Seni Melakukan “Kepo”

Donie: De, aku lupa namanya Ajeng siapa ya? Aku cari di Facebook ‘gak’ ketemu. Kabarnya dia sekarang gimana ya?

Nurul: Oooo ya mas don. Si Ajeng ‘udah’ nikah. ‘Udah’  punya anak 1, cewe. Kalo gasalah umurnya 3/4 tahun. Wkkwkk.

Bekasi, DH – Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, khususnya di Indonesia, orang-orang modern di Indonesia semakin cerdas. Mereka mampu menemukan istilah-istilah baru yang kemudian digunakan dalam percakapan sehari-hari. Istilah ini bisa diambil dari singkatan beberapa kata, merujuk pada istilah tertentu, atau gabungan keduanya, dan lain-lain.

Kepo. Istilah ini konon merupakan kependekan dari “Kelakukan Polisi”. Maknanya adalah seseorang yang ingin tahu masalah atau rahasia yang dimiliki orang lain. Hal ini dilakukan dengan cara menanyakan sesuatu kepada orang lain dengan begitu detil mulai dari a sampai z.

Selain itu ada juga yang mengartikan kepo sebagai singkatan dari Knowing Every Particular Object. Maknanya tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Yaitu berusaha mengetahui setiap detil masalah dari satu atau lebih topik dari lingkungan sekitar.

Apapun makna kepo aku membebaskan kepada siapa saja yang mengatakan kepo untuk memberikan definisinya sendiri. Karena ternyata ada dampak yang lebih luas dan melibatkan perasaan mengenai aktivitas kepo ini. Betul, dampak yang melibatkan perasaan, ketika kita kepo akan sesuatu atau kepada seseorang.

Pernyataan itu aku dapat berdasarkan pelajaran dari pengalaman yang terakumulasi menjadi sebuah pemahaman. Kemudian aku sederhanakan menjadi sebuah rangkaian kata dalam satu kalimat singkat.

Siapa saja yang kepo, maka ia sudah siap untuk sakit hati.

Bisa jadi itu terdengar ekstrim. Namun demikian memang itulah pengalaman dari aktivitas ‘perkepoan’ yang sudah hampir satu tahun aku lakukan.

Beberapa bulan sebelum ini aku aktif menghubungi teman-teman di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Mengenah Atas (SMA). Mereka yang pernah aku dekati, tanpa pernah berhasil aku miliki. Karena pada masa kuliah aku memang melewatkan beberapa kesempatan untuk berkomunikasi dengan mereka. Alasannya sederhana, karena di kuliah aku menemukan dunia yang baru dan pengalaman yang baru.

Maka setelah selesai studiku di Bandung, aku pulang ke Cilacap dengan misi untuk rehat, refleksi, dan mencari pekerjaan. Dalam perjalanan misi tersebut, seperti yang aku bilang, aku mencoba menghubungi teman-teman di tersebut. Namun lebih tertarik pada teman-teman wanita yang pernah spesial buatku. Mereka yang pernah meninggalkan kesan di kehidupanku

Aku penasaran dengan kondisi mereka saat ini. Apa saja yang sudah mereka lakukan sejak lulus SMA. Bagaimana tampilannya sekarang. Bahkan penasaran bagaimana kisah cinta mereka saat ini.

Sifat keingintahuan ini tentu berbalut ekspektasi bahwa aku dapat melanjutkan skenario yang sempat gagal di sekolah dahulu. Yaitu, aku dan salah satu dari mereka dapat menjalin sebuah hubungan serius yang berlandaskan prinsip agama Islam. Dan kami membentuk suatu rumah tangga yang sakinah.

Namun demikian, pada kenyataannya mereka tidak seperti yang ada di pikiranku. Satu persatu mereka, teman-teman wanita yang pernah spesial buatku, sudah bertungangan. Bahkan ada yang mengirimiku undangan pernikahan ia dengan laki-laki pilihannya. Dan yang paling mencengangkan adalah mereka yang sudah memiliki anak.

Saat bertanya, “Kamu apa kabar? Sekarang ada di mana?”. Beberapa dari mereka menjawab, “Ada di rumah nih, Oh iya awal bulan depan dateng ke pernikahan aku ya…”. Reaksiku saat itu seperti amnesia beberapa detik. Awalnya tidak percaya ia akan menikah. Bahkan aku baru saja menghubungi untuk pertama kali sejak empat tahun yang lalu.

Ada lagi jawaban yang lain dengan pertanyaan yang sama. “Iya Don, aku lagi nunggu kelahiran anakku yang ke-dua”, seperti itu kira-kira jawaban beberapa teman yang lain. Aku sempat syok. Mencoba mengingat kapan aku menghadiri undangan pernikahan dirinya. Kapan ia mengirimiku undangan pernikahannya. Namun ternyata, ia sudah menikah beberapa tahun yang lalu dan aku memang tidak diundang.

Dua situasi di atas terjadi padaku selama lebih dari lima bulan. Bahkan sampai saat ini aku masih melakukan aktivitas kepo untuk pertanyaan yang sama. Juga dengan kategori objek yang sama, yaitu teman-teman wanita yang meninggalkan kesan di kehidupan sekolahku. Namun tentu dengan mereka yang masih tersisa di dalam daftar.

***

Malam itu adalah puncak penasaranku terhadap satu nama yang aku tahu sejak lama. Beberapa hari ini nama itu sering muncul di notifikasi Facebook milikku. Setiap aktivitas di lini masa Facebook yang aku lakukan, nama itu kerap muncul di menu pemberitahuan. Ia adalah Nurul Rahmawati.

Nurul Rahmawati adalah seorang perempuan yang menjadi adik tingkat saat masih SD. Ia memiliki sekumpulan teman perempuan. Mereka hampir setiap saat di sekolah selalu terlihat bersama-sama. Pada saat itu kami menyebutnya ‘geng’. 

Nurul dapat dibayangkan seperti sebuah konektor untuk kabel jenis RJ45. Konektor ini menghubungkan komputer dengan jaringan Internet. Seperti itulah si Nurul Rahmawati. Ia menghubungkanku pada satu orang yang masuk dalam daftar teman-teman wanita yang pernah berkesan di kehidupan sekolahku.

Ia adalah Ajeng. Setelah ku diingatkan oleh Nurul, bahwa nama lengkapnya adalah Rr. Triajeng Gumpita. Nama itu yang kemudian aku cari di dalam Facebook.

Betapa aku sangat merindukan wajahnya, aku penasaran bagaimana rupanya Ajeng saat ini. Berharap ia masih sendiri sehingga aku dapat menjalankan misiku tadi.

Namun harapan itu rupanya tidak sesuai dengan kenyataannya. Nurul yang memberitahu bahwa Ajeng sudah tidak sendiri. Bahkan Ajeng telah melahirkan seorang malaikat kecil yang saat ini berumur tiga tahun.

Donie: De, aku lupa namanya Ajeng siapa ya? Aku cari di Facebook ‘gak’ ketemu. Kabarnya dia sekarang gimana ya?

Nurul: Oooo ya mas don. Si Ajeng ‘udah’ nikah. ‘Udah’  punya anak 1, cewe. Kalo gasalah umurnya 3/4 tahun. Wkkwkk.

Seperti itulah kurang lebih transkrip percakapan antara aku dengan Nurul.

Sambil bercerita dengan nurul di obrolan Facebook, aku mencari nama “Rr. Triajeng Gumpita” di kolom pencarian. Koneksi internet dari First Media yang kencang mengobati rasa penasaranku terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang Ajeng. Bahkan mengonfirmasikan apa yang Nurul sampaikan di obrolan tadi.

Aku melihat album fotonya Ajeng dengan tanpa berkata-kata. Bagaimana tidak karena kebanyakan dari fotonya tersebut memang bersama suaminya sendiri.

Kemudian aku sadar. Dan aku sudah terlatih untuk situasi seperti ini. Aku dapat mengontrol perasaan yang meluap-meluap saat mengetahui kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

****

Sejenak aku menyimpulkan senyuman. Mengingat-ingat kejadian yang lucu, ketika membicarakan teman-teman wanita yang pernah berkesan di kehidupan sekolahku. Lucu karena bukan aku yang bersama mereka. Namun ada orang lain di kehidupannya. Orang lain yang sudah dituliskan untuk mereka untuk menjadi pasangan hidupnya.

Untungnya tidak ada ambisi untuk memiliki mereka, teman-teman wanita yang pernah berkesan di sekolah, untuk dijadikan pasanganku. Karena aku sudah terbiasa mendengar jawaban dari pertanyaan yang sama yang aku ajukan kepada mereka. Terlebih lagi, aku sudah mulai memahami konsep jodoh yang tertulis di Lauh Al Mahfuz.

Namun demikian, aku menyampaikan di sini, bahwa kepo lebih dari sekedar bertanya. Seni melakukan kepo dapat digunakan dalam berbagai hal. Salah satunya untuk menanyakan keadaan teman-teman wanita yang pernah berkesan di kehidupan kita. Tapi, apa kamu sudah siap dengan jawabannya? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s