Pindahan: Awali dengan Menyebut Nama Tuhan

Bandung – “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” QS Al-‘Alaq: 1-3.

Salam hangat. Melalui posting pertama di blog baru ini, juga mengingat firman Allah dalam Al Quran di atas, maka sebelum bercerita panjang kali lebar kali tinggi, saya mengucapkan

Bismillahirrahmaanirrahiim, 

Topik ini sederhana. Sama sederhananya dengan air minum dalam kemasan yang dibeli di warung dengan harga Rp 1500 – Rp 2500 itu. Ya, topik pindahan diangkat karena sesuai dengan pengalaman yang saya alami kali ini.

Kenapa pindahan? Karena orang-orang di kantor tempat saya magang sedang pindahan kantor. Mereka pindahan karena transisi birokrasi yang terjadi di dalam yayasan tersebut. Hal ini membuat saya teringat dengan magang di perusahaan sebelumnya pada tahun 2013 lalu. Di mana saat saya magang, kantor tempat saya magang tersebut juga pindahan karena akan direnovasi.

Selain itu, tiba-tiba saya juga jadi teringat buku novel Raditya Dika yang saya beli untuk pertama kalinya berjudul Manusia Setengah Salmon. Entah dia penulis yang menginspirasi atau memang kejadiannya kebetulan dengan saya. Hal yang sama antara saya dan Raditya Dika adalah kesamaannya dengan topik pindahan.

Namun, saya pindahan dari blog satu, ke blog lain.

Saya mengakui diri saya adalah seorang internet addict user sejak mengenal games Age of Empire di tahun 2005. Sejak itu segala perkembangan dan sesuatu yang berhubungan dengan komputer, internet dan teknologi ICT selalu menjadi sajian kedua setelah makan.

Sejak SMP, aktif menulis di Friendster. kemudian mengenal Facebook, Twitter, Instagram, hingga Path yang sekarang menjadi atribut sosialita kekinian. Saat berkenalan dengan jejaring media sosial tersebut, saya dikenalkan juga dengan blog yang -menurut saya- merupakan inovasi buku-buku diary.

Jadi, setelah agak rajin menulis di Blogger, saya tertarik dengan user interface milik Tumblr. Diakui memang antara Blogger dan Tumblr keduanya memiliki user interface yang orang bilang “hightech“. Tapi saya yang kebetulan sudah menjelajah beberapa engine blog yang terkenal merasa dua blog tersebut tidak tepat untuk karakter penulis seperti saya. Maka, setelah berkutat dengan wordpress untuk kebutuhan website media kampus, saya tertarik untuk memiliki wordpress sendiri.

Preambule di atas merupakan pengantar bahwa saya mulai menaruh ketertarikan dengan wordpress. Jadi, enjoy tulisan-tulisan saya ya, sahabat 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s