Tingkatkan Kualifikasi dengan Sertifikasi

Sertifikat profesi PR merupakan sarana pembuktian bahwa lulusan sarjana ilmu komunikasi memiliki predikat kompeten di bidang PR. Maka jelas ini adalah hal yang penting. Penting bagi sarjana yang memiliki rumusan untuk membuat perbedaan.

Bekasi, DH – Tidaklah berbeda seorang presiden mahasiswa yang lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,9 jika bersanding dengan ratusan ribu lulusan sarjana lain yang lulus pada waktu tertentu. Persamaannya adalah mereka sama-sama calon karyawan di mata seorang Human Resources (HR). Hal ini berdampak pada serapan tenaga kerja di perusahaan milik negara maupun swasta.

Pada masa penerimaan calon karyawan suatu perusahaan saja, jumlah pendaftar bisa mencapai ribuan pelamar. Padahal perusahaan hanya membutuhkan satu sampai lima orang untuk mengisi sebuah posisi tertentu.

Maka dari itu, seorang lulusan sarjana sebaiknya berpikir kreatif untuk merumuskan sebuah perbedaan. Perbedaan yang nantinya akan berguna sebagai identitas yang melekat pada dirinya yang menyandang sebuah gelar akademik di belakang namanya.

Pada hal ini, aku mendeskripsikan perbedaan tersebut dengan kemampuan yang tercatat dan diakui oleh sebuah lembaga. Bahasa sederhananya adalah dengan mengikuti program pelatihan, ataupun program sertifikasi profesi. Karena dengan mengikuti program tersebut, kita akan mendapatkan selembar sertifikat. Hal ini lah yang merupakan identitas bagi kita dan menjadi pembeda dari calon karyawan lainnya.

***

Sebagai seseorang yang memiliki gelar Sarjana Ilmu Komunikasi -yang didapat dari Universitas Telkom Bandung-, proses berpikir kreatif dalam rangka membuat sebuah perbedaan sudah aku mulai sejak pertengahan tahun 2015 ini.

Aku mengetahui bahwa jurusanku semasa kuliah, Ilmu Komunikasi, akan membidangi salah satu pekerjaan yang dikenal dengan nama “Public Relations” (PR). Pekerjaan ini kemudian menduduki predikat sebagai sebuah profesi. Profesi yang nantinya diisi oleh orang-orang yang berlatar pendidikan Ilmu Komunikasi.

Maka dari itu, hal yang aku lakukan dalam rangka membuat perbedaan dari lulusan sarjana ilmu komunikasi yang lain adalah dengan mengikuti program sertifikasi. Karena dengan hal ini, ketika melamar di perusahaan nantinya aku dapat ‘menjual diri’ dengan lebih yakin karena memiliki selembar sertifikat. Sertifikat Profesi Public Relations (Sertifikasi PR).

Sertifikat Kehadiran Sertifikasi PR
Sertifikat Kehadiran Peserta Sertifikasi Profesi PR. (Foto: Dok. Pribadi)

Namun, apakah ini penting?

Sertifikat profesi PR merupakan sarana pembuktian bahwa lulusan sarjana ilmu komunikasi memiliki predikat kompeten di bidang PR. Maka jelas ini adalah hal yang penting. Penting bagi sarjana yang memiliki rumusan untuk membuat perbadaan.

Berangkat dari hal itu, aku dan 9 orang alumni Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University (IKOM FKB Tel-U) mengikuti program Sertifikasi PR. Ini berlangsung pada tanggal 13-15 Desember 2015 yang lalu. Diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Public Relations Indonesia (LSP-PR-Indonesia) di Hotel Savoy Homann Bandung (baca beritanya: Alumni IKOM FKB Tel-U Ikuti Sertifikasi Profesi PR)

***

Berbagi Pengalaman Uji Kompetensi Profesi PR

Sertifikasi PR ini memiliki beberapa tingkat. Diantaranya yaitu Humas Junior, Humas Madya, Humas Ahli, dan Humas Manajerial. Dalam hal ini Kemenkominfo RI dan LSP-PR-Indonesia menyelenggarakan fasilitasi sertifikasi untuk level Humas Junior. Karena berdasarkan ketentuan yang ditetapkan LSP-PR-Indonesia, Humas Junior diperuntukkan bagi lulusan baru bidang komunikasi yang belum bekerja.

Pada saat pembekalan singkat materi uji kompetensi atau assessment, ketua tim asesor dari LSP-PR-Indonesia, Herpriantono, menerangkan bahwa tugas asesor LSP-PR-Indonesia adalah untuk menguji dan membuktikan setiap peserta uji kompetensi atau disebut asesi berkompeten pada bidang PR. Ia juga mengatakan bahwa setiap asesi akan diuji oleh satu orang asesor.

“LSP-PR-Indonesia tugasnya untuk menguji dan membuktikan bahwa para asesi ini benar berkompeten di bidang PR. Makanya, nanti satu orang asesi akan diuji oleh satu orang asesor. Ya rata-rata setiap sesi assessment memakan waktu 45-60 menit,” terang Herpriantono.

Sebelum memulai assessment, asesi diminta untuk mengisi beberapa formulir. Formulir ini adalah isian data diri asesi, data pengalaman pelatihan dan seminar, data pengalaman bekerja (opsional), serta data unit kompetensi yang akan diikuti (unit kompetensi lihat pada laman situs web LSP-PR-Indonesia)

Semua data yang telah diisi oleh asesi tadi harus dibuktikan dengan menunjukkan bukti relevan yang mendukung isian data. Bukti relevan ini bisa berupa fotokopi ijazah, transkrip nilai, ktp, pas foto, sertifikat pelatihaan dan seminar, sertifikat atau surat keterangan bekerja, dan sertifikat kemampuan berbahasa asing.

Bukti lainnya juga berupa portofolio atau hasil karya yang sesuai dengan unit kompetensi Humas Junior. Portofolio ini dapat berupa tugas kuliah yang berhubungan dengan Public Relations, laporan magang di departemen/divisi/bagian Public Relations, dokumentasi kliping berita dari media massa, hasil karya tulisan, dan foto-foto dokumentasi kegiatan yang bersifat internal gathering dan open house.

Dewanda Irianti Saputri, S.I.Kom., salah seorang asesi dari IKOM FKB Tel-U mengaku bahwa kemampuan PR bukan soal utama saat assessment. Menurutnya yang paling utama adalah membuat portofolio sebaik mungkin.

“Menurut aku sih, yang susah bukan soal kemampuan PR kita. Bekal dari kuliah kita udah cukup. Justru lebih ke bagus-bagusan portofolio, itu jangan disepelein,” kata perempuan asal Semarang ini.

Ia juga menambahkan bahwa jika memiliki pengalaman internasional, pernah menulis artikel yang dimuat di media massa cetak, dan dokumentasi menjadi seorang Master of Ceremonial (MC) merupakan suatu nilai tambah bagi peserta uji kompetensi pada saat assessment.

Selama uji kompetensi berlangsung, asesor akan menguji asesi dengan berbagai pertanyaan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mulai dari perkenalan diri, pandangan mengenai Public Relations, dan pengalaman yang tercantum dalam formulir yang sebelumnya diisi oleh asesi.

Asesor memiliki dua metode pembuktian terhadap data yang tertulis di dalam formulir. Metode itu adalah wawancara dan melakukan verifikasi untuk menentukan kesesuaian data isian pada formulir terhadap bukti-bukti yang relevan serta portofolio yang dibawa oleh asesi.

Dosen IKOM FKB Tel-U, Maylanny Christin, S.S., M.Si., (kanan) saat menjadi asesor yang tengah menguji peserta asesi. (Foto: Dok. LSP-PR-Indonesia)
Dosen IKOM FKB Tel-U, Maylanny Christin, S.S., M.Si., (kanan) saat menjadi asesor yang tengah menguji peserta asesi. (Foto: Dok. LSP-PR-Indonesia)

Kemudian setelah uji kompetensi, asesor akan memberikan informasi kelengkapan bukti dan portofolio kepada asesi. Jika dokumen yang dimaksud sudah lengkap maka proses uji kompetensi telah selesai. Namun jika masih ada berkas yang harus dilengkapi oleh asesi, asesor masih menerima berkas tersebut paling lambat dua minggu setelah waktu uji kompetensi. Hal ini seperti yang dikatakan Herpriantono kepada para peserta.

“Kalau setelah assessment ternyata asesor bilang bahwa portofolio atau bukti masih harus dilengkapi, silakan kirim berkas tersebut ke alamat kantor LSP-PR-Indonesia atau ke rumah saya. Masukkan ke dalam amplop yang rapi dan cantumkan identitas: nama asesi, nama asesor, dan waktu assessment. Saya setiap hari dikunjungi kurir JNE (baca: jasa pengiriman barang) yang mengantar berkas-berkas untuk melengkapi assessment,” jelas Herpriantono.

Ia juga menyampaikan tahapan uji kompetensi yang dilakukan LSP-PR-Indonesia. Menurutnya LSP-PR-Indonesia bertugas untuk menguji kompetensi asesi di bidang komunikasi, membuktikan kompetensi tersebut berdasarkan wawancara dan mengumpulkan bukti relevan dan portofolio para asesi,  dan merekomendasikan apakah asesi tersebut berkompeten atau belum berkompeten sebagai Humas Junior. Proses selanjutnya adalah pengiriman seluruh berkas assessment ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Setelah kami (baca: LSP-PR-Indonesia) menentukan rekomendasi berdasarkan assessment, seluruh berkas ini akan dikirimkan ke BNSP. Kalau sudah semuanya, baru diterbitkan sertifikat yang menyatakan asesi tersebut berkompeten di bidang komunikasi pada level Humas Junior,” ujar Herpriantono.

Ia juga menjelaskan proses verifikasi di BNSP untuk menerbitkan sertifikat tersebut.

“Dengan proses yang tadi dijelaskan, biasanya BNSP mengeluarkan sertifikat itu antara satu sampai dua bulan. Karena kondisinya BNSP tidak hanya mengeluarkan sertifikat profesi di satu bidang saja, tapi semua bidang yang terdaftar di BNSP dan itu seluruh Indonesia,” terangnya.

***

Tetap Berprestasi Meski Sudah Alumni

Ada yang menarik setelah proses uji kompetensi PR yang dilaksanakan di Bandung selama tiga hari tersebut. Yaitu karena Surya Ningsih, S.I.Kom., alumni IKOM FKB Tel-U, dinyatakan sebagai asesi yang mendapatkan rekomendasi berkompeten di bidang komunikasi pada level Humas Junior dengan nilai yang sangat memuaskan (excellent).

Disampaikan oleh Herpriantono, perwakilan dari LSP-PR-Indonesia, bahwa Surya Ningsih, S.I.Kom., mendapatkan nilai sangat memuaskan karena kompetensi yang dimilikinya dari sisi penguasaan bahasa asing.

“Standar LSP-PR-Indonesia dalam menentukan nilai excellent seorang asesi dilihat selain dari unit kompetensi yang ada, juga dari penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris,” katanya.

Surya Ningsih, S.I.Kom., mengusasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Jerman. Ia mengatakan bahwa kemampuannya berbahasa asing selain bahasa Inggris didapat dari cara otodidak dan mengikuti kursus bahasa asing.

“Saya ikut kursus. Soalnya emang ada rencana untuk kuliah di sana (Jerman). Makanya belajar bahasa Jerman,” ujar perempuan yang pernah menjabat sebagai seorang manajer di Bank ini.

Selain Surya, seorang alumni dari Unisba juga dinyatakan berkompeten dengan nilai sangat memuaskan. Ia adalah Anita. Selain pernah menguasai bahasa Inggris, ia juga menguasai bahasa Jepang dan Korea. Bahkan ia pernah mengikuti pertukaran pelajar di Jepang pada saat masih kuliah.

***

Pesan Bagi Calon Asesi

10 orang Alumn
10 orang Alumni IKOM FKB Tel-U yang menjadi peserta Uji Kompetensi PR tengah berfoto bersama asesor dari LSP-PR-Indonesia. (Foto: Dok. LSP-PR-Indonesia)

Rangkaian acara Fasilitasi Sertifikasi Profesi Berbasis Sertifikasi Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) ini berakhir pada hari Selasa (15/12). Kemudian ditutup oleh Herpriantono, perwakilan LSP-PR-Indonesia yang juga menjadi penguji pada kegiatan tersebut. Dalam sambutan penutupnya ia menyampaikan apresiasinya kepada asesi yang berasal dari kota Bandung.

Menurutnya, 80 orang peserta uji kompetensi dari Bandung, 99 persen sudah berkompeten di bidang komunikasi pada level Humas Junior.

“Saya merasa bangga saat melakukan assessment di Kota Bandung. Hal ini karena dari 80 peserta uji kompetensi, hanya satu orang yang kami nyatakan belum berkompeten. Sebelumnya, uji kompetensi yang dilaksanakan di Tangerang ada 9 orang yang belum berkompeten. Kalau di Cirebon ada 12 orang (yang belum berkompeten),” kata Herpriantono.

Ia berpesan kepada asesi yang telah mengikuti uji kompetensi untuk membagi pengalamannya kepada teman-teman yang belum berkesempatan mengikuti sertifikasi profesi PR. Melengkapi dan mengumpulkan portofolio. Serta meningkatkan level menjadi Humas Madya bahkan sampai Humas Manajerial.

Selain itu ia juga mengatakan untuk meningkatkan kemampuan di bidang PR, serta meningkatkan kemampuan berbahasa asing selain bahasa Inggris.

“Faktor bahasa adalah hal yang harus diperhatikan. Karena saat MEA 2016 nanti, saingan anda adalah orang-orang yang di negaranya, bahasa Inggris bukan suatu kewajiban untuk dikuasai. Maka dari itu bahasa asing yang berada di ruang lingkup ASEAN sebaiknya juga dikuasai,” pungkasnya. (*)

Advertisements

One thought on “Tingkatkan Kualifikasi dengan Sertifikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s