Mahasiswa (Kekinian) dan Media Massa dalam Memandang Dinamika Sosial di Indonesia

Cilacap, DH – Malam minggu tidak selamanya ngenes bagi para penikmat kesendirian. Ini yang ternyata dibuktikan pada hari Sabtu (14/03) kemarin pada diriku, dan beberapa teman yang tergabung dalam Students Telkom University News Portal ‘Ultimate’ Crew.

Tidak dipungkiri lingkungan yang kami geluti berhubungan dengan Internet dan teknologi sehingga kami menjadi satu dari banyak individu yang hidup di era digital. Pada malam (minggu) itu, Group Chat di Line Messenger berbunyi cukup ‘riweuh’. Rupanya salah satu anggota grup memberikan sebuah bahasan menarik yang didapat dari ‘grup sebelah’.

Isinya berupa kritik pedas yang provokatif dari seorang mantan aktivis asal kota Bandung. Pada kultwitnya yang mempertanyakan “Kemana Mahasiswa”, ia melemparkan argumennya tentang aktivitas mahasiswa di era yang saya sebut era digital ini. Mari di simak pada tautan berikut ini: Klik di sini.

Sontak, ponsel pintar kami mulai bergemuruh dengan nada notifikasi khas aplikasi pesan instan tersebut. Sesaat kemudian babak diskusi mulai terjadi mengisi kekosongan (hati) pada malam minggu itu.

Bagaimana tidak menimbulkan diskusi? Group Chat itu -yang kemudian membuat aku bersyukur-, di isi oleh orang-orang yang tidak bisa diremehkan kapasitasnya. Ya, Students Tel-U News Portal ‘Ultimate’ Crew adalah grup yang berisi Fonder, CEOs dan Kepala Divisi mulai dari tahun 2008 hingga 2015. (Simak seluk beluk Students Tel-U News Portal di sini). Sebagai individu dan kapasitasnya sebagai insan sosial dengan berbagai latar belakang, grup tersebut juga terdiri mulai dari aktivis mahasiswa, pegiat media massa, sarjana muda, hingga seorang indigo.

Dengan formasi seperti itu kami menikmati diskusi hebat yang menurut kami mampu membahas suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Kemudian benar saja bahwa topik bahasan mengenai kritik pedas mantan aktivis asal Bandung sebelumnya itu menjadi hidangan pembuka bagi kami yang begitu concern terhadap substansi pergerakan mahasiswa di era digital saat ini.

Sorotan utamanya adalah gaya pergerakan mahasiswa di era digital dalam hal mengritisi kebijakan pemerintah. Tentu isu-isu yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah bagaikan mengurai benang kusut di tumpukan jerami. Namun kami mencoba menyederhanakan hal-hal yang terurai tersebut ke dalam versi Students Tel-U News Portal “Ultimate” Crew.

Pada kesempatan itu, salah seorang “The Ultimate” Crew Students, yang juga pernah berkecimpung di BEM serta tergabung dalam organisasi eksternal kampus, mengatakan bahwa pergerakan mahasiswa dalam hal turun ke jalan tidak sepenuhnya buruk. Ia menuturkan, aksi turun ke jalan tidak selalu berhubungan dengan demonstrasi anarkis. Juga tidak melulu berisi tuntutan terhadap pemerintah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan ‘ajaib’.

Hal yang lebih menarik dari pernyataannya adalah bahwa jumlah mahasiswa yang turun ke jalan tidak selalu besar. Karena proses sebelum menentukan aksi turun ke jalan adalah dengan melakukan konsolidasi. Dalam proses ini selain membicarakan substansi aksi yang akan dilakukan, juga menentukan siapa saja yang akan turun ke jalan dan menjadi orator, hingga kordinator aksi.

Mahasiswa semester 8 itu pun menyebutkan jika dalam aksi mahasiswa yang turun ke jalan, sejatinya adalah ekspresi atau cara menyampaikan perasaan kepada pemerintah dan pemangku jabatan di negara ini, mengenai apa yang dirasakan bagi masyarakat secara general.

Kemudian, argumen itu ditimpal oleh CEO Media Management Students Tel-U, yang juga aktif di Transcorp. Ia mengatakan bahwa aksi turun ke jalan ternyata mengandung makna konotatif bahwa tidak murni niatan ‘membela’ masyarakat. Hal ini karena berkaitan dengan siapa dalang dari aksi mahasiswa tersebut. Bahwa setiap aksi, menurutnya, tidak mungkin tidak disusupi kepentingan dari ‘pemain besar’ di dunia perpolitikan di Indonesia.

Hal ini, sejalan dengan apa yang disampaikan Founder Students Tel-U. Ia rupanya mengetahui bahwa aksi mahasiswa yang belakangan beredar tersisipi oleh kepentingan pigak-pihak tertentu. Bahkan, orang yang memiliki ketertarikan terhadap makanan ini menggambarkan jika mahasiswa itu -yang aksi, dan turun ke jalan- seperti bidak catur dengan posisi pion. Pion digerakkan untuk membuka pertahanan, mengecoh pergerakan, hingga dijadikan tumbal demi strategi politik yang lain. Tujuannya apa? Jelas untuk menjatuhkan lawan.

Lalu, topik ini menjadi seru. Pada saat opini terjerumus ke dalam ‘aksi mahasiswa yang direkayasa’, aku yang pernah menjabat CEO Students Tel-U News Portal di tahun 2013, menyampaikan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi terciptanya opini di atas. Apakah itu? Jawabannya adalah media massa.

Usulan pendapat ini disampaikan sesaat setelah mengingat apa yang Burhan Bungin (2008) katakan melalui karya tulisnya. Hal ini dalam rangka kritik terhadap teori Realitas Sosial milik Berger dan Luckmann. Menurut Berger dan Luckmann, realitas sosial terbentuk karena interaksi yang dibangun individu dalam struktur sosial tertentu selama kurun waktu tertentu. Namun ternyata menurut Bungin, realitas yang terjadi di masyarakat sebenarnya dibangun oleh media massa. (Baca lebih lanjut mengenai teori ini pada buku Burhan Bungin, 2008, Konstruksi Sosial Media Massa. (Jakarta: Kencana), h. 11).

Media massa dikenal dengan segala penataan agenda (agenda setting) yang menghantarkan audien kepada isu-isu yang tersusun rapi dalam rangka menyajikan berita. Sering kali penataan agenda ini dibuat sebagai langkah penggiringan isu, dan juga pengalihan isu.

Berkaca di Indonesia, media massa paling mudah diakses antara lain televisi. Kita mengetahui bahwa televisi yang berstatus swasta itu jumlahnya banyak. Dari banyak stasiun televisi tersebut, ternyata pemiliknya ikut bermain dalam aktivitas politik di negara ini. Padahal sejatinya media massa seharusnya menjadi “watchdog” dan pengawal kebijakan yang ada di Indonesia. Sementara politik tidak lebih dari permainan elit yang rela mengorbankan apapun demi tercapainya tujuan politik yang ditentukan. Termasuk menggunakan televisi sebagai ‘kendaraan safari’ -nya.

Sembari hal tersebut di atas masih menjadi kajian dalam ranah Ilmu Komunikasi populer, kita sadar bahwa dalam tataran teori komunikasi massa ada hal yang disebut dengan teori kultivasi. Menurut teori ini, audien televisi terbagi menjadi dua kelompok; Kelompok mainstream, audien menonton teleivis lebih dari empat jam setiap hari dan kelompok anti-mainstream, audien menonton televisi kurang dari empat jam setiap hari. Dampaknya ternyata, menurut teori ini, audien mainstream menjadi stereotip yakni me-generalalisasi-kan hal-hal yang masih ‘miskin’ materi. Audien mainstream ternyata juga menganggap bahwa apa yang ada di televisi adalah refleksi nyata dari dunia yang sesungguhnya.

Maka dari itu, hal ikhwal yang saya coba sampaikan dalam ‘Dines’ (diskusi para LDR dan jomblo ngenes) di Group Chat Line itu, adalah bahwa kita sebagai individu, juga sebagai anggota struktur sosial, sebaiknya memiliki kewaspadaan.

Rasa waspada ini dimaksudkan agar kita tidak terjebak dalam opini-opini yang disampaikan media massa. Karena, pada era digital sekarang, tidak hanya kilat yang menyambar dengan cepat tetapi juga berita yang menimpa atau terjadi pada public figure di Indonesia, dalam hal ini termasuk pemerintah, sangat cepat beredar. Praktik dari kewaspadaan ini tentunya sangat mudah. Kita hanya harus melakukan Cross Checking terhadap berita-berita yang bergulir di media massa.

Selain itu, bahwa kewaspadaan yang dimiliki juga berarti cermat saat melakukan analisa terhadap tujuan dari aksi yang dilakukan mahasiswa.

Bagaimana kemudian hal tersebut menjadi perlu untuk diwaspadai?

Mari kita kembali pada tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) mahasiswa sebagai insan akademis. Dalam hal ini, aku menyampaikan bahwa tupoksi mahasiswa adalah melekat pada almamater universitasnya masing-masing. Di mana kita paham bahwa Perguruan Tinggi memiliki kewajiban menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Mengapa tidak berfokus pada hal ini saja?

Sampai pada tahap ini, aku membentuk sebuah pemikiran yang menyimpulkan bahwa aksi mahasiswa yang turun ke jalan tidak masuk ke dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Akan lebih baik jika energi, waktu, dan uang yang digunakan saat turun ke jalan, dialihkan ke dalam riset-riset mandiri yang nantinya akan menjadi solusi dari segala benang kusut yang diurai di atas tumpukan jerami tadi. Contoh praktisnya adalah melakukan kajian akademis mengenai dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolas Amerika terhadap pertumbuhan wirausaha di Indonesia. Mengembangkan teknologi yang mampu mempercepat pertumbuhan padi agar dapat memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia, sehingga harga beras dapat stabil bahkan turun. Lalu, membuat kelompok belajar komputer dan TIK dengan peserta para guru ngaji di kampung atau desa.

Tujuannya agar mahasiswa tidak selalu mendapatkan ‘rapor merah’ di mata sebagian besar masyarakat yang mengidentikan mahasiswa sebagai ‘tukang demo’. Menurutku hal itu akan menjadi semakin berguna.

Di sisi lain, aksi mahasiswa -yang memiliki agenda kritik terhadap kebijakan pemerintah- rupanya dapat menjadi ‘hidangan’ lezat bagi awak media. Bagaimana tidak, kebijakan pemerintah yang memang bernuansa politis, kemudian mendapat kecaman dari (kelompok kecil) mahasiswa, serta kepentingan para elit politik berkendara media massa, adalah racikan yang manjur untuk menjatuhkan lawan politik mereka.

Hal ini kemudian secara sederhana dapat dituliskan ke dalam kalimat logika matematika;

Premi A: Jika Mahasiswa turun ke jalan, maka akan mengritisi kebijakan pemerintah. | Premi B: Jika mengritisi kebijakan pemerintah, maka akan diberitakan media massa.

Kesimpulan: Jika mahasiswa turun ke jalan, maka akan diberitakan media massa.

Melihat kesimpulan dari kalimat logika di atas, kita harus ingat; Siapa yang bermain di belakang mahasiswa dan media massa, serta tujuannya untuk apa.

Tiba-tiba diskusi dalam grup berhenti. Hal ini ditandai dengan sepinya notifikasi yang sebelumnya ramai. Namun meski diskusi ini berakhir, tetap saja kami belum bisa mengurai benang kusut di atas tumpukan jerami itu. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s