Surat Terbuka untuk Papa dan Mama

Bandung, Mei 2014

Assalamualaikum wr. wb.

Dear Papa dan Mama,

Sepertiga malam ini anakmu terbangun ditengah dinginnya Kota Kembang. Hanya ada suara jarum jam dan suara keyboard notebook –yang Papa Mama belikan untukku- yang saling beradu ketika tangan anakmu ini mengetikkan Surat Terbuka untuk Papa dan Mama.

Papa dan Mama yang selalu ada di hati,

Anak bungsumu kini sudah besar. Sudah dewasa. Kini mulai dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Anakmu ini sudah mulai membangun impian dan sedikit demi sedikit mulai mencoba mewujudkan impiannya.

Papa dan Mama yang selalu dicintai,

Hidup di perantauan bukanlah hal yang mudah. Benar,  Grup Band di jaman Papa dan Mama, God Bless yang  menyanyikan lagu “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri..”, benar mengatakan demikian. Tapi kini anak bungsumu yang (berbadan) besar tengah berada di tanah orang, bukan di rumah Papa dan Mama. Berbicara perantauan, Papa dan Mama adalah ahlinya, puluhan tahun yang lalu Papa dan Mama sudah mengetahui makna dan pentingnya hidup.

Menyebrangi sungai dan rel kereta demi menempuh pendidikan sekolah, di saat teman-teman Papa dan Mama menikmati selasar jalan raya dengan roda empat yang empuk. Mencari pekerjaan halal demi mencukupi kebutuhan hidup. Hingga bertahan hidup di tengah kesederhanaan yang selalu menjadi kawan baik Papa dan Mama.

Setidaknya cerita-cerita tersebut di atas yang aku ingat setiap engkau berbagi cerita kepada anak-anakmu.

Papa dan Mama yang tidak pernah lupa disebut dalam doa,

Setiap anak adalah seseorang yang merasa paling beruntung hidup di tengah-tengah kasih sayang orang tua. Termasuk aku, anak bungsumu yang kini tengah tumbuh dewasa. Mungkin Allah yang Maha Mengetahui, berapa kali nama engkau disebut dalam doa-doaku pada Allah di setiap kesempatan. Sesungguhnya tidak pernah sekali-kali doaku lupa menyebut engkau, Papa dan Mama. Karena sejak kecil engkau menyuruh dan mengantarku untuk mengikuti pengajian di masjid dimana nilai-nilai agama diajarkan lebih daripada sekolah formal yang aku ikuti.

Papa dan Mama yang tidak mungkin aku lupakan,

Aku adalah anak bungsu. Allah menitipkan 3 orang anak kepada engkau. Yang berarti aku memiliki dua kakak kandung. Meskipun tidak ingat kapan pertama kali aku memanggil mereka “kakak…”, tapi aku selalu bersyukur memiliki kakak yang juga punya impian seperti aku dan anak-anak lain di dunia.

Aku selalu bersyukur meski aku lupa berapa kali kami saling bersenda gurau di halaman rumah. Aku selalu berdoa untuk kebaikan mereka, meski aku lupa kapan terakhir kali kami saling memberikan pelukan yang hangat dan mesra.

Papa dan Mama yang selalu dicintai Allah,

Kedua kakakku, anak-anak engkau juga, adalah produk keberhasilan pendidikan tegas, disiplin nan perhatian. Ya, engkau mengajarkan kami agar menjadi pribadi yang kuat, dan bisa menjalani hidup di jalur yang baik. Engkau yang menasihati kami untuk;

Berikan saja anak sebuah pensil, biar ia raut sendiri dan menulis apa yang ia inginkan…

Masih jelas dan selalu terpatri dalam ingatanku mungkin juga ingatan kedua kakakku.

Papa dan Mama yang aku kagumi,

Tidak ada satu keluargapun yang hidup di dunia dengan penuh kebahagiaan tanpa dilema dan dialektika. Kalaupun ada, pasti hanya skenario hiburan masa kini, FTV. Kita hidup insyaallah selalu dicintai Allah, wujudnya adalah ujian kesabaran.

Keluarga di sisi dunia manapun mungkin lebih berat ujian yang dilalui. Kita harus selalu bersyukur, atas segala rejeki yang Allah titipkan melalui engkau maupun kami, anak-anakmu.

Kita harus selalu sabar, atas segala ujian kesabaran yang Allah berikan, karena Ia tengah mencintaik keluarga kita. Insyaallah.

Papa dan Mama yang aku ingin kalian datang di Resepsi Wisudaku,

Maafkan segala bentuk perlakuan kedua kakakku, anak-anakmu. Jika menurut engkau perilaku mereka adalah kesalahan dan kesombongan.

Anggaplah bukan aku yang berbicara, namun pandangan orang umum akan menilai hal yang baik dengan alasan, “Mereka sedang belajar kehidupan, senangnya…”

Maafkan segala bentuk perlakuanku, jika menurut engkau perilaku yang aku berikan merupakan kesombongan atas pribadiku.

Jika aku diberikan kesempatan menjelaskan, aku dan kedua kakakku sedang belajar kehidupan, dimana engkau, Papa dan Mama sudah pernah melaluinya. Namun, kami ingin juga merasakan sendiri bagaimana sebenarnya hidup itu.

Hingga nantinya, aku, dan kakak-kakakku bisa memberikan hal baik yang engkau doakan setiap malam. Ijinkan aku menyampaikan, Papa dan Mama lebih banyak berdoa yang baik untuk kami, dan sabar menunggu produk-produk keberhasilan engkau berdua, menjadi sukses dan tidak lupa akan apa yang engkau lakukan pada kami ketika kami kecil dulu.

 

Salam Cinta,

DH.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s