Ruh Menulis di Ujung Gerimis

Bandung, DH – Senja ini tepat Hari Selasa (28/10), dimana Sumpah Pemuda menjadi topik utama yang ada di Indonesia. Rutinitas yang biasanya aku lakukan 8 bulan terakhir, mencukupi pengalaman menjadi Public Relations Officer di Kampus Telkom University.

Cuaca hari ini benar-benar menunjukkan kekuasaan Dzat Maha Agung, Allah SWT. Siang hari yang dibuat panas, tiba-tiba diselimuti awan kelabu yang basah. Saking basahnya hingga butir air yang tidak hanya satu jatuh dari langit ke muka pertiwi. Fenomena hujan terjadi siang hingga sore hari.

Aku, mahasiswa yang baru lulus sedang mencukupi pengalaman menjadi Public Relations Officer di Kampus Telkom University, menjalankan aktivitas ke-PR-an seperti biasa; liputan acara. Hiruk pikuk gedung Bangkit (Learning Center) Tel-U tidak menghambat aktivitas social messenger di ponsel pintar ini sepi.

Sore hari yang masih rintik ini, melalui social messenger di ponsel pintar milikku terdapat notifikasi pesan masuk. Isinya dari sebuah kawan yang mengajak diskusi tentang tugas akhirnya. Melihat hiruk pikuk di gedung Bangkit ini yang mulai berkurang, pertemuan terjadi di sudut ruangan di perpustakaan.

Perbincangan retoris mengenai tugas akhir mahasiswa S1 terjadi cukup alot. Namun suasananya terasa apik karena kami memiliki kesamaan dari metode yang digunakan. Maka, keseriusan pembahasan topik ini pun tak dapat dihindari.

Ada banyak masukan yang kami bicarakan. Hantaman solusi dan beberapa ide mengenai tugas akhir pun mewarnai perpustakaan yang didominasi warna biru dan abu-abu itu. Salah satunya adalah bagaimana ide-ide luar biasa ini dan bermanfaat bagi insan pendidikan ini dapat disampaikan dengan luas. Lalu, teringat bahwa aku punya blog yang bukan jurnal sejarah ini.

Tepat di ujung gerimis yang jatuh di muka pertiwi, aku merasa ruh menulis dalam diriku bangkit dan semakin bersinar. Sempat terpikir kebangkitannya berawal dari pancaran cahaya dari wajah kawan ini yang benderang meski sudut perpustakaan itu gelap oleh bayangan. Ahh, hanya pikiran bodoh seorang sarjana ilmu komunikasi.

Lalu, momentum sumpah pemuda ini seakan menjadi pengingat bagi diriku, bahwa ruh menulis yang dulu bersemayam kini mulai bangkit tepat diujung gerimis hari ini. Terimakasih, dan sukses selalu. 😀

Advertisements

3 thoughts on “Ruh Menulis di Ujung Gerimis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s