Jiwa Besar di Tubuh yang Kecil

Bandung, DH – Masih tercium semerbak harum batako yang basah oleh hujan sore itu. Saat aku diberi kesempatan merenungi kejadian yang dilalui seminggu terakhir di bulan Oktober. Selama tujuh hari terakhir saja ada banyak kejadian yang aku  lalui dengan penuh keunikan. Namun ada satu hal unik nan inspiratif yang sangat menggugah perasaanku kala itu. Inilah, yang menjadi ceritaku bukan tentang kegalauan akibat cinta yang digantung seperti jam dinding di ruangan Public Relations Telkom University.

Adalah RAF -sebut saja demikian-, pejabat struktural di jajaran Sekretaris Pimpinan Telkom University Urusan Public Relations. Aku bekerja sama dengannya dalam hal pemberitaan positif dan peningkatan citra baik Tel-U di kancah regional, nasional, dan -direncanakan- internasional. Ia adalah atasanku secara struktural, ia adalah guruku dalam kaca mata pendidikan, dan aku menganggapnya teman diskusi dalam bidang media dan literasinya.

Lebih dari 15 tahun jelajahi sisi demi sisi media massa, jangan tanyakan idealisme media, independensi media, dan karya jurnalistik pada dirinya. Pembuktiannya selama itu, secara praktis sudah menjadi portofolio abadi yang melekat dalam barisan nama ditambah gelar Sarjana Sosial dan Magister Sains di belakang namanya.

Sebut saja ia profesional.

Belum banyak memang profesional yang aku temui selama empat tahun mengenyam pendidikan tinggi. Namun para profesional itu memiliki sikapnya masing-masing saat menunjukkan “siapa dirinya” kepada orang lain, termasuk aku. Diantaranya cenderung sangat pamer, memilih biasa saja, dan ada yang memiliki kecenderungan ingin merendahkan hatinya.

RAF ini aku simpulkan sebagai yang cenderung untuk merendahkan hatinya sebagai seorang profesional.

Kejadiannya terjadi saat Hari Kamis (30/10) kemarin. Tamu hilir mudik duduk di kursi tamu pada meja yang bulat di ruangan PR Tel-U. Mulai dari yang rutin meminta sepaket suvenir hingga tamu yang khusus mendiskusikan agenda tertentu yang akan dijalankan PR Tel-U.

Sore sebelumnya, dua orang tamu datang dengan membawa agenda pertemuan diskusi konsep sebuah pameran di acara seminar internasional. Acara itu dijadwalkan berlangsung di hotel mewah di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Dua orang tamu itu, yang aku kategorikan tamu khusus, memulai percakapan dengan pendekatan riang dan hangat. Aku yang baru masuk ke ruangan saat mereka berdua sudah duduk manis di kursi tamu dengan meja bulat di ruangan PR Tel-U, melihat pendekatan mereka ini dari tawa riang yang meledak dari pintu kaca berlabel “Tarik” itu.

Di ruangan sudah lengkap RAF, Rizal, dan Azzah -tim PR Tel-U yang lain- saat aku mulai siap bergabung dengan mereka. Sambil pembahasan mengenai konsep pameran itu berlangsung, aku memandangi layar komputer di meja kerja yang berwarna cokelat muda. Mataku mengarah pada laman Facebook, bersambut dengan jari telunjuk yang menggelindingkan scroll button yang mengakibatkan bunyi khas periferal mouse itu. Pun demikian, telingaku malah peka terhadap kata-kata yang dibicarakan RAF dengan dua orang tamu khusus itu.

Setelah canda tawa yang alot bermunculan di sana, aku mulai mendengar gaya bahasa yang khas untuk mengakhiri percakapan. Seperti yang dicontohkan tamu khusus ini adalah kalimat yang bermakna memberikan suatu pesan tertentu.

“Kalau Bapak ingin nama Tel-U muncul di media massa, jangan ragu untuk menghubungi saya ya, Pak. Untuk acara ini saja, kita sudah kerjasama dengan TV nasional dan swasta -menyebutkan 7 nama stasiun TV-. Pokoknya Bapak jangan ragu ya untuk hubungi saya, Pak agar kita sama-sama menaikkan popularitas Tel-U. Sekali lagi, jangan ragu ya, Pak.”

Kurang lebih itulah kata-kata yang tamu khusus ini sampaikan kepada RAF, dengan penekanan kata jangan ragu sampai tiga kali. Menurutku, ia bermaksud menyampaikan bahwa dirinya punya akses yang kuat dengan media massa sehingga ia dapat menggunakannya untuk keperluan publisitas tertentu. Namun aku cenderung menyimpulkan bahwa tamu khusus ini menduga RAF tidak memiliki akses ke media massa untuk tujuan tertentu yang dimaksud.

“Oh iya, Bu. Terima kasih banyak.

RAF hanya membalasnya dengan penekanan di kata-kata terima kasih.

Tentu saja aku, Azzah dan Rizal saling pandang akibat refleks yang ditangkap indera pendengaran kami ini. Tentu saja senyum manis dengan tiba-tiba terbentuk di bibir manis kami bertiga. Tentu saja demikian karena kami dengan pasti dapat merasakan apa yang dirasakan RAF saat mendengarkan pesan dari tamu khusus itu.

Semenit kemudian, sang tamu pergi meninggalkan sisa air mineral yang menjadi suguhan khas di PR Tel-U. Selepas itu, pintu kaca berlabel “Tarik” perlahan menutup diiringi ledakan tawa yang berasal dari kami, tim PR Tel-U.

Bagaimana tidak tertawa? Padahal kami jelas memahami betul portofolio abadi yang melekat pada barisan nama yang dimiliki RAF lengkap dengan gelar Sarjana Sosial dan Magister Sains di belakangnya.

Peristiwa yang berlangsung hanya kurang dari 5 menit ini kemudian menarik simpatiku dengan apa yang dilakukan RAF kemudian. Setelahnnya, kami berempat di ruangan hanya saling pandang dan tanpa komentar verbal yang disampaikan serta sedikit senyuman dari bibir manis kami berempat.

RAF hanya mengatakan kata-kata tidak penting yang tidak berkaitan dengan peristiwa 5 menit tadi. Ia lalu melanjutkan aktivitasnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena memang di hari itu ia memiliki jadwal mengajar di kelasnya saat tamu khusus tadi menyita waktu mengajarnya kurang lebih 15 menit lamanya.

RAF merupakan seorang profesional. Lebih 15 tahun di media. Portofolionya harusnya dapat membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya. Namun masih ada orang-orang yang mengira dirinya masih “Bau Kencur” untuk urusan publisitas.

Hal yang menarik simpatiku adalah cara RAF yang menyikapi pesan tamu khusus tadi. Dengan kecenderungan makna yang aku tafsirkan tadi oleh tamu khusus itu, RAF berusaha tenang dan tidak terpancing menampakkan “taring” yang dimilikinya. Sebaliknya, ia hanya mengucapkan salah satu dari kata ajaib yaitu terima kasih. 

Lagi-lagi menurutku, sikapnya RAF menunjukkan bahwa seseorang yang berjiwa besar adalah benar seperti yang pepatah kontemporer katakan.

Bagaikan ilmu padi, semakin berisi maka semakin menunduk.

Maka dari itu, hal yang pasti aku ketahui adalah jangan ragu untuk mengucapkan terima kasih. Meskipun kita dianggap sebelah mata oleh orang lain, padahal sebenarnya kita yang memiliki mata indah yang diberikan Sang Pencipta. Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk menjadi orang yang sabar, berjiwa besar dan tentunya menjadi kepercayaan bagi orang disekitar kita.

Renungan ini kemudian terpatri pelan-pelan dalam benakku, saat jarum jam berdetak perlahan. Di terawang lampu biru aqua, aku menyudahi renunganku. DH

Advertisements

4 thoughts on “Jiwa Besar di Tubuh yang Kecil

  1. Luar biasa.. 😀
    “Jangan ragu”, kata-kata itu seperti memukul-mukul jantungku, sengaja memintanya untuk tenang dan tak grasa-grusu..

    Salut, tidak mudah memang mengucap terima kasih saat kita tidak mau menerima ungkapan kasih dari seseorang

      1. eh iya disitu belum diceritain sepak terjangnya pak RAF, coba dikasih contohnya, biar lebih berasa dan orang “ngeh” kenapa kok bisa dibilang padi merunduk ‘)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s