Temui Aku dalam Istikharahmu

Cilacap, DH – Cerita ini dimulai saat pagi hari segelas teh manis bersanding dengan smartphone di meja kerja. Rupanya dari aplikasi pesan instan di ponsel itu seorang teman, Syafiqah, mengajakku untuk menengok teman kami di SMA, Sumi, yang baru saja melahirkan anak pertamanya.

Sempat terulang sekilas ingatan saat kami; aku, dan teman-teman di SMA itu, masih bersama-sama di SMA. Kami masih bermain, mengerjakan PR di sekolah, dan kebiasaan lain anak SMA di tahun 2010 itu. Ingatan ini melintas sesaat sebelum aku menekan tombol “enter” untuk mengirim pesan. Yang ternyata aku ketikkan bahwa jawaban kesediaan menerima ajakan Syafi yang berbunyi “okay, kabari aku lagi ya”.

Maka pada sore hari itu rencana kami berjalan seperti seharusnya. Karena ini hanya kunjungan sederhana, aku dan Syafi hanya bersama Efi, sang calon ibu yang tengah mengandung anaknya. Ya, Efi juga salah satu temanku dan Syafi di sekolah.

Efi sudah menikah sejak awal tahun 2015 lalu. Aku dan teman-teman menghadiri undangan acara pernikahannya dengan seorang pria yang melamarnya sejak lulus kuliah itu. Kami hanyut dalam keriangan pesta pernikahan teman yang usianya tentu tidak jauh berbeda. Maka dari sinilah topik pembicaraan dimulai.

Di dalam mobil yang kami tumpangi menuju rumah Sumi, pembicaraan mengenai jodoh, pernikahan dan kehamilan menjadi lagu setia yang menemani perjalanan. Hal ini tentu dimulai dari Efi, sang calon ibu. Ia menceritakan kisahnya bagaimana saat dirinya dipertemukan oleh Allah dengan pria yang akan menjadi suaminya itu.

Namun ternyata, cerita Efi itu membawa pada sederet daftar pertanyaan yang aku simpan dalam hati dan pikiran mengenai perjodohan.

Bagaimana jodoh itu dirumuskan?

Itu adalah pertanyaan besar yang ketika dibahas akan memunculkan deretan pertanyaan yang aku maksud tadi.

Aku memikirkan pertanyaan itu tanpa mengetahui bagaimana cara menjawabnya. Bukan tanpa sebab, dalam satu tahun terakhir, aku mengikuti kabar teman-temanku di SMA yang hilir mudik mengirimkan undangan dirinya via Facebook.

Sebelum Efi, Sumi yang melakukan hal itu. Bahkan jauh sebelum mereka beberapa teman wanita di SMA juga melakukan hal yang sama. Ada pula teman yang dulu satu grup di les, menikah dengan teman yang juga satu grup di les tersebut; Fahry dan Putri.

Dalam rangka memunculkan pertanyaan tadi di atas, pola-pola jodoh yang aku amati dari teman-temanku ini cukup abstrak dan banyak faktor yang sebenarnya susah dikategorikan.

Sebut saja usia, ada yang usianya berbeda lima sampai enam tahun. Bahkan usia yang sepantaran juga menjadi jodohnya.

Ada lagi pekerjaan. Dia yang sudah bekerja bertemu jodohnya di tempat kerjanya sendiri. Namun demikian ada juga yang bertemu jodohnya bukan dari tempat kerjanya. Bahkan ada mereka yang belum bekerja saja sudah menikah.

Faktor lain seperti pertemanan. Mereka yang berteman sejak SMA (terlebih lagi satu grup les) ternyata berjodoh. Bahkan temanku yang lain dilamar jodohnya yang seorang mantan ketika masih di SMP.

image

Begitu rumit pola perjodohan ini kemudian coba dijawab oleh Efi, sang calon ibu muda. Ia mengatakan bahwa yang sebenarnya harus dilakukan adalah berpegang pada prinsip: Serahkan semua pada Allah. Ketika Allah sudah berkehendak maka hanya diri-Nya lah yang sanggup mewujudkannya.

Bahkan Syafi yang dari awal duduk manis di dalam mobil, begitu antusias mendengar kisah dari Efi. Ia ternyata memiliki prinsip yang tidak jauh dari Efi. Hanya saja Syafi merindukan imamnya nanti melamar dia sesuai tuntunan islami; taaruf-khitbah-akad-walimah.

Bagaimanapun kisah teman-temanku yang sudah mendahului aku untuk menikah, ditambah cerita romansa Efi, dan cita-cita Syafi mengenai pernikahan, diriku masih harus berfokus pada stir mobil yang aku kendarai. Karena tantangannya adalah aku mengangkut Efi, sang calon ibu muda.

Namun demikian, filosofi mengendarai mobil itu tidak jauh berbeda dengan apa yang seharusnya aku lakukan. Fokus. Berfokus pada apa yang dapat membuat diriku menjadi calon Imam yang bertanggung jawab pada keluarga. Menambah pengalaman menjadi Imam yang diimpikan wanita-wanita solehah yang tidak putus doanya.

Bahkan aku membentuk sebuah cita-cita bahwa istriku nanti adalah wanita solehah yang berwawasan global dan berhati Al Qur’an. Namun demikian jika aku tidak ada upaya dan usaha untuk memantaskan diri, tidak ubahnya aku seperti ulat yang ingin menjadi kupu-kupu tanpa melalui proses masuk dalam kepompong.

Maka dari itu, selagi aku “masuk ke dalam kepompong” aku tetap menyelipkan doa. Serta pengharapan bagi wanita-wanita solehah yang senantiasa berdoa kepada Allah, untuk terus meminta kepada Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena hanya atas ijin-Nya, aku dapat menemuimu dalam istikharahmu. Siapapun kamu, yang Allah ijinkan untuk menjadi istriku kelak.

Kemudian, pengalaman yang diceritakan Efi, sang calon ibu muda, serta cita-cita yang Syafi berikan, membawa kami sampai di tempat tujuan, rumah Sumi. Di sana, kami bertemu dengan Aulia Putri Setyabudi sang bidadari mungil yang dilahirkan oleh Sumi, teman kami di SMA Aku. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s