Cerita Sebotol Air

Cilacap, DH – Setelah melipat sajadah aku bergegas mematikan lampu temaram di ruangan itu. Namun dari balik atap bening di sebelah lampu itu ada secercah cahaya putih bulat yang aku tahu itu adalah bulan. Lantas aku tersenyum dalam keheningan.

 

Bagaimana tidak tersenyum, karena tiba-tiba bentuk bulan saat itu mengingatkanku pada paracetamol dan beberapa tablet obat lain yang aku minum untuk kesembuhanku.

Ya, sudah masuk satu minggu aku mulai pulih dari gejala Demam Berdarah. Diagnosa dokter dan hasil laboratorium menunjukkan di dalam darahku ini terdapat virus Dengue. Menurut sang dokter, trombositku yang masih di atas 150 ribu ini menyelamatkanku sehingga belum dikategorikan positif Demam Berdarah.

Namun demikian, gejala yang ditimbulkan saja sudah melebihi rasanya sakit ditinggal menikah mantan gebetan. Atau melebihi tidak nyamannya sakit kepala karena dikejar hutang.

Sejurus kemudian, aku dibekali berbagai macam obat dari dokter. Mulai dari obat demam, penghilang rasa sakit, sampai vitamin. Pokoknya sejak malam itu selama lima hari aku akrab dengan obat, dan sebotol air putih.

Malam-malam aku lalui dengan segala rasa sakit yang mendera. Saat itu, hanya guling yang menjadi pelampiasan amarahku menahan rasa sakit. Kipas angin di atas dinding malam itu mati, tidak berputar karena tahu diriku rentan terhadap udara dingin.

Selanjutnya seperti itu setiap malam. Meski diiringi doa dari kedua orang tua, sakit di tiga hari pertama tak kunjung reda. Sampai pada akhirnya aku hanya meracau dalam sabar.

Seketika itu aku menggenggam botol berisi air putih. Setiap tegukannya aku mengingat apa yang aku lakukan semasa sehat. Setiap kali menelan air, aku berusaha ikhlas akan apa yang terjadi pada diriku. Pada hari itu, aku baru menyadari, minum dari sebotol air sangatlah tidak menyenangkan saat kondisi kita sedang sakit.

Begitu terus sampai pada hari kelima aku berangsur baik. Hilang sakit kepala dan demam yang kemarin hinggap. Meski badan masih sempoyongan, aku bersyukur mulai bisa merasakan makanan di setiap waktu makan.

Alhamdulillah, siang itu di hari kelima, aku mulai merasa lega saat menenggak air dari sebotol minuman. Aku bahagia. Dan kemudian bersyukur pada Allah.

Kini, memasuki satu minggu masa pemulihan aku semakin mengerti. Bahwa rasa senang dan bahagia akan terasa justru saat kita sedang sakit. Maka dari itu, meski hanya dengan sebotol air putih, jadilah manfaat bagi orang-orang disekitar kita. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s