Sebuah Kenangan: Titik Dua ‘D’

Setelah itu, beberapa saat sempat hening. Namun dengan tiba-tiba terdengar tangisan. Rupanya si Titik Dua D menangis.

Bekasi, DH – “Tik.. Tok.. Tik.. Tok..” Jarum jam dinding itu berdetak sangat lembut namun aku mendengarnya dengan kebisingan yang teramat sangat. Mungkin saja karena aku sedang fokus dengan layar monitor, membaca tulisan di fitur “notes” Facebook. Di sana aku melihat tulisan-tulisan yang ternyata sudah ditulis sejak tahun 2009 oleh diriku sendiri.

Meski tidak banyak, namun aku melihat catatan waktu penulisannya cukup sering di dua tahun pertama. 2009 sampai 2010 menjadi saat-saat yang ternyata menjadi pemacu diriku menggemari dunia penulisan. Aku baru tersadar saat menyaksikan barisan-barisan catatan di Facebook itu.

Kemudian aku melihat catatan Facebook terkahir yang aku tulis di tahun 2011. Tulisan yang ternyata adalah curahan perasaan yang aku alami saat itu. Judulnya “Kita.liat.saja.nanti”.

Kita.liat.saja.nanti

11 Mei 2011

Entah berawal darimana. Mungkin berawal dari kegalauan. Tulisan ini dibikin semata hanya untuk mengingatkan apa yang aku ucapkan dan apa yang kamu ucapkan.. .

Kita, berawal dari tempat yang berjauhan. Kita bertemu dalam 1 ruangan dimana sejuta kemungkinan bisa saja terjadi. Kita menjadi dekat ketika kemungkinan lainya menjadi pilihan selanjutnya.. .

Ya.. .pilihan untuk menjadi jauh. Pilihan untuk menjadi dekat atau bisa saja kemungkinan untuk menjadi Cinta. Hingga kemudian pilihan yang mungkin aku pilih menjadi sebuah alasan kuat untuk menunggumu,

Yang aku pun tak mengerti mengapa pilihan ini yang aku ambil. Mungkin saja kebetulan, mungkin saja logika, mungkin saja takdir, mungkin saja …mungkin saja yang lainnya aku berusaha berani mengatakan ketika semua tidak direncanakan. Ketika semua diluar dugaan, dengan sejuta pikiran buruk yang akan terjadi berikutnya. Ketika semuanya berubah menjadi tangis haru dan senyum keberanian.. .

Pertama bagiku melakukan itu padamu. Yang sebelumnya tak kupelajari dari Facebook, Google, Twitter ataupun kaskus. Hanyalah naluri yang menuntunku. Dan akhirnya kunyanyikan sebuah lagu mengiringi tangisanmu. Sebagai wujud rasa terimakasihku padamu yang telah menyisakan ruang dihatimu. Yang aku tau, tak mudah untuk membagi hati dengan yang lain.. .

Namun itu kamu lakukan dengan alasan yang mungkin saja kamu tidak mengetahuinya. Berbagi memang tak mudah, hingga kau menangis.

Yang aku pun tak mengerti ,air matamu adalah haru, marah, ataupun kebingungan.. .

Yang aku tau kau hanya menangis tanpa mengeluarkan kata2.. .

hmmmm, aku pun entah akan menulis apa lagi. Aku hanya menunggu dan menunggu saat2 yang akan terjadi dalam 1 hari 2 hari 3 minggu 4 bulan 5 tahun berikutnya. Aku melihat dan menyaksikan apapun yang akan terjadi antara aku kamu dan dia. Aku tetap menunggu, hingga akhirnya kita mengetahui bagaimana benang merahnya. Yang sampai saat aku menuliskan kalimat ini, aku tak mengetahui bagaimana kejadianya.. .

Hingga akhirnya aku selalu suka untuk mengatakan >> Kita Liat Saja Nanti

—doniehulalata–

inspired by The Moment w/ IKOM A @ Lembang, May 6-7, 2011

especially for ‘Titik Dua D’

Awalnya aku tersenyum malu membaca tulisan itu pada saat ini. Karena tulisan itu ternyata memutar kenangan yang aku alami empat tahun yang lalu.

Bulan Mei 2011.

Pada bulan Mei di tahun itu, aku sudah kuliah di Universitas Telkom (dahulu Institut Manajemen Telkom) dan berada pada tingkat satu. Aku masih ingat momen yang terkenang di bulan Mei tahun 2011 tersebut.

Aku menyukai seorang wanita yang juga teman sekelas pada waktu itu. Wanita yang aku beri kode “Titik Dua D”.

Perasaan suka ini bagi seorang laki-laki sepertiku adalah situasi yang rumit. Bagaimana tidak, karena aku menyukai wanita yang sudah memiliki pasangan. Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun sebelummnya.

Sementara aku, tiga tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA) pun tidak pernah memiliki pasangan. Implikasinya, aku bingung apa yang dilakukan seorang pria ketika menyukai seorang wanita yang ditemuinya dalam sebuah pertemanan di bangku kuliah?

Sampai pada momen di bulan Mei 2011 itu, aku sudah melakukan beberapa hal untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sebuah kondisi yang kami, teman-teman satu kelas ciptakan saat itu, adalah acara malam keakraban (makrab) yang berlokasi di sebuah vila di Lembang, Kabupaten Bandung. Malam hari di sana, hawa dinginnya bisa dirasakan sampai menembus kulit. Meskipun memakai jaket, paru-paru rasanya meminimalkan gerakannya untuk memompa udara.

Terlebih aku, dengan kondisi seperti gambaran di atas, aku tambah bercucuran keringat. Sebab demikian aku duduk di sebelah si Titik Dua D ini. Aku mengajak dia untuk bernyanyi bersamaku. Meskipun kebanyakan ia yang bernyanyi, aku mengiringinya dengan gitar. Kami disaksikan oleh teman-teman lain di suatu ruangan keluarga, di vila tempat kami menginap.

Lagu yang kami bawakan adalah milik Keith Martin berjudul Because of You. Bagiku, keseluruhan lirik dalam lagu tersebut memang menggambarkan perasaanku pada saat itu. Benar, hanya pada saat itu.

Because of you, my life has change, thank you for the love and the joy you bring.

Because of you, I feel no shame, I’ll tell the world, It’s because of you…

Sepenggal lirik pada bagian reff lagu tersebut.

Namun ternyata, aku bertindak jauh dari pada itu. Setelah menyanyikannya. Aku meminta si Titik Dua D untuk tetap di tempat duduknya. Tiba-tiba aku berani melakukan itu. Bahkan aku juga mengatakan “Aku ingin menyampaikan sesuatu, di hadapan teman-teman sekalian”.

Pada momen itu, aku sampaikan betapa aku menyukai dia. Namun aku sadar aku tidak akan bisa bertindak lebih jauh lagi. Hal itu tentu karena dia yang memiliki pasangan. Aku menekankan, bahwa perasaanku pada saat itu sebenar-benarnya rasa suka dan kagum pada si Titik Dua D.

Setelah itu, beberapa saat sempat hening. Namun dengan tiba-tiba terdengar tangisan. Rupanya si Titik Dua D menangis. Hingga beberapa teman yang lain mendampinginya. Aku pun menyudahi ‘pertunjukakan’ dengan gitar di vila tersebut. Aku memberikan waktu untuk si Titik Dua D sendiri.

Kemudian, setelah drama tadi selesai, aku dan beberapa orang teman melanjutkan aktivitas di vila itu. Kami berusaha menjemput rasa kantuk agar kami bisa tertidur. Karena esok harinya akan ada kegiatan yang lainnya.

Drama ini sebenarnya ingin kusudahi, pada waktu itu. Maka sepulang dari Lembang, aku berusaha menengkan diri. Aku menyembuhkan rasa sakit hatiku dengan menulis. Tulisan yang aku simpan dalam basis data Facebook melalui fitur “Notes”.

Setelah menulis tulisan tersebut. Perlahan aku mulai menjauh dari dirinya. Menjauh agar tidak semakin melukai perasaan yang rapuh. Meski ternyata hal ini tidak semudah memetik gitar pada chord C. Aku hanya bertekad untuk menghargai dia sebagai teman. Aku menyadari bahwa kesalahanku pada saat itu adalah menjatuhkan cinta pada hati yang sudah terisi.

Pada akhirnya, momen saat itu menjadi hal yang berharga untuk diriku. Bahwa berbagi hati untuk urusan perasaan bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Keseriusanku pada saat itu masih lemah. Jika saat ini aku bisa serius, aku tidak akan mengulang kisah ini pada “Titik Dua” yang lainnya. Mungkin begitu yang seharusnya aku lakukan.

Paling tidak, mengenang peristiwa itu menyadarkan diriku bahwa peka terhadap perasaan yang kita miliki dapat memberikan gambaran pada diri kita. Kepekaan yang seharusnya menjadikan diri kita dapat memahami suatu permasalahan tidak dari satu sudut pandang saja. Apa lagi sebagai seorang pria, ”peka” menjadi senjata makan yang harus kita kelola dengan baik.

Jadi, apakah kamu sudah peka? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s