Sarjana Ilmu Komunikasi Untuk Papah dan Mamah

Tanggung jawab sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua, satu-satu mulai diselesaikan. Terimakasih kepada Papah dan Mamah yang tidak pernah henti berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya.

Bandung, DH – Apa lagi yang diharapkan orang tua dari anaknya? Ya, setiap orang tua pada dasarnya ingin anaknya bahagia. dari kecil dirawat, dididik hingga mengerti makna dari kehidupan. Orang tua ingin anaknya sukses dan mendapat pendidikan yang tinggi. Bahkan, orang tua ingin anaknya lebih baik dari pada dirinya sendiri.

Bapak dan Ibu, Papah dan Mamah, Abi dan Umi, apapun kita menyebutnya dua oang ini selalu menjadi malaikat yang nyata dalam kehidupan seorang anak manusia.

Hari Selasa, 2 September 2014 tepat rasanya bila saat itu daftar putar lagu adalah “September Ceria”. Karena pada hari itu, Fakultas Komunikasi & Bisnis Universitas Telkom menggelar sidang yudisium atau sidang akademik. Sidang yang dipimpin oleh Dekan FKB ini tujuannya untuk menetapkan kelulusan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi dan Administrasi Bisnis -program studi yang ada di FKB.

Penetapan kelulusan ini menjadi penentuan secara resmi bagi mahasiswa yang sudah melaksanakan sidang skripsi. Alhamdulillah, Rahmaddhony P.F Hulalata dengan resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.) untuk pertama kalinya.

Ya, perjuangan yang dimulai dari bulan Maret 2014 ini berbuah manis. Skripsi dengan judul “Telaah Kepemimpinan Melalui Semiotika Peirce dalam Film Captain Phillips Karya Paul Greengrass Tahun 2013” ini berhasil mengantar kesukses yang dicapai.

Tentu saja rasa syukur selalu diucapkan kepada Allah, Yang Maha Berilmu dan Maha Membolak-balikkan HambaNya. Hingga perlu rasanya saya ikut mengucapkan terimakasih kepada pembimbing saya, Bapak DKS.

Namun dari itu semua, hanya dua orang yang berhak mendapatkan apresiasi paling tinggi dari saya, yakni orang tua. Papah dan Mamah terimakasih sebesar-besarnya untuk doa yang tidak pernah henti dipanjatkan.

Proses penyusunan skripsi ini seperti analogi “Misi mencapai berlari 5 KM”. Pada jarak 1-3 KM, semangat mulai dari level tertinggi. Masih banyak titik untuk berhenti sejenak sekedar menghela napas, atau menambah tenaga. Pada level ini, harapan masih dengan mudah digapai dengan sugesti “Udah 3 KM, Ayoo semangat!”.

Kemudian masuk pada jarak 4-5 KM. Di sini, kekuatan fisik dan mental sangat diuji. Intelektual saja tidak cukup untuk menghindari rintangan yang ada. Kecerdasan emosional, manajemen kegalauan dan efek ketengan sangat diperlukan pada jarak kritis ini.

Maka dari itu, ketika sampai pada titik akhir, hal yang dapat dilakukan pertama adalah berteriak, “ALHAMDULILLAH”. Tahu rasanya seperti apa? Seluruh badanmu bergetar mulai dari hati menuju ke pundak dan belakang leher. Bergetar karena takjub. Bergetar karena tidak sanggup menangis.

Untuk papah dan mamah, inilah salah satu usaha terbaik anakmu. Menyelesaikan studi S1 dalam waktu yang tepat, empat tahun. Terimakasih banyak, dan gelar ini saya dedikasikan untuk kalian berdua, papah dan mamah. DH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s