Roda Dua Diujung Jalan

IMG_5849

Bandung – Indonesia merupakan potensi pasar penjualan motor di Asia Tenggara. Menurut data yang dikutip dari oto.detik.com, pada tahun 2014 ini 70,1 persen penjualan motor di Asia Tenggara berasal dari Indonesia.

Analisa pribadi saya tentu melirik Jakarta dan Bandung adalah kota dengan jumlah pengendara motor terbanyak. Mari lihat contohnya di Bandung saat Ruang Henti Khusus (RHK)  kendaraan roda dua yang ukurannya kurang lebih 36 meter persegi dipenuhi sepeda motor. Bahkan tidak jarang sampai keluar RHK tersebut masih dipenuhi oleh sepeda motor. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah sepeda motor di kota Bandung saja lebih banyak dari jumlah mobil.

Data tahun 2012, seperti dikutip dari bandung.bisnis.com, jumlah sepeda motor dibandingkan jumlah mobil di Bandung saja 1,3 juta berbanding 600.000 unit.

Sudah cukup membayangkan banyaknya motor di kota Bandung? Mari kita pusatkan perhatian pada wilayah yang cakupannya lebih sederhana.

Kemudian saya tertarik pada sebuah Universitas di perbatasan kota Bandung dengan kabupaten Bandung Selatan. Ya, almamater saya Universitas Telkom. Hal mengejutkan saya dapat ketika pagi hari di hari Rabu (18/06) saya melintas pintu masuk motor menuju lokasi kerja di mana saya melakukan magang sebagai Tenaga Lepas Harian.

Memang terpampang pemberitahuan di atas spanduk ukuran 60×50 cm yang berisi “Mulai tanggal 18 Juni 2014, pintu masuk motor melalui samping pos polisi Sukabirus”. Kurang lebih seperti itu informasinya.

Tentu saja mengagetkan. Namun, saya coba ikuti alurnya menuju lokasi kerja tempat biasa saya lewati. Tetapi tidak seperti yang saya ekspektasikan. Bagaikan efek domino, saya mendapati kekagetan yang bertubi-tubi.

Pasalnya, dengan rute halaman parker yang baru, saya sebagai pengendara motor harus masuk melewati pos Polisi Sukabirus. Dan jalan tersebut ternyata langsung menuju halaman parkir motor Masjid Samsul Ulum. Tidak ada akses jalan menuju Gedung F Fakultas Rekayasa Industri, Student Center, Kantin, hingga menuju T-Mart asrama putri.

Mengingat lokasi kerja saya di Gedung Learning Center yang jaraknya sekitar 100 meter dari halaman parkir motor tersebut, saya pun berpikir praktis untuk mencari halaman parkir yang lebih dekat. Tentu dengan alasan efisiensi tenaga dan waktu.

Kemudian saya menuruti logika penjelajah sepeda motor, bahwa ada pintu penjagaan di belakang kawasan pendidikan Telkom. Konon sejak Telkom University masih bernama STT Telkom, pintu tersebut adalah gerbang masuk utamanya.

Namun, perlu diketahui bahwa untuk dapat melewati akses tersebut, saya harus mangambil rute memutar sejauh 200 sampai 300 meter. Melewati Jalan Sukabirus, yang populer disebut sebagai jantung kota mahasiswa Telkom University. Dengan catatan lokasi tinggal saya di Jalan Sukapura, Mangga Dua.

Saya hitung-hitung, melewati rute tersebut saja sudah menyisihkan waktu lima sampai dengan 10 menit dengan kondisi jalan yang relative lancar dan kecepatan sedang. Lalu, tujuan efisiensi waktunya di mana?

Ternyata masih ada akses jalan yang lebih singkat tanpa harus memutar. Dari lokasi tinggal saya, di ujung Jalan Sukapura sudah dibangun akses jalan sepanjang kurang lebih 100 meter menuju Bandung Techno Park, Telkom University Convention Hall, dan Menuju Asrama Telkom.

Ya, kenapa tidak mengambil jalur ini?

Sederhana, pembangunan masih berlangsung sejak awal tahun 2014 yang ditargetkan akhir Desember ini akan rampung. Artinya, pembangunan mendatangkan alat berat yang berton-ton beratnya. Askses jalan menjadi rusak dan sulit untuk dilalui pengendara motor seperti saya. Bisa hanya akan penuh resiko, mulai dari licin jika hujan hingga berlumpur.

Mengapa diterapkan kebijakan parkir motor tersebut?

Saya tidak dapat menjawabnya. Karena tentu saya bukanlah pihak pengambil keputusan di kampus ini. Namun, berdasarkan pemikiran logis dan hasil diskusi dengan salah satu pengendara motor yang juga karyawan di salah satu unit di kampus ini, bahwa kebijakan tersebut hanya menguntungkan mereka yang mengendarai mobil.

Tentu karena parkir mobil lebih mudah, karena masuk dari pintu utama masuk kawasan pendidikan Telkom, dimana gedung Learning Center tempat saya bekerja terlihat dengan jelasnya.

Kami mencetuskan sebuah ide bahwa kebijakan ini seperti mata pisau, tajam di bawah namun tumpul di atas. Dimana orang-orang seperti saya yang mengendarai motor adalah bagian bawah pisau yang menjadi korban kebijakan rute parkir motor yang baru ini. Sedangkan orang-orang atas yang diindikasikan dengan orang yang mengendarai mobil merasakan tumpulnya kebijakan baru tersebut.

Bisa jadi kebijakan tersebut ditetapkan melihat jumlah motor di kampus ini begitu banyak sehingga sering munculnya parkir-parkir liar. Yang tentu saja mengkhawatirkan dan mengundang bagi kejahatan pencurian kendaraan bermotor. Atau, memang benar hanya sebagai pembuktian bahwa pisau para pengambil keputusan sudah tajam ke bawah.

Namun pada akhirnya, saya tentu tidak berusaha mengagitasi pembaca terhadap kebijakan baru ini. Saya hanya perlu mengingatkan bahwa menghadapi segala peraturan yang diterapkan institusi di masa transformasi harus disikapi dengan bijak.

Bagi anda pengendara motor, berikut ini saya coba berikan contoh bijaknya menyikapi keputusan tersebut.

  1. Jika lokasi yang hendak dituju berada di Gedung A-B Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Gedung C-D Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Gedung Fakultas Ilmu Terapan, Gedung Fakultas Industri Kreatif, dan Gedung Telkom University Convention Hall, tidak perlu khawatir karena akses parkir mudah dan terdapat di masing-masing gedung tersebut.
  2. Jika lokasi yang hendak dituju berada di Bandung Techno Park, dan asrama putra akses jalan juga tidak terganggu karena merupakan salah satu nadi dari akses jalan menuju kawasan pendidikan Telkom.
  3. Jika lokasi yang akan dituju berada di Gedung Asrama Putri, Gedung Learning Center, Gedung L Kemahasiswaan, parkirkan saja di Gedung Fakultas Ilmu Terapan. Hanya perlu berjalan sekitar 100 – 150 meter. Pilihan kedua, menembus akses jalan yang terkena dampak pembangunan dengan resiko licin dan berlumpur untuk menuju lokasi parkir di T-Mart asrama putrid.
  4. Jika lokasi yang hendak dituju berada di Masjid Samsul Ulum, Gedung Fakultas Rekayasa Industri, Gedung Fakultas Teknik Elektro dan Gedung Fakultas Informatika serta Kantin dan Student Center, akses jalan baru menuju parkir motor merupakan pilihan yang tepat.

 

Terimakasih dan saya sangat terbuka dengan kritik dan diskusi ya. (DH)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s