Kita yang Kembali: Menjadi Muslim Cerdas dengan Mengingat Kematian

Bekasi, DH — Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata kembali? Bisa saja beberapa bayangan masa lalu hadir, atau bayangan rumah, kuburan, dan lain-lain yang muncul dalam pikiran kita masing-masing.

Namun, kata kembali, meski dapat dimaknai dengan beragam sudut pandang aku lebih menyukai makna kembali yang membuat kita makin bersyukur pada Allah Subhan Wata’ala.

Apakah itu?

image

Aku terlahir sebagai seorang muslim. Hingga kini tetap berusaha mempelajari Islam secara utuh. Insyaallah, kita tetap dalam naungan Allah selama kita berpikir hidup di dunia ini sebentar. Karena nantinya, kita manusia akan kembali pada Allah. Ke rumah asal kita di surga. innalillahi wainnaillaihi roji’uun.

Namun demikian, semata-mata tidak dapat kita kembali begitu saja.

Tidak dengan alasan kita dilahirkan ke dunia, kecuali Allah menyuruh kita beribadah kepada-Nya. Lalu untuk apa? Jelas, sebagai poin kita untuk mencapai Surga, rumah asal manusia.

Mari kita pikirkan, banyak sarana untuk manusia mendapatkan “tiket kembali” -nya. Satu diantaranya melalui bulan Ramadhan.

29 hari di bulan itu, umat islam diwajibkan berpuasa. Bersedekah dan banyak berbuat baik. Karena Allah yang langsung membalas amalan di bulan Ramadhan bagi kita. Dalam istilah modern, Allah tengah mengobral pahala di bulan Ramadhan.

Aku pun demikian, meski sangat menyadari bahwa Ramadhan tahun ini, 1436 H atau 2015 M, aku masih jauh dari nilai cukup baik, mudah-mudahan Allah masih mencatat kebaikanku. Pun demikian kebaikan kamu sekalian.

Kemudian, setelah Allah mengobral pahala, kita umat islam masih dimanjakan dengan doorprize dari Allah, yakni kembali ke fitrah. Istilah itu, dimaknai bahwa manusia yang kembali ke fitrah bagaikan seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, masih suci tanpa noda hitam dari dosa. Maa sya Allah.

Kembali ke fitrah. Menjadi seperti bayi yang suci tanpa dosa. Siapa yang akan menolak doorprize ini?

Aku pun ingin doorprize itu.

Begitu inginnya, sebelum kematian datang di saat yang aku belum tahu.

Segalanya akan kembali, sekali lagi, segalanya akan kembali.

Jika kembali kepada fitrah, adalah kembali dalam makna duniawi. Sementara kembali melalui kematian, merupakan makna lain yang dalam tataran filosofis, kematian dapat dijadikan interpretasi dari kembali ini.

Bahkan, aku menulis sebuah catatan ini dalam rangka mengingatkan diriku tentang Sang Pemutus Kenikmatan itu, kematian.

Juga mengingatkan, bahwa apa yang masa laluku maknai tentang kembali hanya sebatas pada kenangan terhadap peristiwa indah, masih belum cukup memberatkan timbangan makna kembali.

Karenanya, mari kita bersyukur, mudah-mudahan dengan kembalinya kita pada fitrah, dapat memudahkan jalan kita kembali pada Sang Khalik, Allah Swt. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s