Utamakan 110 : Sebuah Revolusi Mental Heroik di Indonesia

Bekasi, DH – Aku sangat yakin tidak satu orang pun dari kita yang mengharapkan datangnya musibah. Namun bila musibah itu terjadi, kita hanya bisa pasrah dan lebih baik menyikapinya dengan tabah dan ikhlas. Terlebih lagi musibah bisa terjadi di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Entah dalam keadaan yang baik maupun tidak baik, musibah selalu bisa terjadi.

Di sisi lain, rasa kemanusiaan seseorang bisa disebut objektif. Bahkan dapat dilihat dari tingkat kepekaan seseorang terhadap suatu rangsangan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Hal ini karena peka atau tidaknya seseorang erat kaitannya dengan pembawaan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Setidaknya itu lah yang aku yakini sampai saat ini. Hal ini kemudian berimplikasi pada respon yang diberikan seseorang ketika melihat musibah yang terjadi di sekitarnya.

Agar memiliki gambaran yang jelas, aku berusaha mengambil contoh nyata yang terjadi sekitar minggu ke-2 di bulan Oktober 2015. Malam itu aku mendapat kabar bahwa (almh.) Nenek masuk rumah sakit akibat kadar gula darahnya yang tinggi. Selepas solat Isya aku bergegas menuju Rumah Sakit Pusdikkes (RS Pusdikkes), Jakarta Timur. Langkah kakiku setelah menempuh 15 KM dari Bekasi, langsung menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS tersebut. Ternyata (almh.) nenek masih terbaring di ranjang IGD, menunggu administrasi kamar rawat inap.

Memang namanya IGD, setiap menit aku berdiri di depan ruang itu, hilir mudik pasien masuk ruang IGD karena sebuah keluhan penyakit. Mulai dari yang ringan, hingga yang berat. Aku menyaksikan, dengan mata kepala sendiri, betapa orang yang sakit lemas dibopong keluarganya menuju IGD. lebih dari itu, ada seorang remaja yang pingsan di jalan pulang menuku rumahnya, kemudian diantar oleh teman-temannya menuju IGD tadi. Dan yang selanjutnya masuk ruang IGD, yang paling membuatku pilu.

Setelah 30 menit di IGD, aku melihat sebuah angkutan umum berhenti tepat di depan ku berdiri. Mobil itu diikuti oleh pengendara motor yang mengenakan jaket merah yang di dalamnya masih lengkap pakaian kerja. Rupanya di dalam mobil angkutan umum tadi, ada seorang laki-laki yang terbaring payah di lantai mobil angkutan umum. Kondisinya begitu rusak, lengkap dengan simbahan darah dari luka menganga di pelipis kirinya. Laki-laki ini adalah korban kecelakaan. Dan pria berjaket merah tadi adalah orang yang berinisiatif untuk memanggil angkutan umum, dan mengantarnya ke RS.

Aku, beberapa orang laki-laki yang ada di sekitar IGD, dan pria berjaket merah tadi bergegas mengangkat korban ini menuju IGD. Aku melihat betul bagaiamana darah segar masih mengalir kental dari dalam tubuh manusia. Darah itu membasahi pakaian orang-orang yang mengangkat tubuh pria ini di bagian kepalanya. Serta luka menganga itu masih terbuka, namun si pria tidak sadarkan diri.

Setelah masuk di IGD, aku membayangkan prosedurnya tidak jauh berbeda seperti yang aku saksikan dalam film serial “Crime Scene Investigation” (CSI). Yaitu, si korban langsung mendapatkan pertolongan pertama, entah dijahit lukanya, disuntik cairan infus, dan lain-lainnya. Namun, film hanyalah film. Peristiwa yang aku saksikan selanjutnya tidak sesuai dengan refleksi yang di film CSI tersebut.

Beberapa saat berselang, pria berjaket merah tadi dipanggil petugas IGD. Ia dicecar pertanyaan yang disampaikan bergaya dan bernada militer. Memang benar RS Pusdikkes dikelola dan menganut budaya Militer (Angkatan Darat). Namun, pada saat genting itu, ada seorang korban kecelakaan yang darahnya sudah keluar dari tadi. Bahkan si korban belum diberikan penanganan apa pun.

Lagi-lagi, aku hanya menyaksikan keributan di ruang IGD itu dari depan pintu kaca bertuliskan ‘IGD” saja. Tanpa tahu apa yang akan terjadi kalau saja pria si korban tadi terlambat mendapatkan penanganan medis. Namun selang beberapa menit kemudian petugas medis di IGD menyarankan pria korban kecelakaan tersebut dibawa ke Rumah Sakit Polri (RS Polri). Menurut petugas medis hal ini karena si korban tidak memiliki identitas yang lengkap. Pihak RS Pusdikkes tidak ingin mengambil risiko untuk menangani korban tanpa identitas yang jelas.

Sementara itu, aku dan beberapa orang yang masih menunggu di depan ruang IGD tadi berdiskusi beberapa hal. Kami memberikan apresiasi atas aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh pria berjaket merah tadi. Karena ia berinisiatif untuk membawa korban tadi menuju rumah sakit. Namun di sisi lain, ternyata inisiaitif ini bertentangan dengan standar operasi di RS Pusdikkes tersebut.

Selain itu, berdasarkan pengetahuan yang diberikan salah seorang yang membantu mengangkat pria korban tadi. Ia mengatakan jika di lain waktu dan tempat kita menemukan peristiwa seperti yang dialami pria korban ini, langkah yang baik yang seharusnya dilakukan adalah menelepon polsek terdekat. Atau jika memang tidak memungkinkan sebenarnya kita sebagai orang yang peduli, dapat menghubungi Nomor Darurat Polisi di 110. 

Mendapati kesimpulan itu, aku teringat pernah membuat tulisan tentang Nomor Darurat Polisi di 110 tadi (Baca selengkapnya di Emergency Call POLRI 110: Gunakan Saat Keadaan Darurat ). Nomor ini sudah dikonfirmasi oleh seorang pejabat kepolisian di resor Cilacap. Ia juga berpesan, karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya, maka sosialisasi penggunaan nomor darurat itu memang perlu gencar diberitakan.

Pada akhirnya, setelah debat panjang di ruang IGD tadi, maka pria si korban tadi berlalulah ke RS Polri. Namun, dengan diantar mobil angkutan umum. Ternyata bukan mobil ambulan RS Pusdikkes yang mengantar si korban tadi.

Aku memerhatikan menit-menit yang berlalu di layar ponsel pintarku. Sekedar untuk mengetahui jam berapa pada saat itu. Lalu aku menghitung, kurang lebih 15 menit peristiwa IGD tadi berlangsung. Dan kami yang dari tadi berdiri di depan pintu IGD mengakhiri peristiwa ini dengan mengambil hikmah dan pelajaran tentang inisiatif yang benar saat mendapati kecelekaan atau peristiwa darurat lainnya. Bahwa memang sebaiknya diserahkan kepada pihak yang berwenang dengan mgnhubungi Nomor Darurat 110. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s