Kisah Anak Magang: Hijrahnya Sang Rektor

Bekasi, DH – Brukk…” Suara kardus yang berat karena isinya buku-buku seputar teknologi dan manajemen itu terdengar demikian saat aku memindahkannya ke sudut ruangan.

Hari itu aku tengah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa magang di Sekretariat Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Telkom. Karena statusnya sebagai mahasiswa magang, meskipun sudah diberi tahu deskripsi pekerjaan yang harus dilakukan, namun tenaganya harus disiapkan untuk kegiatan tertentu di luar deskripsi pekerjaan tersebut. Oleh karennya aku selalu siap karena saat itu aku mendapat tugas untuk membantu Bapak Dr. Husni Amani, Dekan FEB pada saat itu untuk mengemasi barang-barangnya dari ruang kerja beliau.

Bulan April 2014 adalah akhir masa jabatan Bapak Dr. Husni sebagai seorang Dekan FEB. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan Ketua Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) pada saat Rapat Pimpinan YPT yang berlangsung di awal Bulan April 2014 tersebut.

Bapak Dr. Husni menjadi Dekan FEB setelah Institut Manajemen Telkom (IM Telkom) beserta tiga lembaga pendidikan tinggi lainnya di bawah Yayasan Pendidikan Telkom bergabung menjadi Universitas Telkom (Baca: Refleksi Transformasi). Sebelumnya pada tahun 2010, beliau adalah seorang Rektor IM Telkom. Pimpinan tertinggi pada suatu perguruan tinggi yang pada saat itu memiliki lebih dari 3000 mahasiswa yang terbagi dalam lima jurusan; Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informasi (MBTI), Ilmu Komunikasi, Admnistrasi Bisnis, Akuntansi, dan Manajemen Pemasaran.

***

Setelah tiga kardus selesai aku pindahkan, ternyata itu hanya muat menampung buku-buku dari satu buah lemari penyimpanan saja. Sementara di ruangan kerja Bapak Dr. Husni ini masih terdapat satu lemari lagi yang juga penuh dengan buku. Sebagai mahasiswa magang aku tidak memiliki keluhan sedikitpun saat menatap buku-buku yang seolah sedang melihatku nanar sambil menangis “Jangan bawa aku.. jangan..”.

Satu tanganku dapat meraih dua sampai tiga buku untuk menaruhnya ke dalam kardus bekas produk rokok itu. Sambil sesekali melihat judul buku yang aku pindahkan tadi, muncul hasrat ingin mengetahui apa ketertarikan Bapak Dr. Husni melalui buku bacaannya. Rupanya sebagian besar masih bercerita seputar manajemen dan teknologi. Namun beberapa buku yang kutemui memiliki tema kepemimpinan. Semuanya berjajar rapi di rak lemari buku yang sedang aku rapikan.

Lemari buku itu memiliki empat buah rak. Buku yang berada di dua rak teratas sudah kupindahkan ke dalam kardus. Dua rak berikutnya di bagian bawah ternyata isinya bukan buku bacaan melainkan dokumen-dokumen yang dikemas dalam sebuah map. Kemudian aku berpikir untuk memisahkan dokumen tadi ke dalam rak yang berbedaagar nantinya beliau dengan mudah menyimpannya, tidak tercampur dengan buku bacaan.

Aku berkata, “Maaf, Pak. Kalau dokumen-dokumen ini saya pisahkan saja di dus yang lain ya, supaya Bapak mudah mencarinya”. Beliau yang juga ikut merapikan barang-barang di mejanya terhenti sebentar untuk melihatku dan menjawab, “Sebentar mas, saya lihat dulu isinya ya…”.

Maka beliau pun ikut berlutut di sampingku mengambil beberapa dokumen yang aku ceritakan tadi.

“Wahh, ini dokumen-dokumen saya yang memang saya cari…” Ungkapnya dengan nada bahagia.

Jika boleh digambarkan, ekspresi dan nada bicaranya beliau saat mengucapkan kalimat itu seperti seorang anak laki-laki yang sangat gembira menemukan mainannya. Beliau menunjukkan perasaan bahwa dokumen itu seperti bertemu ingatannya yang pernah hilang. Mungkin selama ia menjadi rektor di IM Telkom hingga pada saat itu masa jabatannya akan berakhir.

Aku yang ikut larut dalam perasaannya yang bahagia pun penasaran. Apakah gerangan yang begitu ia rindukan dari setumpuk dokumen-dokumen tadi?

Seakan beliau memahami rasa penasaranku, ia menunjukkan sebendel dokumen berisi laporan dan dokumentasi perjalanan dinas beliau ke luar negeri. Ia membuka lembar demi lembar laporan berukuran kertas HVS itu disampingku. Ia kadang bercerita sambil menunjukkan foto yang memperlihatkan dirinya dengan wajah cerdasnya yang khas.

Setelah menyelesaikan napak tilas melalui dokumen tadi, beliau sempat diam sejenak. Agar merasa tidak canggung aku berusaha mengajukan pertanyaan. Meski dirasa pertanyaan basa-basi, aku tetap menanyakan mengenai kondisi cuaca di negara itu. Apa yang ia lakukan di sana, serta hasil yang didapat olehnya di negara itu.

Maka pembicaraan mengalir kembali seperti air buangan alat pendingin ruangan yang biasanya jatuh melalui pipa. Bahkan bisa dibilang mulai sejak itu aku melengkapi keberanian bermimpiku untuk “Go International”. Aku mulai membangkitkan gairah untuk dapat pergi ke luar negeri dalam rangka riset , pendidikan, atau pun pada urusan bisnis.

Dr. Husni berpesan, jika memang sudah memiliki rencana seperti itu, jangan malas untuk terus belajar. Terutama memperdalam kemampuan berbahasa Inggris.

Sambil mengakhiri pembicaraan, tidak terasa berkas terakhir di dalam lemari itu berhasil pindah ke dalam kardus yang sudah penuh. Aku pun melakukan tugasku yang terakhir pada peristiwa itu, meletakkan kardus itu di sudut ruangan agar berkumpul dengan yang lainnya.

Aku pun berniat pamit dengan Dr. Husni karena sudah selesai memberesi barang-barangnya. Sembari menyalami beliau, ia memberiku sebuah perlengkapan stationary miliknya. Sebagai anak magang yang baru, aku senang bukan main. Karena selain mendapat pengetahuan tentang perlunya “Go Internasional”, aku juga diberikan kenang-kenangan oleh seseorang yang memang aku kagumi karena pribadinya sebagai pemimpin institusi pendidikan tempatku berkuliah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s