namun tetap formal. Jadilah setiap tweet yang diunggah lebih kepada engagement kepada followers yang juga civitas akademik seluruh Telkom University.

Menjadi si Mimin ini tidaklah lama. Karena deskripsi pekerjaan utamaku adalah liputan di lapangan. Selain itu, aku menyudahi karir magangku di sini selama 11 bulan. Bulan November 2014 aku mengundurkan diri dan bersiap melanglang buana di dunia yang lebih luas.

****

2015 Menjadi MasMin dan Kang Mimin

Menyudahi kehidupan di Bandung selama empat tahun, rasanya aku gagal move on. Sampai sekarang kenangan di Bandung masih tumbuh subur bagai brewok yang tumbuh di daguku. Termasuk kenangan menjadi si Mimin. Hal ini membuatku berpikir bahwa nama tengahku sudah bertambah menjadi “media sosial”.

Karena setelah memutuskan meninggalkan Bandung dan pulang ke Cilacap, aku dihubungi oleh seorang teman di SMA untuk mengelola akun yang ia miliki. Akun ini bersifat informasi, dan santai. Tidak jauh seperti yang pernah aku kelola di @InfoIMTelkom.

Di akun ini, aku berperan sebagai Masmin.

Perkembangan konsep digital marketing melalui media sosial, kini aku rasakan dan aku menjadi pelakunya. Akun Twitter yang tidak akan aku ceritakan ini, orientasinya bisnis. Proses bisnisnya adalah dengan menyediakan jasa buzzer untuk promosi bisnis dari pengiklan. Di sini aku bermain tarif, yang keuntungannya jadi milik sendiri.

Sekali dayung dua-tiga pula terlampaui, ternyata juga hinggap di diriku. Sedang menjalani peran sebagai Masmin itu, seorang teman SMA yang sama-sama kuliah di Bandung menghubungiku. Kasusnya sama, ia mengajakku untuk mengelola akun media sosial yang ia miliki.

Media sosial yang kali ini dipegang adalah Instagram dan Line@. Sifatnya berbeda dari yang sebelumnya, namun masih bernuansa informal. Meski akun ini juga membawa nama kampus, namun tetap saja tidak terikat resmi dengan kampus. Kampus yang dimaksud pastinya bukan almamater. Dan aku juga tidak bisa menceritakannya saat ini.

Karena akun kampus yang ini ada di Bandung, maka sebutanku adalah Kang Mimin. Menjalani peran sebagai Kang Mimin, sedikit mengobati rasa rinduku akan Bandung. Ya, hanya sedikit saja namun aku tetap merasa beruntung.

Akun media sosial ini juga berorientasi bisnis. Bedanya di pengelolaan uang yang masuk dari jasa buzzer atau iklan yang masuk.

Ketika menjadi Mas Min, 100% uang menjadi miliki sendiri, namun ketika berperan sebagai Kang Mimin aku digaji oleh temanku itu.

Apapun itu aku tetap bersyukur. Karena motivasi menjadi Si Mimin / Mas Min / Kang Mimin, adalah hobby untuk menyebarkan informasi serta berhubungan baik dengan orang lain dan melatih kepekaan. Ketika mendapat bayaran atau keuntungan secara finansial, bagiku itu adalah Hobi yang dibayar.

****

Refleksi Membelah Diri

Pengalaman empat tahun “membelah diri” atau menjadi admin memang bukan waktu yang lama. Tapi selama itu memanh banyak hikmah dan pelajaran yang di dapat. Sabar, membaca karakter orang lain, dan peka adalah karakter yang terbentuk dari peran menjadi admin media sosial.

Saat ini aku masih belajar menjadi admin dalam mengelola media sosial secara profesional dan berorientasi bisnis. Namun demikian tidak mudah dilupakan pengalaman empat tahun sebelumnya itu.

@InfoIMTelkom kini sudah berganti menjadi @anakIMTelkom. Akun ini berkolaborasi dengan @InfoUnivTelkom dan berkomunitas dengan Media Kampus Bandung.

@BEMKMIMT karena milik organisasi BEM, adminnya pun berganti seiring pengurusnya yang berganti.

Sementara akun @TelUniversity masih dan akan tetap menjadi akun resmi milik kampus.

Sebenarnya, peran menjadi si mimin bisa saja dimiliki oleh orang lain. Namun aku suka membagi cerita dan pengalaman. Disamping itu, aku menikmati proses membelah diri ini. (*)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s