PERTEMUAN TERAKHIR

“Kamu masih ingat ga, dulu pernah ngenalin saudara kamu, Ega, ke aku? Sekarang dia apa kabarnya ya…” aku memulai pertanyaan itu, yang ingin sekali kutanyakan pada Ita sejak lama. Namun dia menjawab singkat, “Ega udah ga ada, Don. Dia sakit Lupus.”

 

CILACAP, DH – Bismillah, memang tidak bisa ditutupi tapi apa yang Facebook lakukan terhadap peradaban umat manusia sungguh menakjubkan. Sejak satu tahun terakhir ini, aku mulai menggunakan Facebook untuk tujuan yang lebih menguntungkan, menyambung silahturahim dengan kawan-kawan lama semasa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka adalah kawan-kawan yang sudah tidak pernah lagi bertatap muka denganku karena keputusanku untuk kuliah merantau di kota orang.

Maka demikian, Facebook aku gunakan untuk menemukan kembali kawan-kawan yang aku masih ingat namanya –yang kadang tertulis juga di buku tahunan- menggunakan fasilitas “Pencarian” yang ada di media sosial itu. Terlepas dari fakta dan cerita di balik pendiri Facebook, dan segala ‘isme’ yang ada di Facebook, aku melihat Facebook dalam konteks kebaikan. Sampai pernah berpikir, “Andai saja Mark Zuckerberg adalah seorang muslim, betapa timbangan amal jariyahnya sangat berat..”.

Namun cerita ini mengarah pada ingatanku dengan sebuah nama yang pada saat ini (tahun 2015) sudah 10 tahun mengendap di dalam pikiran. Ega. Nama itu 10 tahun yang lalu begitu membekas, baik di pikiran maupun di hati. Namun bergantinya hari, bulan dan tahun nama itu sempat pasang surut.

Ega, adalah seorang wanita yang tinggal di Jakarta. Dalam ingatanku, dia seseorang yang putih, manis, dan berambut pendek serta suaranya lembut. Hanya sebatas itu. Karena hubungan kami tidak lebih dari sebuah foto dan bermodal telpon genggam untuk saling menyapa. Begitu terus, hingga hubungan yang kini lebih dikenal dengan istilah LDR (Long Distance Relationship) berjalan selama tujuh bulan. Selama itu, Jakarta – Cilacap hanya sejauh suara aku dan dia yang ada di ujung telpon ini.

Memang tidak ada yang spesial dari hubungan aku dan Ega. Tapi yang membekas adalah bahwa Ega wanita pertama yang membangkitkan getar-getar rasa ketertarikan seorang pria terhadap wanita. –Sebenarnya agak malu mengatakan ini, tapi- Istilah sekarang mengatakan, Ega adalah Cinta Pertamaku saat itu, saat aku belum mendapat hidayah melalui hastag #UdahPutusinAja.

10 tahun yang lalu, selama tujuh bulan, kemudian berakhir karena alasan yang sepele. Namun aku masih mengingat, bahwa aku yang memutuskan untuk meninggalkan Ega. Maka setelah berpikir jernih, dua tahun setelahnya (2007) aku berusaha menghubungi dia kembali untuk tujuan baik, meminta maaf dan memperbaiki hubungan.

Rupanya gayung pun bersambut. Aku berhasil menghubungi dia.

Tapi ingatanku tentang bagian ini cukup kabur. Entah bagaimana kami berhenti berhubungan melalui pesan singkat. Aku lupa pernah menyimpan nomornya. Aku lupa pernah menghapus fotonya –foto satu-satunya Ega yang aku miliki- dari komputerku.

Dan pada akhirnya bagian ini lenyap begitu saja. Namun masih mengendap namanya. Ega, hanya itu yang aku tahu.

+++++

 

Aku kenal Ega dari sebuah percakapan singkat dengan Ita Puspita, seorang teman di SMP. Mungkin saat itu tidak ada angin dan hujan tapi Ita datang menawariku sebuah tawaran yang aku pun aneh mendengarnya. “Don, aku kenalin sama saudaraku mau gak? Dia anak Jakarta,” kata Ita saat itu di kelas.
“Ohh iya boleh deh, siapa namanya?” Aku menjawab sambil kebingungan.

“Namanya Ega. Ini nomernya…” Ita memberikan nomor telponnya Ega sambil berlalu.

Sesingkat itu Ita menghampiriku di dalam kelas.

+++++

 

Siang hari kemarin, aku iseng membuka Facebook sambil melihat notifikasi yang tersedia di sana. Dengan tiba-tiba aku melihat sebuah nama yang tidak asing. Ita Puspita. Langsung saja aku menambahkan namanya ke dalam daftar pertemananku.

Di dalam pesan Facebook, aku lancarkan strategi Innocent Communication yang aku pelajari otodidak.

“Halo, ini Ita yang teman SMP ku dulu bukan ya?” Tanyaku dalam pesan Facebook.

“Iya Don.. Aku temanmu yang sekelas dulu.. Apa Kabar kamu Don? Udah jadi sarjana aja nih” 10 menit kemudian ia membalas pesanku.

Melalui fitur pesan Facebook, aku seolah bercakap dengan Ita mengulang sedikit kenangan pertemanan kita di SMP. Dan aktivitas terbaru yang setelah 10 tahun tidak pernah kami saling ketahui.

Namun demikian, bagaikan batu Pancawarna Garut yang muncul ke permukaan setelah mengendap lama di dasar bumi untuk siap di gosok oleh para pencintanya, aku pun mulai menggali informasi keberadaan seseorang yang namanya mengendap di pikiranku selama 10 tahun, Ega.

“Kamu masih ingat ga, dulu pernah ngenalin saudara kamu, Ega, ke aku? Sekarang dia apa kabarnya ya…” aku memulai pertanyaan itu, yang ingin sekali kutanyakan pada Ita sejak lama. Namun dia menjawab singkat, “Ega udah ga ada, Don. Dia sakit Lupus.”

……….

Sebelum memulai pertanyaan selanjutnya aku sempat ragu. Apakah yang Ita sampaikan salah. Atau aku yang salah baca pesan dari Ita. Berkali-kali aku perhatikan barisan huruf yang membentuk kata hingga menjadi sebuah kalimat yang ditulis Ita. Dan ternyata benar, Ita mengabarkan bahwa Ega sudah meninggal dunia.

Ega sudah meninggal dunia.

Naluri wartawanku tiba-tiba muncul, menanyakan 5W+1H tentang kepergian Ega. Dan aku mendapati, rupanya Ega menderita penyakit Lupus sejak kelas dua SMA (tahun 2008). Hingga ia meninggal saat ia kuliah semester satu (sekitar tahun 2010). Ega dimakamkan di Jakarta, yang sampai saat ini aku belum tahu lokasi makamnya.

Aku terus menanyakan bagaimana rupa Ega yang aku kenal 10 tahun yang lalu pda Ita. Namun sayang, karena gangguan di telpon pintarnya Ita, seluruh foto Ega hilang. Begitu pun sosial media yang dimiliki Ega. Menurut Ita, Kakaknya Ega menghapus semua sosial media yang dimiliki Ega.

Hingga pada akhirnya, aku mengetahui nama lengkap wanita yang 10 tahun pernah aku kagumi. Sirega Salsa Deserin.

Berdasarkan itu aku masih berharap dapat melihat jejak Ega di Internet. Namun, Google pun tidak dapat menemui nama itu di setiap basis datanya.

Aku pun pasrah. Dan entah bagaimana aku menyikapinya. Namun Ega memang sudah tidak ada. Wanita yang namanya 10 tahun mengendap di pikiranku kini sudah bersemayam di tempat asalnya. Hal ini membuatku sedikit menyesali pertemuan terakhirku dengan dirinya, bertahun-tahun yang lalu. Pertemuan yang aku lakukan tanpa bertatapan muka.

Tetapi bagaimanapun pertemuan terakhir antara aku dengan Ega, setidaknya memberi pelajaran kepadaku untuk terus mengingat kematian. Karena ia akan datang bagaimanapun caranya. Juga, kisah Ega ini mengingatkanku untuk selalu berbuat baik kepada orang lain sebelum penyesalan datang. Dan terakhir, Ega mengingatkanku bahwa manusia dapat saja berharap, namun Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Innalillahi Wainnaillaihi Roji’un. Semoga Allah SWT., mengampuni dosa-dosa Sirega Salsa Deserin.

Aamiiin.

 


Ditulis pada 30 Juli 2015,

Oleh Donie Hulalata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s