Bandung Pukul Tiga Pagi

Bandung, DH – Ketukkan pintu kamar tiba-tiba membangungkan mimpi abstrak yang aku alami pagi ini. Meskipun aku tidak dapat menemukan siapa gerangan yang membuat ketukan lembut di pintu berwarna kayu tua itu.

Tiba-tiba aku menyadari hal tersebut dengan senyum manis yang terukir di bibirku. Seraya mengucapkan syukur, aku bergegas mengambil handuk untuk persiapan mandi. Ya, mandi pada dini hari bagi sebagian orang merupakan waktu yang tepat untuk membuat badan lebih segar. Meski hawa dingin di Bandung bisa sampai ke ubun-ubun, air pada malam ini mampu membuat badanku lebih segar saat bangun tidur.

Seusai membasahi badan, mengeringkannya, tiba-tiba aku membasuh anggota tubuh dengan air wudhu. Sampai pada akhirnya aku mengenakan pakaian dan menutup aurat untuk memulai ibadah malam.

Momen inilah yang ternyata aku rindukan. Aku dapat ‘bertemu’ dengan Sang Pencipta. Aku bebas menceritakan apa saja yang aku inginkan. Aku boleh meneteskan air mata hingga mengalir sampai sajadah. Aku senang dapat berbagi kesedihan yang aku alami hari-hari ini.

Memang ternyata aku mulai merasakan bagaimana kesedihan ini melanda. Tiba-tiba aku dapat melihat diriku dalam bayangan yang aku imajinasikan dalam pikiran. Bayangan diri yang mulai menjawab pertanyaan “Kenapa orang-orang di dekatku berbuat demikian kepadaku?”. Namun meskipun dalam kesunyian itu hanya jarum jam yang terdengar, jawaban itu pun tidak aku temukan.

Mungkin benar jawaban atas segala masalah adalah kembali kepada Allah. Tempat di mana manusia mengadukan kehidupannya, mengakui kesalahannya, dan meminta petunjuk untuk menjadi golongan orang yang beruntung. Insyaallah.

Ketika rukun ibadah itu sudah terpenuhi, mulutku secara sadar berucap “Alhamdulillah”.

Berusaha mensyukuri apa yang Allah berikan kepadaku dan kepada orang tuaku juga kepada teman-teman di sekitarku. Meskipun beberapa dari mereka belum memahami niat baik yang coba aku lakukan. Insyaallah, Yang Maha Memberi Petunjuklah yang akan menuntun mereka, aku dan semua orang kepada kebaikan. aamiin.

Sampai pada saat ini, Bandung pukul tiga pagi, aku menemukan bagaimana cerminan hati memberitahukan bahwa menjadi orang baik tidak semudah mengetuk pintu yang dibuat dari kayu tua. DH.

Advertisements

2 thoughts on “Bandung Pukul Tiga Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s