Yaa… Namanya Juga Hidup

Cilacap, DH – Ceritanya dimulai saat waktu sudah menunjukkan pukul 10.50 WIB di Hari Jumat (06/03) ini. Sebagai muslim yang (menuju ke-) taat, dan seorang calon imam di masa depan, aku membereskan perlengkapan solat Jumat. Spesifiknya adalah membersihkan sandal yang akan dipakai aku dan papah untuk ke masjid.

Siang itu, aktivitas mencuci sandal ditemani oleh gemericik air dari keran dan suara gesekan antara sandal dan sikat. Ditambah sayu-sayu dari radio yang ada di sebuah meja di ruang belakang. Dekat dengan tempatku mencuci sandal.

Tiap gesekan sikat yang membersihkan kotoran di sandal itu, membuat pikiranku tiba-tiba menghentakkan sebuah isu yang sentral namun mulai jamak dan berkembang pesat di lingkungan sosial masyarakat dewasa ini. Apakah isu itu?

Ternyata adalah sebuah pemikiran mengenai “Apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari manusia saat hidup? Dan bagaimana kemudian mereka berani ambil keputusan dan tidak salah jalan untuk menuju kebahagiaannya?”

Pertanyaan itu dijawab bertubi-tubi dengan membayangkan di dalam kepalaku ada sebuah layar besar yang memutarkan potongan-potongan adegan film ber-genre drama yang berusaha menjawab pertanyaan tadi. Selalu begitu, sampai pada akhirnya dua pasang sandal jepit bersih dan terlihat baru serta siap untuk dipakai.

Hingga kemudian aku mengambil sebuah gelas yang dituangkan ke dalamnya air putih segar. Saat minum itu aku masih memutarkan potongan adegan film drama itu, sampai pada satu kesimpulan. Yang kemudian aku ucapkan dengan lantang, meskipun hanya cicak yang mendengar. “Ahh, sekarang orang hidup dari quote orang lain, hehehe”, kurang lebih itulah kalimat yang aku ucapkan.

Ya, memang benar, jika sekarang kita kepo akun-akun Instagram macam Dagelan, Comma.Wiki, Kajian Islam, dan lain-lain, pasti kita temukan minimal Meme yang menyindir fenomena ngehits yang tengah marak terjadi di masyarakat kita.

Aku mengakui, kadang, Meme berisi quote ataupun yang bersifat candaan itu, ada yang benar. Which is mereka (akun-akun tadi, red) membuat itu dari pengalaman-pengamalan yang dirasakan, Field of Experience. Namun beberapa juga didapat dari sekedar mendengar, dan membaca dari sumber orang lain, Frame of Reference.

 

Maka, dengan asumsi singkat itu, akun-akun Instagram yang tadi disebutkan, seolah mendukung statement diriku yang mengatakan saat ini orang mulai yakin apa yang dikatakan Meme atau Quote yang dibuat orang lain sebagai ‘pegangan hidup’ mereka.

Hipotesis itu ternyata bertentangan dengan apa yang kemudian muncul dari pikiran yang entah datang tiba-tiba, saat aku tengah memakai sarung bersiap untuk ke masjid. Tiba-tiba ada keresahan yang besar yang kemudian mengatakan, “Kalau banyak mendengar dari oranglain, kamu gak jadi dirimu sendiri, lho”.

Kalimat itu kemudian tersudut begitu saja tanpa alternatif jawaban “Ya” atau “Tidak”. Hal ini seiring dengan keberangkatan diriku bersama Papah menuju masjid.

Langkah kaki yang In Shaa Allah menjadi berkah itu, kemudian berjalan mantap masuk ke masjid. Menanggalkan sandal jepit yang masih bersih setelah di sikat itu. Hingga kemudian langkah terhenti pada sebuah rak yang menyimpan berlembaran “Buletin Jumat” dari salah satu pondok  pesantren di Cilacap.

Perasaan biasa mengalir saat aku bersegara masuk ke masjid dan menuntaskan sunnah masuk masjid. Lalu sembari bersila, aku membaca buletin itu dengan santai. Hingga tiba-tiba aku tersentak hening, saat membaca sebuah kolom dengan judul “Wasiat”.

Orang yang berakal adalah orang yang menjadikan pengalaman hidup sebagai nasihat baginya,”

— Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib ra.

 

Itulah sepenggal kalimat yang membuat seisi ruangan seolah melirik tajam ke arahku. Bagaiamana tidak, baru saja hipotesis muncul, langsung mendapat jawabannya. Tertulis di halaman paling depan pulak!

Dengan tidak mengurangi rasa syukur kepada Allah swt., aku pun kemudian mengucapkan Astaghfirullahal adziim. Karena aku pikir, itu adalah teguran dari Yang Maha Mengetahui.

Setelah itu, aku kemudian menelaah apa yang bisa diambil dari riwayat atau wasiat yang disampaikan Ali bin Abu Thalib itu. Ternyata, Meme dan Quote yang merupakan terjemahan dari Frame of Reference dan Field of Experience orang lain, memang pantas untuk dijadikan nasihat hidup.

Yaa, namanya juga hidup, kalau kita mau hidup seorang diri, pasti susah. Bahkan truk yang benda mati saja bisa punya gandengan, masa kamu mau hidup sendiri? Maka, jika kita diberi nasihat, atau membaca suatu kisah dan kutipan-kutipan bijak, cermati dan pahami. Ternyata hal yang sepertiitu adalah ciri orang yang berakal. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s