Keajaiban Tangan Mama

Cilacap, DH – Bagaimana kamu menempatkan Ibu (selanjutnya disebut Mama) dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin sepele, tapi bagi beberapa anak mama dijadikan orang tua yang berada pada level formalitas sebagai wanita yang melahirkan kita. Meskipun demikian aku masih menaruh keyakinan bahwa masih banyak anak yang menganggap Mama sebagai orang yang penuh keajaiban.

Mama punya waktu yang kalau dihitung mungkin tidak 24 jam dalam sehari. Mama juga punya jawaban yang mungkin di Google tidak bisa ditemukan. Bahkan, ada Mama yang bisa memerankan tiga tokoh sekaligus; ibu rumah tangga, baby sitter, dan wanita karir, meskipun Mama bukan aktris.

Bahkan aku, harus menunda tulisan ini sampai 3 minggu hanya untuk merumuskan kegelisahan tentang Mama yang ajaib.

Bagaimana kemudian aku menyebut Mama sebagai keajaiban?

Karena ternyata Mama adalah wanita yang mulia yang kepadanya kita dianjurkan untuk berbakti, tentunya juga kepada Papa. Namun dalam sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kedudukan Mama dalam hal berbaktinya seorang anak.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’”(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Pada hadis di atas, Rasulullah menyebutkan “Ibumu” sampai tiga kali. Penekanan ini ternyata menganjurkan kita sebagai anak untuk berbakti kepada orang tua terutama Mama.

Itulah yang kemudian menjadi senjataku saat aku kehilangan ponsel pintar, awal bulan lalu.

Ceritanya dimulai saat aku begitu senang kedatangan keponakan berumur sembilan bulan dari kakakku yang kedua. Syafira, begitu namanya. Pipinya yang “tembem” menahanku untuk beranjak dari tikar tempatku mencubit pipi gembulnya.

Namun kemudian, Mama menyuruhku pergi ke rumah tukang pijat tetangga di depan rumah. Karena keseruan bermain dengan Pipi tembem keponakanku, aku sempat ragu untuk beranjak dari tikar itu.

Bahkan di dalam hati sempat sedikit menolak. Namun apa daya lidahku malah berkata “Okay Ma….”

Selangkah kemudian aku sudah berada di rumah tukang pijat khusus anak bayi itu. Aku menyelesaikan misi itu dengan perasaan biasa saja. Bahkan langsung pulang ke rumah berharap dapat mencubiti pipi tembem Syafira.

Namun sesampainya di rumah, Syafira sudah beranjak dari tempatnya. Dan tikar yang tadi aku dan Syafira berada sudah dirapikan. (Saat itu sudah berlangsung acara Pengajian Aqiqah keponakanku kedua, Altair).

Kemudian jarum jam di dinding belakang sudah menunjukkan waktu 15.00 WIB dan menjelang azan Solat Ashar. Ketika aku sedang membantu merapikan sisa-sisa pengajian tersebut.

Di saat yang sama datanglah tetangga yang sudah dianggap saudara, mengirimkan sepanci tekwan. Ia datang dengan mobil dan aku memarkirkan mobilnya agar tidak mengganggu lalu lintas di samping rumah.

Begitu ia pulang aku masih melanjutkan aktivitas bersih-bersih rumah hingga menjelang waktu Maghrib. Pada saat itu aku baru sadar ponsel pintar yang diberi nama Zifa ini tidak berada di kantong celana atau di dalam tas kecilku.

Maka sejak sebelum Maghrib, saat Maghrib, dan setelah Maghrib aku berkeliling rumah mencari keberadaan Zifa. Bahkan aku sempat mengulang ingatan kapan terakhir kali menggenggam Zifa.

Namun dalam waktu tiga jam aku tidak dapat menemukan keberadaannya. Panggilan telpon yang tersambung pun tidak berbalas dari Zifa. Hingga pada akhirnya aku mulai lemas (baca: tepar).

Aku berusaha tenang sampai habis tiga gelas air putih dingin. Aku mencoba sabar sampai habis dua mangkok tekwan. Aku berupaya ikhlas, hingga habis 10 tusuk sate kambing.

Tetap saja Zifa tidak ditemukan.

Dalam doaku, aku mengingat dosa di dalam hati saat menjalankan misi dari Mama pada sore harinya. Meski hanya sedetik aku memikirkannya dalam hati, namun konsekuensinya sebesar ini.

Aku merendahkan hatiku, melepaskan semua keangkuhan dan gengsi. Sembari mencium tangan Mama dan berkata “Ma, maafin Doni ya…..”.

Setelah itu aku merelakannya dengan pergi jalan-jalan dengan keluarga besan kakakku ke Alun-alun Cilacap. Aku menghabiskan semangkok wedang ronde tanpa memikirkan Zifa. Hingga pada saat meminum seteguk terakhir es teh, aku diberitahukan bahwa Zifa sudah ditemukan, dan sudah diantar ke rumah.

Ya, ternyata Zifa terjatuh di dalam mobil tetangga yang aku parkirkan sebelumnya. Alhamdulillah.. Langsung aku lahap mengunyah sisa kolang kaling si wedang ronde tadi.

Dari cerita yang “mengenyangkan” itu, aku benar-benar bersyukur Allah masioh memberikan rizki kepadaku. Intinya bukan Zifa yang kembali. Tapi adalah bagaimana Zifa hilang dan bagaimana Zifa kembali, ikhlas dan Mama.

Sejak saat itu, aku semakin meningkatkan kehati-hatian menjaga barang. Bahkan yang lebih penting, aku semakin mengerti bagaimana Allah menghadirkan Mama dalam kehidupan kita.

Aku semakin sering mengingat dosa, baik yang di hati ataupun yang di lisan. Dan selalu bersyukur, inshaallah, Mama masih bisa kita peluk dengan kasih sayang. Maaf ya Ma…… (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s